MONITOR – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memperkuat kemandirian dan meningkatkan mutu pendidikan pesantren di Indonesia. Menurutnya, pesantren memiliki kekhasan dalam sistem pendidikan yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter dan kedalaman spiritual.
Hal tersebut disampaikan Menag saat mengunjungi Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (10/10/2026). Dalam kunjungan tersebut, Menag juga mendapat pemaparan mengenai berbagai inovasi pesantren, mulai dari pengembangan ekonomi produktif, pelestarian lingkungan, hingga transformasi layanan digital.
Menag menjelaskan bahwa keunggulan pendidikan pesantren terletak pada metodologi pembelajaran yang tidak semata mengandalkan kemampuan intelektual. Tradisi pesantren juga mengajarkan santri untuk mengasah intuisi, melakukan kontemplasi (tafakkur), serta menjalankan penyucian jiwa (tazkiyah) sebagai bagian dari proses menuntut ilmu.
“Di pondok pesantren, tazkiyah dulu baru ta’lim (penerimaan ilmu). Pembelajarannya bukan hanya deduksi akal, tetapi ada intuisi, kontemplasi, dan tazkiyah. Hal itulah yang mendatangkan keberkahan sehingga melahirkan tingkat kedalaman spiritual haqqun yaqin,” terang Menag di hadapan para santri.
Lebih lanjut, Menag menaruh harapan besar terhadap penguatan kelembagaan pesantren melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Kehadiran unit tersebut diharapkan semakin memperkuat dukungan pemerintah dalam memajukan ekosistem pesantren, baik dari aspek pendidikan, kemandirian, maupun pemberdayaan masyarakat.
“Melalui Ditjen Pontren ini, kita berharap agar Kemenag terus bisa lebih mengangkat martabat dan memajukan pondok pesantren di Indonesia, termasuk pesantren Al Yasini,” ucapnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al Yasini, Nanik Asnawati, memaparkan berbagai capaian pesantren yang berdiri sejak 1940 dan kini mengasuh 4.561 santri, terutama dalam penguatan kemandirian ekonomi melalui koperasi dan unit usaha produktif untuk menopang pendidikan serta pemberdayaan masyarakat sekitar.
“Saat ini, Kopontren Al Yasini memiliki 19 unit retail, produk air minum dalam kemasan Al Yasini yang ada di hadapan Bapak, itu adalah milik kami sendiri, serta KSPPS dengan 10 kantor layanan,” papar Nanik.
Berkat pengembangan usaha tersebut, Kopontren Al Yasini berhasil meraih Juara 1 Koperasi Berprestasi Jawa Timur kategori kopontren mandiri serta Juara 1 Santripreneur Nasional kategori perdagangan pada 2026. Keberhasilan itu juga memberikan manfaat langsung melalui berbagai program sosial dan pendidikan.
“Manfaat usahanya disalurkan setiap tahun melalui beasiswa santri tahfidz, santri berprestasi, bantuan seragam, fasilitas belajar, dan sedikitnya 1.000 paket sembako kami bagikan setiap bulan Ramadan, penyaluran hewan kurban, serta bantuan pembangunan dan renovasi fasilitas masyarakat,” ungkapnya.
Selain mengembangkan usaha produktif, Al Yasini juga mengelola wakaf uang dan dana abadi berbasis syariah untuk menopang keberlanjutan pengabdian pesantren. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi yang berorientasi pada kemaslahatan jangka panjang.
Pada aspek lingkungan, Nanik menjelaskan bahwa Al Yasini menerapkan konsep eco-pesantren berbasis ekoteologi melalui pengelolaan sampah, penghematan energi, pemanfaatan tenaga surya, hingga pengembangan biogas. Inovasi tersebut mengantarkan Al Yasini diusulkan menerima penghargaan lingkungan hidup dari Dinas Lingkungan Hidup Jawa Timur.
Al Yasini juga melakukan transformasi layanan berbasis teknologi digital. Inovasi tersebut dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pesantren sekaligus memperkuat keterlibatan orang tua dalam memantau perkembangan santri.
“Dalam menghadapi perkembangan teknologi, kami mengembangkan aplikasi Al Yasini-U untuk memudahkan wali santri memantau kesehatan, kedisiplinan, prestasi, kehadiran, serta perizinan putra-putrinya. Kami juga menghadirkan aplikasi Saku untuk transaksi nontunai berbasis kartu tanda santri, sehingga orang tua dapat mengatur batas pengeluaran anak,” jelas Nanik.
Sebelum mengunjungi Al Yasini, Menag terlebih dahulu menghadiri kegiatan di Universitas Yudharta Pasuruan dan menekankan pentingnya memadukan ilmu pengetahuan dan agama dalam membangun kemajuan peradaban. Selepas dari Al Yasini, Menag melanjutkan rangkaian kunjungannya dengan bersilaturahim ke Pondok Pesantren Mambaus Shalihin, Gresik, Jawa Timur.
Rangkaian kunjungan tersebut menjadi bagian dari perhatian Kementerian Agama terhadap penguatan pendidikan Islam dan ekosistem pesantren. Melalui peningkatan mutu pendidikan, kemandirian ekonomi, dan inovasi teknologi, pesantren diharapkan semakin berdaya, adaptif, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
