MONITOR, Jakarta – Langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang belakangan kembali aktif menyambangi berbagai daerah belum menunjukkan efek berarti terhadap elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli-3 Agustus 2026 mencatat elektabilitas PSI masih bertahan di angka 1,9 persen. Angka tersebut menempatkan PSI di bawah delapan partai politik lain dalam simulasi pilihan partai untuk DPR RI.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, elektabilitas PSI relatif stagnan dalam sekitar satu setengah tahun terakhir. Kondisi itu belum mengalami perubahan meski Jokowi aktif melakukan roadshow ke sejumlah daerah.
“Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo melakukan roadshow ke sejumlah daerah,” kata Dedi saat memaparkan hasil survei IPO di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hingga periode survei dilakukan, aktivitas politik Jokowi belum memberikan dorongan elektoral yang signifikan bagi PSI.
Dikenal Banyak Orang, Dipilih Sedikit
Persoalan PSI menjadi lebih menarik ketika tingkat elektabilitas dibandingkan dengan tingkat pengenalan publik terhadap partai tersebut.
Survei IPO mencatat 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI. Angka itu menunjukkan tingkat pengenalan PSI yang cukup tinggi.
Namun, tingginya pengenalan publik belum otomatis berubah menjadi dukungan politik. Dalam simulasi pilihan partai untuk DPR RI, PSI hanya meraih 1,9 persen.
Ada kesenjangan yang cukup lebar antara tingkat pengenalan dan elektabilitas PSI. Dengan demikian, tantangan PSI bukan semata memperkenalkan partai kepada publik, melainkan meyakinkan masyarakat yang sudah mengenalnya untuk menjadikan PSI sebagai pilihan politik.
Dedi menilai peluang perubahan masih terbuka. Efek dari aktivitas Jokowi bisa saja belum terlihat karena rangkaian roadshow masih berlangsung ketika survei dilakukan.
“Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik,” ujar Dedi.
PSI Masih Berjarak dengan Partai Papan Atas
Dalam simulasi elektabilitas partai politik, Gerindra berada di posisi teratas dengan 17,5 persen. PDI Perjuangan menyusul dengan 12,8 persen, kemudian Golkar 10,4 persen dan Demokrat 8,1 persen.
Di bawahnya terdapat PKB dengan 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen.
PSI berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas 1,9 persen.
Dengan demikian, terdapat delapan partai yang mencatat elektabilitas lebih tinggi daripada PSI dalam simulasi IPO.
Jarak tersebut menunjukkan bahwa tingginya pengenalan publik terhadap PSI belum cukup untuk mengangkat partai tersebut ke jajaran partai dengan dukungan elektoral lebih besar.
Survei IPO menggunakan metode multistage random sampling. IPO terlebih dahulu menentukan Primary Sampling Unit (PSU) pada sejumlah kelurahan/desa, kemudian memilih RT secara acak menggunakan random Kish grid paper.
Pada setiap RT dipilih dua keluarga secara acak. Dari masing-masing keluarga kemudian dipilih satu responden yang memenuhi syarat, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Komposisi responden laki-laki dan perempuan ditetapkan masing-masing 50 persen.
Survei berlangsung pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen. (*)
