Rektor UIN Jakarta : Harkitnas 2026 Momentum Kebangkitan SDM, Inovasi dan Kemandirian Bangsa

MONITOR, Jakarta – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 harus dimaknai bukan sekadar seremoni historis mengenang lahirnya organisasi Budi Utomo tahun 1908, tetapi menjadi momentum reflektif bangsa dalam mengevaluasi arah perjalanan Indonesia di tengah perubahan global yang semakin kompetitif, digital, dan penuh ketidakpastian.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Asep Saepudin Jahar, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam pernyataannya menyambut Hari Kebangkitan Nasional 2026, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, jika pada era kolonial kebangkitan nasional ditandai oleh lahirnya kesadaran politik dan identitas kebangsaan, maka kebangkitan nasional abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan bangsa membangun keunggulan sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan solidaritas sosial, serta kemandirian nasional di tengah perebutan pengaruh global.

“Harkitnas 2026 harus menjadi momentum memperkuat solidaritas dan soliditas bangsa dalam menetapkan langkah strategis menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

- Advertisement -

Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan dunia baru melalui bonus demografi, kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik strategis, serta kekuatan budaya dan agama. Namun, tegasnya, seluruh potensi tersebut tidak akan bermakna tanpa investasi serius pada pembangunan manusia unggul.

Karena itu, Prof. Asep menegaskan bahwa kebangkitan nasional hari ini harus dimulai dari revolusi pendidikan yang berorientasi masa depan. Pendidikan Indonesia tidak boleh lagi terjebak pada budaya hafalan dan administratif semata, melainkan harus mendorong kreativitas, riset, inovasi, dan kemampuan adaptif menghadapi transformasi global berbasis Artificial Intelligence, big data, energi hijau, dan ekonomi digital.

Dalam konteks pendidikan tinggi, ia menyoroti capaian membanggakan perguruan tinggi Indonesia pada QS World University Rankings by Subject 2026 bidang Theology, Divinity & Religious Studies. Tiga perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk 50 besar dunia, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di peringkat 29 dunia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di posisi 37 dunia, dan Universitas Gadjah Mada di peringkat 45 dunia.

“Capaian ini membuktikan bahwa perguruan tinggi Indonesia, termasuk PTKIN, mampu bersaing di tingkat global apabila fokus membangun distingsi dan keunggulan akademiknya,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan tersebut juga memperlihatkan potensi besar Indonesia menjadi pusat rujukan Islam moderat dunia yang kompatibel dengan demokrasi, modernitas, dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Meski demikian, Prof. Asep mengingatkan bahwa tantangan pendidikan tinggi Indonesia masih besar, terutama pada aspek kualitas riset, hilirisasi inovasi, penguasaan teknologi, dan daya saing global secara menyeluruh.

Selain pendidikan, ia juga menegaskan pentingnya membangun kemandirian nasional melalui penguatan industri nasional, hilirisasi sumber daya alam, penguatan ekonomi rakyat, dan pembangunan riset nasional yang mandiri.

“Bangsa yang gagal menguasai teknologi akan menjadi pasar bagi negara lain. Sebaliknya, bangsa yang mampu mengembangkan teknologi akan menjadi pemain utama dalam percaturan global,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kebangkitan nasional juga harus ditopang oleh solidaritas sosial, persatuan kebangsaan, serta etika publik yang kuat di tengah tantangan polarisasi politik, banjir informasi digital, dan meningkatnya individualisme sosial.

Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai apabila bangsa ini terpecah oleh intoleransi, korupsi, ketimpangan sosial, dan rendahnya kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki peluang strategis untuk menunjukkan bahwa agama dapat berjalan seiring dengan demokrasi, moderasi, ilmu pengetahuan, dan kemajuan peradaban. Karena itu, kampus Islam, pesantren, dan PTKIN diharapkan tampil sebagai pusat lahirnya generasi Muslim Indonesia yang moderat, unggul, terbuka, dan berorientasi global.

“Harkitnas 2026 harus menjadi momentum penyadaran bahwa kebangkitan nasional bukan proyek sesaat, melainkan proses panjang membangun peradaban bangsa berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, solidaritas sosial, dan kemandirian nasional,” pungkasnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER