MONITOR, Jakarta — Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa santri tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Santri harus mengambil peran aktif dalam pembangunan dan ikut menentukan arah masa depan Indonesia menuju era Indonesia Emas.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat memberikan arahan dalam Kick Off Hari Santri 2026 di Cosmo Amarosa Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (22/9/2026).
Menurut Nasaruddin, semangat Hari Santri harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai perjuangan yang diwariskan para ulama dan santri dalam sejarah bangsa. Ia mengingatkan bahwa santri memiliki hubungan erat dengan sejumlah peristiwa penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Salah satunya adalah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan para kiai dan ulama. Menurut dia, seruan tersebut mampu membangkitkan keberanian dan menggerakkan para santri serta masyarakat untuk mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Suara para santri pada waktu itu adalah suara perjuangan. Suara para kiai, suara para ulama, suara yang mampu membangkitkan keberanian,” ujar Nasaruddin.
Ia menilai energi perjuangan yang lahir dari kalangan ulama dan santri menjadi bagian dari perjalanan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan.
Karena itu, Nasaruddin mengajak generasi saat ini untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil pelajaran dan melanjutkan perjuangan tersebut sesuai tantangan zaman.
“Kita harus cerdas membaca sejarah. Kita harus cerdas menyikapi sejarah. Dan yang paling penting, kita harus mampu membuat sejarah,” katanya.
Nasaruddin juga mengutip pesan Presiden Soekarno tentang pentingnya sejarah melalui ungkapan “Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Namun, menurutnya, generasi penerus tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca dan mengingat sejarah.
“Kita tidak hanya berhenti pada membaca sejarah. Kita tidak hanya berhenti pada mengingat sejarah. Kita juga harus mampu membuat sejarah,” tegasnya.
Santri Harus Siap Hadapi Tantangan Zaman
Menag mengatakan pembangunan bangsa harus dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, generasi penerus, termasuk yang lahir dari lingkungan pesantren, harus dipersiapkan secara matang.
Ia berharap pesantren mampu melahirkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, semangat perjuangan, sekaligus kemampuan menjawab tantangan zaman.
“Santri tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Santri harus menjadi bagian dari pembangunan bangsa. Santri harus ikut menentukan masa depan Indonesia,” ujar Nasaruddin.
Pesantren, lanjut dia, tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang memahami agama. Pendidikan pesantren juga harus membentuk generasi yang memahami kehidupan, memiliki karakter, serta mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
“Generasi yang bukan hanya memahami agama, tetapi juga memahami kehidupan. Generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter. Generasi yang tidak hanya menjadi penerima sejarah, tetapi mampu menjadi pembuat sejarah,” katanya.
Kemenag Buka Ruang Kontribusi Pondok Santri
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menyinggung keberadaan dan masa depan Pondok Santri sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam.
Ia menegaskan Kementerian Agama terbuka terhadap kehadiran dan kontribusi Pondok Santri, termasuk dalam pengembangan pendidikan Islam.
“Kementerian Agama sangat-sangat siap untuk menerima kehadiran dan kontribusi Pondok Santri,” ujarnya.
Namun, Nasaruddin menekankan pentingnya distingsi atau kekhasan antara lembaga pendidikan Islam yang sudah ada dengan Pondok Santri.
Menurut dia, Pondok Santri harus memiliki identitas, keunggulan, serta kontribusi yang jelas sehingga tidak sekadar mengulang model lembaga pendidikan yang telah ada.
“Jangan sampai Pondok Santri hanya menjadi pengulangan dari lembaga pendidikan yang sudah ada. Kita harus mampu menghadirkan sesuatu yang memiliki nilai tambah,” katanya.
Ia berharap Pondok Santri ke depan dapat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi Indonesia yang mampu menghadapi perubahan zaman.
Hari Santri 2026 Memasuki Momentum Satu Dekade
Kementerian Agama pada 22 September 2026 meluncurkan logo dan tema Hari Santri 2026. Tahun ini, Hari Santri mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Rangkaian Hari Santri 2026 diisi berbagai kegiatan, antara lain Surat Santri untuk Presiden, Pesantren Award, Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, Santri Vision, Halaqah Penguatan Ditjen Pesantren, Mu’tamad Santri, Festival Sarung dan Peci Santri, Expo Kemandirian Pesantren, Upacara Hari Santri, hingga Malam Bakti Santri untuk Negeri.
Melalui momentum tersebut, Nasaruddin berharap semangat perjuangan yang diwariskan para ulama dan santri tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Semangat itu, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi kontribusi nyata generasi santri dalam membangun masa depan Indonesia.
“Santri menguat lagi menuju Indonesia emas,” pungkas Nasaruddin.
