[Resensi] Belajar Menulis pada Emcho

1019
Cover Buku Karya Much. Khoiri
Wardatul Hasanah

Penikmat Buku & Alumnus Ponpes 
Darul Ulum Pamekasan Jawa Timur

MONITOR – Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari setiap orang. Tidak ada rumus khusus dalam menulis. Selama orang punya keinginan dan mau belajar, maka ia memiliki peluang untuk jadi penulis. Bakat hanya sebatas penunjang dan bukan faktor dominan. Dorongan dari orang-orang terdekat tentu sangat membantu para calon penulis untuk mewujudkan impiannya.

Banyak orang bercita-cita ingin jadi penulis sukses yang karyanya dibaca masyarakat luas. Deretan buku yang terpajang di toko buku offline atau online menunjukkan begitu banyaknya penulis di negeri ini. Namun, berbeda dengan Much. Khoiri—seorang dosen sekaligus penulis produktif ini yang mampu menularkan semangat menulisnya kepada orang lain. Tidak saja melalui buku, Much. Khoiri juga menularkan virus menulisnya melalui seminar, siaran radio, media cetak/online, Facebook dan WhatApp (WA). Alhasil, banyak penulis dan calon penulis yang lahir karena semangat menulis yang ia tularkan.

Buku bertajuk Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi merupakan bukti bahwa virus Emcho itu benar-benar menyebar ke semua kalangan, baik dosen, guru, mahasiswa, pegawai maupun pengusaha. Kumpulan tulisan dalam buku ini sebagian besar berisi pengakuan dari para penulis yang belajar langsung maupun tidak langsung kepada Much. Khoiri.

Pengakuan Agung Kusmantoro, misalnya, yang mengatakan bahwa Emcho adalah penulis yang ahli dalam memasarkan bukunya sendiri yang ditulis. Jarang ada penulis yang bisa melakukan seperti itu. Ia selalu mengajari saya untuk fast writing. Luar biasa. Teknik ini, tidak asal, tetapi sesuai konsep. Bagi saya, Pak Emcho adalah sosok literasi. Unesa harus bangga memiliki dosen yang piawai dalam menulis. Ia adalah guru kita. Sosok yang harus kita teladani dalam menulis (hlm 32).

Penulis dengan kemampuan marketing seperti Emcho ini perlu ditaladani. Artinya, ia tidak hanya piawai merangkai kata-kata menjadi kalimat yang enak dibaca, tapi ia mampu memasarkan hasil karyanya kepada pembaca. Dengan demikian, tidak hanya kepuasan batin yang ia dapatkan tapi juga pundi-pundi rupiah (materi). Memperoleh materi memang merupakan salah satu alasan seseorang menekuni dunia kepenulisan selain untuk berdakwah dan kenaikan jabatan.

Lain lagi dengan pengakuan Eka Sutarmi. Menurutnya, Much. Khoiri sangat menghargai waktu. Beliau adalah orang yang punya jadwal harian yang sangat padat dan punya waktu luang sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada. Kesibukan itu malah membuatnya sangat menghargai waktu. Pak Emcho serasa tidak mau melewatkan sedetik pun waktunya untuk hal-hal yang tidak produktif (hlm 38).

Rahasia Top Menulis (2014), Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015), Write or Die (2017), SOS, Siapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (2016) dan ratusan judul artikel yang tersebar di berbagai media adalah bukti konkret bahwa Emcho adalah penulis yang sangat menghargai waktu karena ia tetap produktif menulis di tengah kesibukannya sebagai seorang dosen dan kepala UPT Pusat Bahasa Unesa.

Tidak ada orang yang tidak sibuk di dunia ini. Dengan begitu, tidak ada alasan untuk tidak menulis. Sebab, para penulis top dan hebat yang bukunya kita baca, pasti mempunyai kesibukan masing-masing. Mungkin lebih sibuk daripada orang yang sama sekali tidak pernah menulis buku.

Buku setebal 187 halaman ini benar-benar inspiratif karena secara khusus memuat sosok Much. Khoiri dengan karya-karyanya yang sangat memukau para penikmat buku. Memang ada banyak buku tentang teknik menulis yang bisa dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan soal menulis, tapi karya-karya Much. Khoiri sangat berbeda karena mampu menggugah siapa saja yang membacanya untuk melakukan hal yang saja—yaitu menulis.