Rencana Kerja Sama Ekonomi ASEAN+3 Periode 2019-2020 Disepakati

Para menteri mengesahkan APT EC WP untuk periode 2019-2020 yang merupakan tindak lanjut dari program sebelumnya. (sumber foto : www.kemendag.go.id)

MONITOR, Singapura – Para Menteri Ekonomi ASEAN (AEM) dan para Menteri Ekonomi China, Jepang, dan Korea Selatan menyepakati rencana Kerja Sama Ekonomi ASEAN Plus Three (ASEAN+3) periode 2019-2020. Kesepakatan itu dicapai pada Pertemuan Konsultasi AEM Plus Three ke-21, Kamis (30/8) di Singapura. Pertemuan konsultasi ini merupakan rangkaian Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ke-50 yang berlangsung pada 28 Agustus-1 September 2018.

Kesepakatan rencana Kerja Sama Ekonomi ASEAN+3 periode 2019-2020 merupakan bukti komitmen peningkatan kerja sama ekonomi ASEAN+3. Dalam pertemuan tersebut, ASEAN bersama ketiga negara mitra tersebut juga membahas perkembangan pelaksanaan rencana kerja sama ekonomi ASEAN+3 untuk periode tahun 2017-2018 khususnya perkembangan di bidang konektivitas, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta fasilitasi perdagangan.

“Integrasi ekonomi kawasan sangat penting dalam menghadapi kondisi perdagangan global yang berkembang akhir-akhir ini. Indonesia sangat menghargai dukungan negara-negara China, Jepang, dan Korea Selatan untuk terus melanjutkan kerja sama integrasi ekonomi di antara ASEAN+3 dengan disahkannya Rencana Kerja untuk tahun 2019-2020,” jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Para Menteri ASEAN Plus Three(ASEAN Plus Jepang, Cina dan Korea) berdialog dengan East Asia Business Council (EABC) dalam rangkaian ASEAN Economic Ministers (AEMM) Meetings ke-50 pada hari ini (30/8) di Singapura.(sumber foto : www.kemendag.go.id)

Kesepakatan ini, lanjut Mendag, akan dilaporkan ke Kepala Negara ASEAN+3 pada KTT ASEAN+3 di bulan November 2018 sehingga dapat mulai diimplementasikan pada 1 Januari 2019.

Selain itu, pada pertemuan tersebut para menteri sepakat melakukan studi bersama “10+3 Cooperation for Improvement of Supply Chain Connectivity (SCC) sebagaimana yang diusulkan China. Studi bersama ini akan diluncurkan pada KTT ASEAN+3 bulan November 2018.

Para Menteri juga menyambut baik rencana pelaksanaan “China International Import Expo” pada 5-10 November 2018 di Shanghai, China dan Seminar “ASEAN+3 Anti-Counterfeit Goods” yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2019 di Thailand. Para Menteri sepakat untuk bersama-sama berpartisipasi dan menyukseskan kedua kegiatan tersebut.

“Indonesia siap mendukung dan berpartisipasi dalam setiap kerja sama ASEAN+3 yang dapat meningkatkan perekonomian Indonesia, mendorong integrasi ekonomi regional, dan memperluas sinergi antarwilayah. Kami yakin dengan berkontribusi secara aktif, maka seluruh negara dapat membangun platform yang dapat meningkatkan inklusivitas, keterbukaan, dan kerja sama di kawasan ini,” tandasnya.

Pada tahun 2017, total perdagangan negara ASEAN+3 secara meningkat 16,1% menjadi USD 807,3 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 31,6% merupakan total perdagangan barang ASEAN. Kerangka kerja sama ASEAN+3 ini juga memberikan dampak pada arus masuk investasi asing (Foreign Direct Investment) ke ASEAN yang berasal dari tiga negara tersebut. Pada tahun 2017, arus investasi ke ASEAN tercatat sebesar USD 29,9 miliar, atau menyumbang 21,8% dari total arus masuk investasi asing ke ASEAN.