Categories: HUMANIORAPENDIDIKAN

PGRI Dukung Program Pendidikan Karakter Kemendikbud

MONITOR, Jakarta – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mendukung program penguatan pendidikan karakter (PPK) yang saat ini tengah dilaksanakan pemerintah. Ketua Umum Pengurus Besar PGRI (PB PGRI) Unifah Rosyidi mengatakan pihaknya juga siap membantu pemerintah merumuskan solusi terbaik jika ada masalah dalam implementasi PPK.

"Kita sangat mendukung implementasi penguatan pendidikan karakter ini, jika ada masalah implementasinya kita siap turut serta merumuskan solusi terbaik. PGRI ingin menjadi bagian dari solusi tersebut," kata Unifah Rosyidi dalam acara halalbihalal PB PGRI dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), di Gedung Guru Jakarta Pusat, Kamis (13/7/2017).

Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan kegembiraannya dengan dukungan PGRI tersebut. Mendikbud menyebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan PGRI adalah mitra, yang harus sering berdialog untuk mencari solusi terbaik pada masalah-masalah pendidikan di Indonesia. "Wajar kalau sesekali berbeda pendapat, yang penting kalau keduanya berangkat dari niat baik pasti ada solusi terbaik," ujar Muhadjir.

Mendikbud mengatakan PPK semata-mata menerjemahkan visi misi kabinet kerja di bidang pendidikan yang tertuang dalam Nawa Cita. "Saya diperintah Bapak Presiden untuk merealisasikan program penguatan pendidikan karakter dimana pada jenjang pendidikan dasar harus 70% porsi pendidikan karakternya," kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut.

Untuk menyukseskan PPK, dibutuhkan komitmen guru sebagai ujung tombak proses belajar mengajar di satuan pendidikan, untuk bekerja keras memajukan pendidikan. Mendikbud mengajak guru dan PGRI menyukseskan PPK untuk masa depan anak-anak Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir kembali menegaskan bahwa Kemendikbud tidak pernah menggagas program full day school. "Yang kita punya itu program PPK, penguatan pendidikan karakter. Sudah kita hitung kalau hari sekolah itu dimampatkan dari enam menjadi lima hari, per harinya hanya ada penambahan satu jam 20 menit saja untuk intrakurikuler," tambah Mendikbud. Jadi tidak benar siswa akan belajar selama delapan jam sehari di kelas, namun akan lebih banyak kegiatan di luar kelas termasuk belajar di madrasah diniyah atau sumber belajar lainnya.

Recent Posts

Menghidupkan Kembali ‘Roh’ Keikhlasan Guru di Tengah Badai Administrasi Digital

Oleh: Zizah Nurazizah (Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang) Dunia pendidikan kita hari ini sedang…

59 menit yang lalu

IPW: Penempatan Razman di Lapas Cipinang Sudah Sesuai Prosedur dan Pertimbangan Medis

MONITOR, Jakarta – Indonesia Police Watch (IPW) menilai polemik terkait penempatan pengacara Razman Arif Nasution…

2 jam yang lalu

Kemenhaj Fokus Kawal 5 Persen Jemaah Haji Terakhir di Madinah, Pastikan Layanan Optimal

MONITOR, Jakarta — Memasuki hari operasional ke-71 penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, Selasa (30/6/2026), Kemenhaj…

3 jam yang lalu

SETARA Institute Kritik Pelibatan Taruna Akmil di Sekolah Rakyat: Jangan Normalisasi Multifungsi TNI di Ruang Pendidikan

MONITOR, Jakarta - Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi, mengkritik kebijakan pemerintah yang melibatkan taruna…

3 jam yang lalu

Puan Dorong Kasus Dugaan Intimidasi Dokter Oleh Anggota DPRD Diselidiki Hingga Tuntas

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menanggapi soal kasus dugaan intimidasi yang dilakukan…

3 jam yang lalu

Puan Pimpin Paripurna DPR, Bahas LHP LKPP 2025 Hingga Persetujuan Naturalisasi 2 Pesepakbola

MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani memimpin Rapat Paripurna DPR RI yang ke-22…

6 jam yang lalu