Categories: EKONOMIENERGI

Begini Perjuangan Masyarakat Desa Busua Sebelum BBM Satu Harga

MONITOR, Halmahera Selatan – Masyarakat Desa Busua, Kecamatan Kayoa Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara mengakui kesulitan dan membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebelum beroperasinya lembaga penyalur program BBM Satu Harga yang dicanangkan Pemerintah di tempat tersebut. Warga bahkan terkadang membeli BBM dari Pulau Bacan, yang jaraknya dari Kayoa Barat ditempuh dengan perjalanan laut selama 4 jam.

"Sebelumnya, kami mendapatkan (BBM) di Bacan seharga Rp 9.000 per liter. Kalau dijual di sini (Kayoa Barat) bisa Rp12.000 per liter untuk Premium. Harga itupun kalau stoknya banyak," ujar mantan Kepala Desa Busua, Ikram Syamsudin, seperti dilansir esdm.go.id, Sabtu (26/8)

Bahkan Ikram menambahkan harga tersebut akan melonjak lebih tinggi apabila stok BBM di Pulau Bacan kian menipis. Meski begitu, ia mengakui SPBU Bacan tidak membatasi pembelian dari masyarakat luar Bacan. "Yang penting siapa cepat, dia dapat," ungkapnya.

Untuk pergi ke Kecamatan Bacan sendiri, masyarakat harus menempuh waktu kurang lebih selama 4 jam melalui jalur laut. "Jauh juga perjalanan naik motor kayu. Kalau berangkat pagi jam 8 sampai di sana jam 11 atau 12," jelas Meri (43 tahun) yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan.

Selain itu, biaya perjalanan ke Pulau Bacan menghabiskan uang sebesar Rp 100.000. "Itu punya tiket Rp 100.000 per kepala," imbuh Meri.

Sementara itu, Anwar (40 tahun) mengaku hampir 3/4 pendapatan harian hasil menangkap ikan hanya untuk membeli BBM. "Penjualan ikan sekisar Rp 13.000 per kilo (kg). Rata-rata dapet ikan 8 kilo. Hanya sisa Rp 40.000 setelah beli BBM," jelas Anwar.

Di sisi lain, mantan Kepala Desa, Ikram juga menceritakan kronologi berdirinya SPBU Kompak di Bosua yang merupakan inisiatif dirinya saat masih menjabat menjadi kepala desa. "Saat itu, ada petugas mengurusi pembebasan lahan terus kami hibahkan lahan (SPBU) supaya membantu warga," tuturnya.

Hal itu diakui oleh pemilik SPBU Kompak, Irsan (35 tahun). "Pemilihan di sini (Busua) atas inisiatif kepala desa di sini. Kenapa di sini karena ada beberapa desa yang mudah menjangkau soalnya di tengah," jelasnya.

Nantinya, SPBU Kompak akan melayani 8 (delapan) kecamatan di wilayah tersebut, yaitu Kayoa, Kayoa Barat, Kayoa Selatan, Kayoa Utara, Makian, Makian Barat, Kasiruta Timur dan Kasiruta Barat. Proses pendirian SPBU Kompak sendiri hanya memakan kurun waktu setahun. Namun pembangunannya cukup lama karena pasokan bahan material dari Ternate terkendala faktor geografis.

Recent Posts

40 Guru Madrasah Dapat Beasiswa S1, STAI Syekh Manshur Apresiasi Program Madrasah Gemilang

MONITOR, Pandeglang - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syekh Manshur Pandeglang mengapresiasi Program Beasiswa Madrasah…

12 jam yang lalu

Kemenhaj Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Uzbekistan Lewat Wisata Religi

MONITOR, Tashkent - Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf mendorong penguatan hubungan Indonesia…

14 jam yang lalu

Wakili Megawati Hadiri HUT Demokrat, Rokhmin Dahuri: Persatuan Nasional di Atas Kompetisi Politik

MONITOR, Jakarta - Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan Prof. Dr. Ir. Rokhmin…

15 jam yang lalu

Bansos Bukan untuk Judol, SDM PKH Lumajang Perkuat Edukasi PKM

MONITOR, Lumajang - Upaya mencegah judi online (judol) menyasar keluarga penerima manfaat terus diperkuat hingga…

17 jam yang lalu

LPDB Koperasi Perkuat Tata Kelola dan Mitigasi Risiko Hukum untuk Jaga Dana Bergulir

MONITOR, Bandung - LPDB Koperasi terus memperkuat tata kelola, kepastian hukum, dan mitigasi risiko dalam…

18 jam yang lalu

Perkuat Tata Kelola Investasi, Pemerintah Integrasikan Perizinan TKA

MONITOR, Jakarta — Pemerintah memperkuat tata kelola investasi dengan mengintegrasikan pelayanan penggunaan Tenaga Kerja Asing…

18 jam yang lalu