HUMANIORA

Rektor UIN Palembang Sebut Tujuh Langkah Cegah Teroris di Kampus

MONITOR, Jakarta – Menanggapi soal tertangkapnga tiga terduga teroris dan temuan bom di Kampus Universitas Riau (UNRI), Rektor UIN, Raden Fatah Palembang Sirozi menegaskan bahwa terorisme bukan soal jumlah atau siapa atau di mana, tetapi soal kemaslahatan bersama.

“Jangankan sebuah kampus, sebuah negara pun bisa hancur lebur oleh tindakan para teroris,” tegasnya,  Minggu (3/6).

Karena itu, Sirozi mengingatkan agar  jangan sampai ada indikasi kelalaian, apalagi keterlibatan perseorangan dan atau lembaga kampus dalam gerakan terorisme. Sebab,  dampaknya akan sangat destruktif dan merugikan semua pihak.

“Kalangan PT, termasuk PTKI, perlu berupaya ekstra keras untuk tidak sedikitpun memberi ruang bagi para teroris untuk berada di dalamnya, walaupun hanya sekedar kongkow-kongkow,” ujarnya.

Sirozi menegaskan pentingnya ikhtiyar dan pendekatan pimpinan PTKI, agar mahasiswa tetap di jalur yang benar, on the right track, dan tidak “tergoda” bujuk rayu para teroris. Menurutnya, ada tujuh langkah untuk mencegah persemaian terorisme di kampus.

Pertama, membangun keakraban dengan mahasiswa. Pimpinan PT dan  mahasiswa harus dekat di hati, tidak hanya dekat secara fisik pada saat pelaksanaan kegiatan.

“Keakraban akan membuat anak-anak mahasiswa terbuka, komunikatif, dan merasa nyaman untuk berekspresi atau curhat,” tuturnya.

Kedua, mainstreaming prestasi akademik dan non akademik. Para mahasiswa perlu diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengejar prestasi, lalu setiap prestasi yang diraih mendapat apresiasi dari para pimpinan PT.

“Dengan cara tersebut, kita mengapresiasi setiap prestasi dan secara perlahan menggeser dan mengusur kegiatan-kegiatan malprestasi,” ucapnya.

Ketiga, ada SOP, pedoman, serta kode etik yang jelas, yang diterapkan secara konsisten, untuk semua kegiatan mahasiswa, agar semua kegiatan mereka di dalam dan luar kampus termonitor, terkendali, kredibel dan akuntabel.

Keempat, ada pendampingan dan pengawasan yang ketat terhadap semua kegiatan mahasiswa oleh para pimpinan yang relevan tupoksinya. Wakil Rektor dan Wakil Dekan 3 harus turun melebur bersama mahasiswa, sambil pasang mata, pasang telinga, dan membuka hati.

Kelima, perlu ada persyaratan dan pengawasan untuk izin pemanfaatan semua sarana kampus, termasuk mushalla dan masjid, agar tidak disalahgunakan.

Keenam, mengevaluasi pelaksanaan dan materi perkuliahan keagamaan kurikuler dan ekstra kurikuler, agar tidak disisipi dan disusupi dengan pandangan keagamaan intoleran.

“Tujuh, menyelenggarakan kegiatan-kegiatan riil, action to action, dalam rangka mainstreaming Islam Wasatiyah, tidak hanya dalam retorika atau postingan WAG atau FGD atau Seminar,” tandasnya.

Recent Posts

Kemenhaj Imbau Jemaah Hemat Tenaga Jelang Puncak Haji

MONITOR, Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia untuk…

6 jam yang lalu

Rusia, Victory Day, dan Mimpi Pax Russica

Oleh: Boy Anugerah* Setiap tanggal 9 Mei, Rusia melakukan “ritual” rutin kenegaraan yang diselenggarakan di Moskow…

6 jam yang lalu

Kemenperin Dukung IKM Ambil Peran dalam Hilirisasi Industri Buah Tropis

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus memperkuat program hilirisasi industri nasional yang tidak hanya menyasar…

6 jam yang lalu

Kemnaker Gelar Seleksi Kerja Penyandang Disabilitas Tuli bersama Dunia Usaha

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan menyelenggarakan seleksi kerja bagi penyandang disabilitas Tuli melalui pertemuan langsung…

6 jam yang lalu

Ramai Polemik Guru Honorer Berakhir Pada 2026, Legislator Usul Solusi Penyelesaian

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PKB Muhammad Khozin menyoroti ramainya polemik…

10 jam yang lalu

Legislator Minta Penanganan Polemik Nobar Film di Ternate Kedepankan Dialog

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin menyoroti pembubaran…

11 jam yang lalu