EKONOMI

Dialog Ekonomi Biru China–ASEAN di Hainan, Rokhmin Dahuri dorong Sabang jadi Hub Maritim dan Pusat Pertumbuhan Kawasan

MONITOR, Jakarta – Penguatan kerja sama ekonomi biru antara negara-negara ASEAN dan China dinilai menjadi momentum penting dalam membangun tata kelola maritim kawasan yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.

Dalam forum Dialog Kerja Sama Ekonomi Biru China–ASEAN di Hainan, Tiongkok, Minggu 10 Mei 2026, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan pentingnya menjadikan Sabang sebagai hub maritim strategis yang mampu menghubungkan kepentingan ekonomi, geopolitik, perdagangan, hingga pembangunan kawasan pesisir secara terpadu.

Menurut Prof. Rokhmin, perubahan lanskap ekonomi global saat ini menunjukkan bahwa laut tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang geografis, tetapi telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dunia.

“Karena itu, negara-negara yang memiliki kekuatan maritim dan mampu mengelola sumber daya kelautannya secara modern akan memiliki posisi strategis dalam percaturan ekonomi internasional,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Gus Dur dan Megawati itu mengatakan Indonesia dinilai memiliki modal geopolitik dan geoekonomi yang sangat besar. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi silang antara Samudera Hindia dan Pasifik, Indonesia berada di jalur perdagangan global yang sangat vital.

Salah satu titik paling strategis tersebut adalah Sabang, wilayah yang terletak di ujung barat Indonesia dan berada sangat dekat dengan jalur pelayaran internasional Selat Malaka.

“Sabang memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di jalur pelayaran tersibuk dunia. Ini bukan sekadar wilayah perbatasan, tetapi pintu gerbang ekonomi maritim Indonesia,” ujar Prof. Rokhmin dalam forum dialog tersebut.

Ia menjelaskan bahwa lebih dari sekadar lokasi geografis, Sabang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai simpul logistik internasional, pelabuhan transshipment, pusat industri kelautan, hingga kawasan ekonomi berbasis ekonomi biru.

“Apabila dikelola secara serius dan terintegrasi, Sabang dapat menjadi katalis penting bagi pertumbuhan ekonomi kawasan barat Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” tutur Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.

Prof. Rokhmin menilai selama ini potensi Sabang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, secara strategis kawasan tersebut memiliki peluang besar untuk menjadi pusat distribusi perdagangan internasional yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa.

Dengan semakin meningkatnya dinamika perdagangan global dan kebutuhan efisiensi logistik internasional, penguatan pelabuhan dan infrastruktur maritim Sabang menjadi sangat relevan.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk mempercepat pembangunan ekosistem maritim terpadu di Sabang melalui modernisasi pelabuhan, peningkatan konektivitas logistik, digitalisasi layanan kepelabuhanan, pembangunan industri pengolahan hasil laut, serta pengembangan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas secara lebih progresif.

Selain infrastruktur fisik, Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia maritim yang unggul.

Menurutnya, transformasi ekonomi biru tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan pelabuhan dan investasi industri, tetapi juga harus dibarengi dengan penguatan kapasitas masyarakat pesisir, nelayan, pelaku UMKM maritim, serta generasi muda di sektor kelautan.

Ia menegaskan bahwa konsep ekonomi biru pada dasarnya bukan hanya berbicara tentang eksploitasi sumber daya laut untuk kepentingan ekonomi, melainkan tentang bagaimana laut dapat dikelola secara produktif tanpa merusak keberlanjutan ekosistemnya.

Karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi lingkungan menjadi prinsip utama dalam pembangunan maritim modern.

“Ekonomi biru harus mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Laut tidak boleh hanya menjadi objek eksploitasi, tetapi harus menjadi ruang kehidupan yang dijaga bersama,” ungkap Anggota Komisi IV DPR RI itu.

Dalam forum tersebut, Prof. Rokhmin juga menyoroti pentingnya kolaborasi regional antara ASEAN dan China dalam menghadapi tantangan global sektor kelautan. Tantangan tersebut meliputi perubahan iklim, penangkapan ikan ilegal, pencemaran laut, degradasi ekosistem pesisir, hingga kompetisi geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.

Menurutnya, kerja sama ekonomi biru harus diarahkan pada penguatan riset dan inovasi teknologi maritim, pengembangan energi terbarukan berbasis laut, peningkatan keamanan dan keselamatan pelayaran, serta penguatan sistem perdagangan maritim yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Ia menilai ASEAN dan China memiliki kepentingan strategis yang sama dalam menjaga stabilitas kawasan dan keberlanjutan sumber daya laut. Karena itu, dialog dan kolaborasi antarnegara harus terus diperkuat agar kawasan Asia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi maritim dunia yang stabil dan berkelanjutan.

Dalam perspektif pembangunan nasional, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa pengembangan Sabang juga sejalan dengan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Visi tersebut tidak hanya menempatkan laut sebagai alat konektivitas, tetapi juga sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi nasional di masa depan.

Ia menilai Indonesia selama ini terlalu lama berorientasi daratan sehingga potensi ekonomi kelautan belum berkembang optimal. Padahal, sektor kelautan memiliki multiplier effect yang sangat luas, mulai dari perdagangan, industri, energi, pangan, pariwisata, hingga pertahanan negara.

Karena itu, penguatan Sabang sebagai hub maritim internasional dinilai dapat menjadi simbol transformasi paradigma pembangunan Indonesia menuju negara maritim modern yang mampu bersaing secara global.

Di sisi lain, pengembangan Sabang juga diyakini akan memberikan dampak sosial-ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Aktivitas pelabuhan, perdagangan internasional, industri maritim, serta pariwisata bahari diproyeksikan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan investasi, memperkuat ekonomi UMKM, dan mempercepat pembangunan kawasan Aceh secara lebih merata.

Prof. Rokhmin menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan Sabang membutuhkan sinergi multipihak antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, komunitas masyarakat pesisir, serta mitra internasional.

Menurutnya, pembangunan maritim modern tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus berbasis kolaborasi dan visi jangka panjang.

“Kalau Sabang dibangun secara serius, modern, dan terintegrasi, maka Indonesia tidak hanya menjadi negara yang dilalui perdagangan dunia, tetapi juga menjadi pemain utama dalam ekonomi maritim global,” pungkasnya.

Recent Posts

Kemenhaj Perkuat Layanan Haji Indonesia di Makkah, Pastikan Jemaah Nyaman Jelang Puncak Haji

MONITOR, Makkah - Kementerian Haji dan Umrah terus memperkuat layanan bagi jemaah haji Indonesia di Arab…

4 jam yang lalu

Dirut Jasa Marga Ungkap Strategi Smart Mobility Lewat Travoy dan Umumkan Top 3 Pemenang Jasa Marga | Travoy WOW Case Competition 2026

MONITOR, Jakarta - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono tampil sebagai pembicara…

6 jam yang lalu

Yayasan Pendidikan Islam Adzikra dan Bank Mandiri Santuni 140 Siswa Yatama dan Dhuafa

MONITOR, Depok - Yayasan Pendidikan Islam Adzikra berkolaborasi dengan Bank Mandiri Area Depok menggelar kegiatan…

9 jam yang lalu

Kemnaker Siapkan Pelatihan Agroforestry untuk Perluas Peluang Kerja Warga Garut

MONITOR, Garut — Kementerian Ketenagakerjaan (Kementerian Ketenagakerjaan) menyiapkan pelatihan agroforestry terintegrasi bagi 500 warga Desa Karamatwangi,…

13 jam yang lalu

Mahasiswa Universitas Islam Depok Raih Penghargaan di Ajang International Conference Santri Mendunia 2026

MONITOR - Mahasiswa Universitas Islam Depok, Sutan Akhyar Rajabi, berhasil meraih penghargaan Most Outstanding Participant…

21 jam yang lalu

Waka Komisi IV DPR: Rehabilitasi Sawah Pascabencana Aceh-Sumatera Harus Jadi Strategi Perlindungan Produksi Pangan Nasional

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman memandang langkah Pemerintah…

1 hari yang lalu