BISNIS

KTNA dan HKTI Tolak Impor Beras

MONITOR, Jakarta – Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) kompak menyatakan tidak setuju dengan kebijakan impor beras di tahun 2018 ini. Ijin Impor beras yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan dengan jumlah mencapai 1 juta ton menggunakan alasan sebagai cadangan beras nasional.

Sikap tegas dua organisasi tani ini terungkap pada diskusi yang diselenggarakan di House Of Rice yang berada di kompleks PT. Pilar Sejahtera, beberap hari lalu, Jumat (13/7/2018). Tema yang diangkat dalam dikusi tersebut yakni “Perkembangan Jaringan Petani dan Kebijakan Beras Nasional”.

Hadir pada diskusi tersebut mantan Kepala
BPS sekaligus Mantan Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, Ketua KTNA Nasional Winarno Tohir, Direktur BPS, Perwakilan HKTI, Agus, dan Direktur Pengadaan Bulog, serta akademisi, Prof. Dwi Andreas Santoso.

Ketua KTNA Nasional, Winarno Tohir menegaskan tidak setuju dengan dasar dan asumsi dilakukannya impor besar yang selalu menyebut karena stok beras nasional menipis.

“Padahal, stok ada di gudang-gudang petani dan tertahan karena harga pembelian petani kurang baik,” tegasnya.

Perwakilan HKTI, Agus dalam diskusi tersebut memberikan usul untuk diterapkannya amnesti data pangan khususnya beras. Beberapa data luas panen yang berbeda antara data yang dilaporkan dan kenyataan perlu ditindaklanjuti dan dicarikan solusinya.

Sementara Rusman Heriawan mengatakan telah terjadi pergeseran persepsi dan kesalahan yang tadinya swasembada pangan menjadi swasembada beras. Tolak ukur di dunia food security index adalah pangan, bukan beras.

“Jadi masyarakat indonesia mispersepsi dan secara tidak langsung dipaksa untuk monokultur mengejar produksi beras. Kalaupun dwikultur itu digiring substitusinya menjadi tepung terigu yang kita tidak ada potensi di dalam negeri,” ujarnya.

Untuk diketahui, dalam diskusi ini terjadi sedikit perdebatan antara Direktur Pengadaan Bulog dengan wacana Prof Andreas terkait data stok yang ada di Bulog saat ini. Angkanya stok Bulog yang dibeberkan oleh Prof. Andreas sangat sedikit atau tidak sesuai dengan data yang ada pada Direktur Pengadaan Bulog dan menjadi pegangan. Bulog mengakui saat ini memiliki stok total sekitar 2,2 juta ton setara beras.

Recent Posts

Menag Harap Halal Bihalal Idulfitri Jadi Momen Syukuri Kedamaian Indonesia

MONITOR, Jakarta - Halal bihalal menjadi salah satu tradisi masyarakat Indonesia pada momen Idulfitri. Menag…

6 jam yang lalu

Peringati Hari Nelayan, Prof Rokhmin harapkan Negara Beri Dukungan Lebih Kuat

MONITOR - Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan yang juga guru besar Fakultas Perikanan dan…

8 jam yang lalu

Jasa Marga Catat 1,1 Juta Kendaraan Kembali ke Jabotabek pada H1 s.d H+4 Libur Idulfitri 1446H

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk. mencatat sebanyak 1.194.225 kendaraan kembali ke wilayah…

11 jam yang lalu

Jangan Tertipu! Semua Biaya PPG PAI Kemenag Ditanggung Pemerintah

MONITOR, Jakarta - Kemenag menegaskan bahwa semua biaya untuk Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pendidikan Agama…

13 jam yang lalu

Sambut Arus Balik Lebaran 2025, Pertamina Patra Niaga Jaga Kelancaran Distribusi Energi di Maluku

MONITOR, Jakarta - Sambut puncak arus balik lebaran, Pertamina Patra Niaga terus memperkuat pemantauan dan…

13 jam yang lalu

Jasa Marga Dukung Penuh Rekayasa Lalu Lintas One Way Nasional Arus Balik dari Arah Timur Via Jalan Tol Trans Jawa

MONITOR, Semarang - Atas diskresi kepolisian, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. mendukung penuh pemberlakuan rekayasa…

15 jam yang lalu