Categories: NASIONALPOLITIK

Muhasabah 212

Di era demokrasi seperti sekarang ini, sah-sah saja orang berkumpul untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat sepanjang hal itu dilakukan dengan mematuhi koridor hukum. Maka dari sudut pandang demokrasi acara reuni 212 adalah sebuah keniscayaan yang sah dan di lindungi oleh undang-undang.

Peristiwa 212 merupakan peristiwa yang sangat fenonenal dan hanya bisa terjadi karena kehendak Allah SWT semata. Berkumpulnya jutaan manusia dalam waktu yang singkat di satu tempat dengan tujuan yang sama,  dengan hati yang ihlas semata karena ingin mengungkapkan rasa keimanannya kepada Allah, kecintaannya kepada kitab suci-Nya,  karena merasa ada ikatan emosional yang sangat kuat, mereka terpanggil untuk datang memenuhi "jihad" sucinya.

Sebenarnya dalam sejarah Islam banyak juga peristiwa fenomenal yang terjadi bahkan melebihi dari peristiwa 212, jika kita samakan peristiwa 212 adalah bentuk dari jihad terhadap kezaliman. Pada zaman Nabi ada peristiwa Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan beberapa perang yang lain. Begitu juga pada masa sahabat dan generasi kekhalifahan sesudahnya. Banyak sekali peristiwa yang sangat besar dan fenomenal yang bahkan membawa kepada masa kejayaan Islam. Peristiwa-peristiwa tersebut cukup kita catat dalam sejarah dan tidak pernah terpikir untuk memperingatinya.

Ada satu peristiwa yang kemudian oleh sebagian umat Islam diperingati yaitu peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan tersebut  awalnya diselenggarakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyah dari Tikrit, Irak. dalam rangka untuk menyemangati para pejuang Muslim menghadapi tentara Salib. Tapi peringatan Maulid Nabi tersebut oleh sebagian umat Islam yang lain justru dianggap bid'ah bahkan tidak jarang dijadikan media untuk mengolok-olok bahkan sampai pada penilaian penyesatan.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pemrakarsa acara reuni 212, dan tidak bermaksud untuk menafikan manfaat dari acara tersebut, namun patut kita renungkan bahwa apa yang sudah kita perjuangan melalui peristiwa 212 sejujurnya belumlah seberapa. Sehingga kita jangan sampai terjebak dengan romantisme semata tanpa mau bergerak untuk melihat kenyataan yang sesungguhnya dirasakan dan dibutuhkan oleh umat dan bangsa. Ingat masih banyak pekerjaan rumah yang terbengkalai yang menuntut kita untuk segera kita tangani. Sebagian besar umat Islam masih belum memiliki kehidupan yang layak, tingkat pendidikan yang baik dan masih tertinggal banyak di berbagai bidang yang lain.

Seharusnya orientasi dakwah kita sudah saatnya mulai dirubah, lebih bisa menjawab kebutuhan umat atau dengan kata lain dakwah seharusnya sudah menyentuh pada tindakan nyata (bil hal) tidak lagi  hanya dengan ucapan belaka (bil maqal).

Islam mengajarkan kepada kita untuk menatap ke depan, jangan terus menengok ke belakang. Boleh menengok ke belakang tapi dengan maksud untuk melakukan muhasabah, perbaikan untuk hari esok yang lebih baik.

Yang terpenting dari semua itu adalah memetik nilai dari peristiwa 212 yaitu persaudaraan (ukhuwah), kepedulian, persamaan (musawah), kesadaran hukum, dan lebih dari itu adalah penguatan nilai-nilai kesadaran berbangsa dan bernegara yang tereflesikan dalam komitmen untuk tetap menjaga NKRI dan kebhinnekaan.

Bagi saudara-saudara kami yang memilih untuk tetap mengikuti acara reuni 212 harus kita hormati karena itu adalah bagian dari ikhtiar untuk mengekspresikan aspirasi, kehendak, harapan dan cita-cita bersama. Begitu juga bagi saudara kita yang memilih tidak mengikuti acara reuni 212 harus juga kita hormati karena itu adalah pilihan yang pasti memiliki argumentasi. Yang terpenting jangan ada anggapan dan stigmatisasi kalau yang ikut dianggap yang paling membela Islam sementara yang tidak ikut dinilai sebaliknya.

Persaudaraan, perdamaian, cinta dan kasih sayang antar sesama harus menjadi landasan kita bersama.

Recent Posts

IPW Adukan Dugaan Intimidasi dan Pembubaran Ibadah Jemaat GKPI ke Bareskrim

MONITOR, Jakarta - Indonesia Police Watch (IPW) melalui Tim Advokasi dan Bantuan Hukumnya mengadukan dugaan…

7 jam yang lalu

STAI Syekh Manshur Dorong Transformasi Pendidikan Islam Menuju Ekosistem Pendidikan Berdampak

MONITOR, Pandeglang - Pendidikan Islam dinilai perlu bergeser dari paradigma pembelajaran yang sekadar berorientasi pada…

7 jam yang lalu

Prof. Ahmad Tholabi Kharlie: Amandemen Konstitusi Harus Menjadi Langkah Terakhir dalam Menata Desentralisasi

MONITOR, Tangsel - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.H.,…

11 jam yang lalu

Kemenhaj Buka Opsi Maskapai Alternatif untuk Tekan BPIH 2027

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membuka opsi penggunaan maskapai alternatif dalam…

14 jam yang lalu

Rekor Pendaftar Terbanyak: 3.420 Abstrak Bersaing Ketat di AICIS+ 2026, 384 Naskah Lolos Seleksi

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Direktorat…

17 jam yang lalu

Kemnaker Minta Peserta MagangHub Batch 2 Tertib Administrasi

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meminta peserta MagangHub Batch 2 Angkatan II tertib memenuhi…

18 jam yang lalu