Petani Kaki Gunung Sinabung kembali Tanam Bawang Putih demi Mendukung Swasembada

Lahan Tanaman Bawang Putih di Kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo

MONITOR, Karo – Gunung Sinabung salah satu gunung berapi aktif yang berada di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Menurut referensi, Gunung Sinabung meletus pada 2010, 2013, 2014, 2016 dan terakhir 19 Febuari 2018 lalu. Sedikitnya lima desa tertimbun pasir dan dua desa lainnya tergolong red border sehingga ditinggalkan penghuninya.

Namun demikian letusan gunung membawa dampak positif untuk kesuburan lahan pertanian yang berada di sekitar wilayah Gunung Sinabung. Saat melintasi desa sekitar, sudah terasa geliat kehidupan pertanian. Masyarakat sudah kembali melakukan aktivitas bertanam sebagai mata pencaharian.

Kabupaten Karo yang posisinya tepat di kaki Gunung Sinabung menyambut baik pengembangan bawang putih. Pada 2018 kabupaten ini mendapat bantuan penanaman bawang putih seluas 20 hektare. Kebijakan tersebut sangat tepat mengingat pada 1998 daerah Karo ini merupakan salah satu sentra utama penghasil bawang putih di Indonesia.

Lahan Tanaman Bawang Putih di Kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo

Total bantuan benih bawang putih sejumlah 10 ribu kg untuk 20 hektare ini terdistribusi ke para kelompok tani di kecamatan Merek sejumlah 4 hektare, kecamatan Dolat Rakyat 4 hektare, kecamatan Nama Teran 9 hektare, kecamatan Payung 2 hektare, dan kecamatan Berastagi 1 hektare.

“Budidaya bawang putih bukanlah hal asing bagi kami. Kondisi lahan di sini sangat cocok untuk penanaman bawang putih. Tahun-tahun sebelumnya daerah kami adalah salah satu daerah penghasil bawang putih”, ujar Budi Tarigan, ketua kelompok tani Tebing Latersia Desa Batu Karang Kecamatan Payung diamini Jaya Bangun, ketua kelompok tani Barong Pa Minggu.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Adison Sebayang turut mendukung, “Memang betul beberapa daerah di wilayah Karo, terutama daerah di wilayah kaki gunung Sinabung atau wilayah di atas ketinggian 800 meter dpl, adalah daerah yang cocok untuk menanam atau berbudidaya tanaman sayuran dataran tinggi, termasuk komoditas bawang putih”.

Adison menambahkan, “Betapa tidak, karena selain agroklimat yang sangat cocok, juga adanya Gunung Sinabung ini membuat daerah di sekitarnya menjadi sangat subur”. Para petani sangat optimis pertanaman bawang putih dapat berproduksi secara optimal. Mereka berharap budidaya bawang putih dapat memberikan insentif menarik yang tentu saja harus didukung kebijakan pemerintah yang berpihak kepada mereka.

Dalam kesempatan berbeda, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik menyampaikan bahwa beliau sangat mendukung kegiatan-kegiatan on farm yang dapat meningkatkan pendapatan para petani dan membuat para petani bergairah untuk bercocoktanam. Tidak hanya petani bawang putih saja, namun juga para petani hortikultura lainnya.

“Pada 2018, masih di Kabupaten Karo, Ditjen hortikultura mengalokasikan fasilitasi sarana pascapanen berupa bangunan bangsal pascapanen yang diharapkan benar-benar dapat bermanfaat dalam rangka mengurangi kehilangan hasil, memperpanjang umur simpan, meningkatkan mutu produk yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani serta nilai tambah dan daya saing”, jelas Yasid.