Impor Kapas Masih Jadi Pilihan Pelaku Industri Tanah Air

MONITOR, Jakarta – Impor kapas masih menjadi pilihan para pelaku industri tekstil tanah air. Hal tersebut akibat mandeknya produksi kapas di dalam negeri.

Ketua, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengatakan, hampir 100% kebutuhan kapas dalam negeri diimpor dari Amerika Serikat, Brazil dan Australia. Total kebutuhan itu mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun.

"Sebenarnya di Indonesia bisa tumbuh, namun kualitasnya tidak baik karena ada karakteristik dari kapas, di mana tidak boleh terkena air saat berbuah. Di Indonesia sulit karena hujan susah diprediksi," ujar Ade di Jakarta, pada Rabu (6/9).

Ade menambahkan, bahwa produksi kapas dalam negeri masih kalah dibanding produksi kapas negara-negara lain.

- Advertisement -

"Produksi kapas Indonesia setiap hektar hanya menghasilkan 40% dibandingkan produksi kapas Amerika Serikat dengan luasan yang sama. Kemampuan memasok kapas dalam negeri hanya mampu mencapai titik paling tinggi sebesar 4% dari kebutuhan," tambah Ade.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, secara nasional, kebutuhan bahan baku tekstil katun yang berasal dari kapas sekitar 42% dari seluruh produksi tekstil nasional. Tekstil sintetis masih mendominasi dengan kisaran 50%, dan sisanya adalah tekstil rayon.

Sementara itu, kebutuhan kapas sebagai bahan baku tekstil nasional saat ini tidak mengalami peningkatan karena tergantikan oleh polyester dan nilon yang harganya cenderung lebih murah. Pabrikan pun juga lebih banyak yang mencampur kapas dan polyester sebagai bahan baku tekstil.

Saat ini, harga kapas berada di kisaran 52 sen poundsterlin per pon. Adapun, nilai impor kapas Indonesia mencapai US$1 miliar tiap tahun. Kapas banyak digunakan untuk produksi pakaian dalam, kaos kaki, dan denim.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER