Proyek Banyu Urip Ditargetkan Capai 185.000 Barel per Hari

MONITOR, Jakarta – Kinerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam kurun waktu tiga tahun ini, telah menyelesaikan beberapa proyek migas besar. Salah satunya, proyek Lapangan Banyu Urip di Bojonegoro, Jawa Timur.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi menyatakan, kapasitas proyek Banyu Urip ini direncanakan mencapai 185.000 barel per hari (bph). Proyek ini menggunakan fasilitas Early Oil Expansion (EOE) dan Early Production Facility (EPF).

"Full capacity untuk train A untuk desember 2015, train B untuk 18 Januari 2016, Investasinya US$ 3,38 milyar, kapasitas produksi yang direncanakan 185.000 bph. Produksi yang bisa direalisasikan 200ribu bph," ujar Amien di Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (27/10).

Adapun manfaat proyek ini bagi masyarakat sekitar, seperti membantu keahlian menyangkut bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan usaha kecil. "Bahwa proyek Banyu Urip ini bekontribusi besar pada pelatihan keterampilan untuk pekerja lokal, menyangkut dunia pendidikan, kesehatan, pengembangan usaha kecil, sosial dan ekonomi," terang Amien.

Mantan wakil ketua KPK periode 2003-2007 itu, menuturkan, proyek ini juga membantu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi di daerah Bojonegoro mencapai 19,47 persen.

"Proyek Banyu Urip ini berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Bojonegoro dengan bukti, menurut BPS, dimana pertumbuhan ekonomi sebagian di daerah  Indonesia mencapai 5-6 persen. Untuk daerah Bojonegoro sebesar 19,47 persen," ungkapnya.

Seperti diketahui, capain lain SKK Migas selama tiga tahun ini, juga telah menyelesaikan proyek Lapangan Donggi, Matindo, dan Senoro, Lapangan Jangkrik, serta Lapangan Tangguh Train 3.