PENDIDIKAN

Staf Khusus Menristekdikti : Tidak ada Radikalisme di Kampus

MONITOR, Jakarta – Peristiwa pengungkapan adanya jaringan terorisme di kampus Universitas Riau (UNRI) yang tengah merencanakan aksi teror di berbagai tempat di Indonesia mengundang keprihatinan banyak pihak. Bagaimana tidak, kampus yang semestinya menjadi tempat persemaian ilmu pengetahuan dan pemahaman wawasan kebangsaan malah berfungsi sebaliknya.

Atas kejadian tersebut, semua pihak kini menyoroti soal terpaparnya kampus menjadi objek penyebaran paham radikalisme.

Menanggapi soal tersebut, Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi Pendidikan Tinggi, Jabidi Ritonga mengatakan tidak ada radikalisme dikampus. Yang ada, menurutnya adalah orang-orang berpaham radikal masuk ke kampus-kampus mencari teman untuk menyamakan pemahamannya tersebut.

Baca Juga : 
Jokowi : Paham Radikalisme tidak ujug-ujug ada
Bersihkan Faham Radikalisme, Kembalikan Organisasi Ekstra Mahasiswa

Sandi Akui 40 Masjid di Jakarta Terpapar Paham Radikalisme

Jabidi menegaskan para Rektor se-Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menolak paham tersebut, Dosen dosen kita semua sudah lulus uji kompetensi, mata kuliah dikampus juga sudah jelas, tidak ada mata kuliah yang mengajarkan paham radikalisme dan terorisme.

“Yang ada, umumnya mereka itu orang orang malas kuliah dan datang dikampus agar diajari oleh dosen-dosen yang benar. kebanyakan dari mereka lebih memilih belajarnya diluar kampus dari media sosial misalnya termasuk dari organisasi yang memiliki ideologi bertentangan dengan Pancasila dan NKRI,” kata Jabidi di Jakarta, Jumat (8/6/2018).

“Ini adalah masalah kebangsaan, dan ancaman bagi kita semua, Bapak Mohammad Nasir, selaku Menteri Risetdikti sangat bekomitmen dalam menangkal penyebaran faham radikalisme masuk kampus. Tidak ada kata toleran, jika ditemukan pimpinan atau dosen dikampus tersebut, akan dikeluarkan dari kampus,” tegas Mantan Sekjen Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa islam Indonesia (PB PMII) itu.

Sama seperti yang sering disampaikan Presiden Jokowi, Jabidi berharap, jangan terkesan semua pihak melimpahkan tanggungjawab menangkal paham radikalisme di kampus hanya kepada Kemenristekdikti, tapi harus bersinergi semua pihak.

“Kami meminta para Rektor dan dosen se-Indonesia juga agar tidak main main, himbauan dari Menristekdikti selama ini harus dijalankan dalam rangka menangkal penyebaran paham radikalisme tersebut, jika tidak, tentu kami juga tidak sungkan mengambil tindakan tegas sesuai dengan UU dan payung hukum yang ada,” pungkasnya.

Recent Posts

Sambut Andrea Bocelli, Hery Haryanto Azumi: Musik Bisa jadi Jembatan Peradaban di Tengah Konflik Global

MONITOR, Jakarta - Musik dapat menjadi ruang perjumpaan lintas bangsa dan budaya ketika dunia diwarnai…

18 jam yang lalu

Menag Dorong Kemandirian Pesantren, Apresiasi Inovasi Ekonomi dan Digital Al Yasini

MONITOR - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memperkuat kemandirian dan…

21 jam yang lalu

Kemnaker Hadirkan Pelatihan Vokasi bagi Masyarakat Terdampak Gempa di NTT

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Kemnaker Peduli Bencana terus memberikan dukungan kepada masyarakat…

2 hari yang lalu

Mahasiswa UID, Sutan Akhyar Rajabi Jadi Pemuda Pelopor Terbaik Depok 2026 Bidang Pendidikan

MONITOR, Depok — Mahasiswa Universitas Islam Depok (UID), Sutan Akhyar Rajabi, berhasil meraih Juara 1…

2 hari yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Ma’had Aly Perlu Diperlakukan Setara dalam Sistem Pendidikan Nasional

MONITOR, Jakarta - Guru Besar Pemikiran Pendidikan Islam Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta sekaligus Pendiri Jaringan…

2 hari yang lalu

Jasa Marga Ajak Peserta P3MD Danantara Rasakan Langsung Bisnis dan Layanan Jalan Tol

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk membagikan pengalaman langsung mengenai pengelolaan bisnis dan…

2 hari yang lalu