Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 Fahri Hamzah (dok: Rangga Monitor)
MONITOR, Jakarta – Belakangan publik gempar atas beredarnya pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang menyarankan masyarakat agar mengambil suap jelang pemungutan suara pilkada serentak yang jatuh pada 27 Juni 2018 mendatang. Dalam video yang terunggah melalui laman Facebook pada Kamis (21/6) lalu, Prabowo mengatakan sebaiknya masyarakat mengambil suap berupa uang maupun sembako.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah pun angkat bicara. Ia menilai kalau pernyataan Prabowo tersebut tidak bermaksud untuk menyarankan agar masyarakat menerima suap jelang pemungutan suara Pilkada Serentak 2018.
Menurutnya, pernyataan Prabowo hanyalah bentuk suatu kegeraman Prabowo sebab masih maraknya tindakan suap menyuap jelang pemilu.
“Pandangan itu sendiri lebih banyak dilatari kejengkelan beliau yang menyaksikan orang bagi sembako musim pilkada itu masif. Namanya juga orang jengkel kan, udah terima aja sembakonya tapi jangan dicoblos. Namanya itu statement orang jengkel,” kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/6).
Menurutnya, alangkah baiknya apabila tidak ada kegiatan pembagian sembako di musim pilkada. Ia mengusulkan jika sebisa mungkin pembagian sembako itu setelah pilkada. Kata dia, yang kalah ataupun yang menang bagi-bagi sembakolah.
“Yang kalah bagi-bagi sembako untuk introspeksi mengapa kalah, karena kurang dekat dengan orang miskin. Yang menang, bagi-bagi sembako untuk bersyukur didukung oleh rakyat. Gitu dong, harusnya setelah pilkada. Ini menjelang pilkada, kita curiga,” ujarnya.
Untuk itu, ia menegaskan agar pihak penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu lebih ketat dalam memantau segala bentuk dan upaya tindakan yang terindikasi kepada penyuapan dalam masa pemilu.
“KPU dan Bawaslu harus ketatlah. Kayaknya kelihatan masif sekarang, saya membuka medsos pagi tuh, mulai banyak video orang nenteng-nenteng barang-barang begitu,” tukasnya.
Tidak hanya itu, Fahri juga menyebut kalau sekelas Presiden tidak perlu ikut-ikutan lakukan kegiatan bagi-bagi sembako. Sebab, kata Fahri hal tersebut bisa menimbulkan kecurigaan lain yang terindikasi kepada budaya suap-menyuap.
“Termasuk presiden itu. Kalau bisa, janganlah sembako karena ini mau masuk pilkada dan pilpres nanti orang curiga juga sembako itu untuk pilkada dan pilpres. Jadi presiden tolong jugalah hentikan bagi-bagi itu, apalagi pakai gambar burung garuda. Itu kan tidak bagus,” tandas Politisi PKS ini.
MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mulai menyiapkan peta jalan tata kelola Pekerja Rumah Tangga…
MONITOR, Jakarta - Lonjakan kasus penipuan dan penggelapan dana perjalanan ibadah kembali menjadi sorotan serius seiring…
MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan senilai Rp65,2 miliar untuk mendukung pemulihan…
MONITOR, MIRI, SARAWAK - Masa depan akuakultur global tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Marwan…
MONITOR, Jakarta — Tata kelola penyelenggaraan ibadah umrah di Tanah Air mendesak untuk dibenahi secara menyeluruh…