MONITOR, Jakarta – Sehubungan masih adanya pelecehan di KRL Commuter Line Jabodetabek, Komnas Perempuan menilai perlu adanya penambahan gerbong khusus perempuan.
Tidak hanya itu, perlunya membangun kesatuan pemahaman masyarakat juga diperlukan untuk menolak sikap melecehkan.
Menurut Wakil Ketua Komisi Nasional Anti kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Budi Wahyuni, mengenai penambahan gerbong lebih karena menjawab persoalan praktis belum yang strategis.
"Jadi artinya memang gerbong itu dibutuhkan, praktisnya ditambahlah di jam-jam yang padat," tuturnya kepada Elshinta.
Tapi pada dasarnya, lebih lanjut ia menambahkan, perlu adanya edukasi terhadap semua pihak dan semua level di masyarakat karena tidak boleh lagi mentolerir hal-hal semacam itu.
"Edukasinya itu juga termasuk bagaimana mengajak masyarakat yang menyaksikan, mengalami, untuk membongkar kasus-kasus seperti ini," paparnya.
Tentunya, ungkapnya lebih lanjut, saat korban atau orang yang menyaksikan hal tersebut ingin melaporkan tentunya juga harus dibarengi dengan bagaimana PT KAI menempatkan atau memperbanyak pos aduan tersebut.
"Di mana PT KAI harus menempatkan pos aduan yang dilengkapi dengan aparat dan petugas yang lebih sensitif," paparnya.
LPM UIN Sunan Kalijaga Berbagi Strategi Implementasi SPMI Berdasarkan Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026 MONITOR,…
MONITOR, Wakatobi - Pengakuan UNESCO terhadap suatu kawasan sebagai cagar biosfer tidak otomatis menjamin keberhasilan…
MONITOR, Cirebon - Hasil panen padi petani di Blok Makam Kidul, Desa Ujunggebang, Kecamatan Susukan…
MONITOR, Sukoharjo – Kementerian Agama (Kemenag) RI menegaskan komitmennya untuk hadir memberikan pelayanan, pembinaan, dan…
MONITOR, Yogyakarta - Ajang Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam…
MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat penyerapan telur ayam ras senilai Rp30 miliar melalui…