Categories: EKONOMIENERGI

Demi Iklim Investasi, Presiden Diminta Segera Terbitkan PP Perpajakan Gross Split

MONITOR, Jakarta – Aturan perpajakan baru untuk sekema kontrak bagi hasil minyak dan gas bumi (migas) Gross Split, telah pendapatkan paraf kementerian terkait. Artinya, peraturan yang nantinya membantu investor untuk menghitung nilai keekonomian blok migas dengan sekema gross split tinggal menunggu tanda tangan Presiden Joko Widodo untuk disahkan menjadi Peraturan Pemerintah (PP).

Menurut informasi, kementerian yang telah memberikan paraf tersebut diantaranya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Keuangan.

Dosen Departemen Ekonomika dan Bisnis UGM Fahmi Radhi mengatakan, penting untuk Presiden segera menandatangani aturan perpajakan baru tersebut. Pasalnya, dikhawatirkan keterlambatan respon Presiden akan mengganggu iklim investasi dan produktivitas sektor migas yang belakangan selalu menurun.

"Dengan PP perpajakan gross split, selain menjaga kondusifitas iklim investasi tadi, juga berimbas pada meningkatnya produksi migas kita yang selama ini salalu turun," kata Fahmi saat dihubungi MONITOR, Rabu (27/12).

Terlebih, lanjut Fahmi, tak sedikit investor yang tertarik mengelola lahan migas di Indonesia. Dimana diketahui pemerintah tahun ini tengah melelang 15 blok migas menggunakan penawaran langsung dan reguler dengan batas pengambilan dokumen 24 Desember 2017 lalu. Batas akhir penyerahan dokumen partisipasi lelang pun semakin dekat, yakni 31 Desember 2017.

"Saya khawatir, kalau tahun ini tidak segera ditandatangani (oleh Presiden-red), sampai tahun depan misalnya, maka investor yang sudah mendaftar diri dalam bidding (penawaran) dalam lelang, itu semua akan mundur," tandas mantan Anggota Reformasi Tata Kelola Migas tersebut.

Menurutnya, investor perlu kepastian untuk menghitung margin yang dapat diperoleh dan kelayakan blok migas dari segi ekonomi. Dalam proses tersebut investor juga memperhitungkan masalah perpajakan.

"Salah satu hal penting dalam gross split itu, adalah fasilitas perpajakan . Sementara fasilitas perpajakan tersebut harus ada PP yang saat ini belum ditandatangani oleh Presiden," pungkas Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM tersebut.

Recent Posts

Hasil Ubinan BPS, Panen Padi di Cirebon Tembus 9,2 Ton per Hektare berkat Aplikasi Pureplant

MONITOR, Cirebon - Hasil panen padi petani di Blok Makam Kidul, Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan…

5 jam yang lalu

Stafsus Menag Sambangi Ponpes Hamalatul Qur’an Sukoharjo, Tawarkan Trauma Healing untuk Santri

MONITOR, Sukoharjo – Kementerian Agama (Kemenag) RI menegaskan komitmennya untuk hadir memberikan pelayanan, pembinaan, dan…

2 hari yang lalu

OASE III PTKIN 2026 Resmi Dibuka Menag, Dorong Integrasi Sains dan Nilai Agama

MONITOR, Yogyakarta - Ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam…

2 hari yang lalu

Kementan Percepat Penyerapan Telur, Peternak Mikro dan Kecil Jadi Prioritas

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penyerapan telur ayam ras senilai Rp30 miliar melalui…

2 hari yang lalu

Kementerian UMKM Salurkan Bantuan Alat Produksi untuk Pulihkan Usaha Pascabencana di Aceh

MONITOR, Jakarta - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus mengupayakan pemulihan aktivitas usaha…

2 hari yang lalu

Dari Ketahanan Keluarga hingga Kompetensi Digital, Ini Tiga Tantangan Strategis Penghulu

MONITOR, Tangerang Selatan - Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian…

2 hari yang lalu