Categories: BERITAMEGAPOLITAN

Ini Tanggapan DPRD DKI soal Debat Panas Anggaran RPTRA

MONITOR, Jakarta – Rapat Kebijakan Umum Perubahan Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUPA-PPAS) antara DPRD DKI dan eksekutif menuai polemik. Hal ini membuat Sekretaris Komisi A DPRD DKI Jakarta Syarif memilih Walk Out dalam rapat tersebut. 

Menurutnya dalam rapat tersebut,  Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD), Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, serta para wali kota.

Pasalnya, anggaran pengadaan lahan RPTRA dihapus dari KUA-PPAS APBD 2017 oleh Bappeda DKI Jakarta, alasannya ada kesalahan jajaran wali kota dalam memasukkan nomenklatur hingga salah kode rekening.

"Kemarin malam 11.30 (WIB) saya Walk out (WO) karena Saya tidak menerima alasan dari Bappeda yang menurut saya tidak tepat dan mengada-ngada," kata Syarif kepada wartawan. Minggu (27/8).

Menurut Syarif, alasan Bappeda dan wali kota terlalu mengada-mengada, pasalnya anggaran pengadaan lahan di tiap wali kota sudah dibahas sejak 2016 dalam rapim bersama mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Akhirnya keputusan gubernur yang menegaskan wewenang wali kota dalam hal pengadaan tanah.

"Setelah saya tantang untuk perbaikan satu hari sebelum ketok palu, saya koordinasi dengan PPAD dan Bappeda, (mereka) siap diperbaiki, tapi kemudian nggak sepakat lagi di banggar pleno nya, mereka lain lagi alasannya karena waktunya pendek,"  ungkap Syarif. 

Menurut Politisi Gendrinda itu, setelah APBD DKI 2017 disahkan, jajaran wali kota seharusnya mulai mencari dan melakukan pembebasan lahan untuk RPTRA. 

Sementata pada Mei 2017, ada perubahan Kepgub yang isinya merevisi kode rekening dari Kepgub yang lama. Pada Juli 2017, anggaran pengadaan lahan untuk RPTRA justru dimatikan.

"Nah saya tanya, itu keputusan penganggaran kan Desember 2016, lalu Januari turun DPA (Dokumen Pelaksanaan Anggaran), dari Januari sampai Mei ngapain aja tuh wali kota, baru sadar kalau itu salah nomenklatur dan nomor rekening," terang Syarif.

Selain itu, ia menjelaskan, akibat dari saling melempar tanggungjawab antara Bappeda dan wali kota, rapat banggar sempat deadlock, dan diskors, hingga akhirnya ia memutuskan WO.

"Saya agak keras berdebat di banggar itu, tiga kali deadlock, diskors, diberikan komisi yang lain bahas lain bahas, sudah selesai saya maju berdebat lagi deadlock lagi sampai capek kali pimpinan banggar jam 11.30 dia maksa ketok, saya WO," tandas Syarif

Recent Posts

JPPI: SPMB 2026 Masih Gagal Menjamin Hak Pendidikan Anak

MONITOR, Jakarta – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 kembali menuai kritik. Jaringan Pemantau…

9 jam yang lalu

Kampanye Produk Dalam Negeri, Kemenperin Ajak Masyarakat Pakai Peralatan Sekolah Lokal

MONITOR, Jakarta - Menyambut tahun ajaran baru 2026/2027, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengajak masyarakat untuk semakin…

12 jam yang lalu

Gus Hery Silaturahim ke Murid Langsung KH Hasyim Asy’ari, Mohon Doa Restu Ikhtiar Maju sebagai Ketua Umum PBNU

MONITOR, Bangka Belitung – Suasana hangat dan penuh kekhidmatan menyelimuti kediaman Mbah Sarmidi Mangunwilogo Cokrodiningrat,…

13 jam yang lalu

Komisi II DPR Sebut RUU Adminduk Pertegas Transformasi Layanan, NIK Akan Jadi Identitas Tunggal

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi II DPR RI Muhammad Khozin mengungkap bahwa Rancangan perubahan UU…

15 jam yang lalu

Masa Depan Indonesia Ditentukan oleh Keberanian Mengubah Paradigma Pembangunan dari Eksploitasi SDA ke Blue Economy

MONITOR, Banjarmasin - Masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian mengubah paradigma pembangunan dari ekonomi…

16 jam yang lalu

MoU Penghentian Perang AS-Iran Dinilai Rapuh

MONITOR, Jakarta - Analisis Dunia Islam dan Timur Tengah (Timteng) Mahfuz Sidik mengatakan, seluruh negara…

17 jam yang lalu