Perundungan dan Keunggulan Akademik Palsu

Oleh : Asep Sapa’at  (Pemerhati Karakter Guru)

MONITOR – Kasus perundungan yang terjadi di kalangan mahasiswa yang viral di medsos sungguh memilukan hati. Mengapa? Karena ini terjadi di kalangan mahasiswa, bukan siswa. Kata ‘maha’ kehilangan makna. Maha mestinya bermakna sesuatu yang extraordinary, menunjukkan kualitas pikir & sikap melampaui para siswa. Jika cara bersikap mahasiswa tak lebih baik dari siswa, apa yang sudah diajarkan dan dididik di rumah, sekolah, & masyarakat kita?

Bicara kasus perundungan, pasti bicara pelaku dan korban. Yang hrs dipahami, posisi pelaku kerap diawali situasi awal dia pernah menjadi korban. Karena tak ditangani tuntas, maka dia menduplikasi perilakunya ke pihak yg dianggap ‘lemah’. Semakin banyak korban perundungan yg gagal diidentifikasi & dipulihkan psikologisnya, maka akan muncul calon pelaku” perundungan berikutnya. Itu artinya, kita makin sulit menyelesaikan soal perundungan karena tak cermat mengidentifikasi akar soal & tepat memberikan solusi.

Hemat saya, ada bbrapa hal esensial yg patut disimak dari kasus perundungan di kalangan mahasiswa.

Pertama perilaku perundungan kerap dilakukan kelompok siswa/mahasiswa. Ada pentolannya, yg lain ikut-ikutan mendukung sang pentolan. Maka, fokus pengajaran & pendidikan adalah membina & membimbing kelompok anak muda tsb. Mempertahankan sikap merundung pihak lain adalah ciri sikap mereka yg lemah, bingung, tidak aman. Mereka hrs dibantu untuk sanggup menerima hal” baru yg positif, seperti menghargai perbedaan, tak merampas hak orang lain, dsb.

Kedua pelaku perundungan cenderung memiliki persoalan dalan hal kedisiplinan. Mereka suka mengabaikan dan melanggar aturan, seperti bolos, tak mngerjakan tugas, melawan nasihat ortu/guru. Prestasi akademik mereka jeblok. Hal ini merupakan pesan tersirat yg gagal dipahami ortu/guru. Sikap ini dianggap pembangkangan. Maka, mereka hrs dihukum. Bahkan kerap terjadi, hukuman dijatuhkan tanpa argumentasi logis yg bisa dipahami anak sbg bagian dari ikhtiar mendidik. Karena ketidakdewasaan ortu/guru, anak yg perilakunya bermasalah malah ‘diasingkan’ bukan diberikan ‘perhatian’ istimewa. Karena ortu/guru lbh nyaman & suka mmperhatikan anak yg baik & berprestasi unggul.

Ketiga dunia pendidikan kita tak berhasil membentuk pribadi anak yg bertanggung jawab. Mengapa? Keluarga & sekolah tak bisa jadi mitra sinergis dalam mengembangkan pribadi anak yg dewasa. Selain karena ortu/guru miskin keteladanan, situasi pengajaran lbh dominan daripada situasi pendidikan. Mengajarkan tentang perundungan itu mudah, tetapi mmbentuk pribadi yg dewasa menyikapi & menghargai perbedaan. Semakin bias nilai” kehidupan di keluarga & sekolah membuat proses mendewasakan pribadi anak makin terjal jalannya.

Keempat pengajaran di sekolah & kampus miskin ‘pengalaman belajar’ & ‘refleksi belajar’ atas setiap pengalaman belajar anak. Anak tak mmiliki kesan mendalam dari setiap proses belajar yg telah terjadi. Alih-alih makin mmahami identitas dari hasil dari proses belajar, anak” malah makin frustrasi karena memersepsikan belajar sbg beban akademik yg menyulitkan hidupnya.

Marilah jadi orangtua & guru yg dewasa menyikapi kasus dalam perundungan di dunia pendidikan ini.

Rawat terus anak” yg memiliki kecerdasan akademik bagus, berikan perhatian lebih intens dan tulus bagi anak” yg tak mmiliki reputasi akademik bagus. Mereka semua punya hak untuk disayangi dan diterima apa adanya. Jangan korbankan anak” demi citra baik sekolah/kampus. Sebaliknya, jadikan lingkungan sekolah/kampus sbg salah satu lingkungan terbaik demi anak-anak kita. Wallahu A’lam