MONITOR, Jakarta – Persaingan perusahaan operator telekomunikasi di Indonesia semakin memanas. Kebutuhan masyarakat yang tinggi akan akan jaringan internet, memicu perusahaan-perusahaan telekomunikasi di Indonesia untuk mencuri perhatian masyarakat. Salah satunya dengan melakukan perang harga dan tarif.
Menurut Tulus Abadi, S.H selaku Ketua Lembaga Yayasan Konsumen Indonesia (LYKI), provider komunikasi di Indonesia sudah terlalu banyak. Hal tersebut membuat konsumen menjadi korban persaingan yang tidak sehat.
“Terkait banyaknya jumlah perusahaan telekomunikasi di Indonesia, harus dilakukan konsolidasi”. Ujar Tulus.
Selain itu, Tulus membandingkan Cina dan Indonesia terkait pasar operator telekomunikasi. “Di cina penduduk banyak, operator sedikit. Di indonesia penduduk sedikit, operator banyak”. Terang Tulus.
Permasalahan komunikasi saat ini disebabkan oleh adanya asimetri informasi, edukasi kepada konsumen terlalu minimalis. Seharusnya lebih banyak edukasi secara teknis, tapi justru lebih banyak promosi/marketing.
MONITOR, Makassar — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat ekosistem kewirausahaan daerah melalui…
MONITOR, Semarang - Pengembangan Al-Qur’an Isyarat di Indonesia terus bergerak maju, mulai dari aspirasi komunitas…
MONITOR, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar melantik Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren pertama serta empat…
MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pelindungan Pekerja…
MONITOR, Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meluncurkan hotline pengaduan “Bongkar Mafia Haji dan…
MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendapat penghargaan di bidang pengembangan pariwisata keagamaan. Menag…