MONITOR, Jakarta – Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Jakarta menggelar seminar nasional secara daring pada Rabu (15/4/2026) dengan tema “Reposisi Kolaborasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan Usaha Besar di Tengah Tekanan Global.”
Seminar ini menghadirkan narasumber Reghi Perdana (Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Hukum dan Kebijakan Publik Kementerian UMKM), John Kosasih (Wakil Presiden Direktur BCA), dan Mochamad Bahtiar (Dosen Sekolah Bisnis IPB University) untuk membahas tantangan ekonomi global serta strategi memperkuat kemitraan antara UMKM dan usaha besar.
Staf Ahli Menteri UMKM Reghi Perdana menyoroti meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik yang terjadi, khususnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Menurutnya, konflik tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas politik kawasan, tetapi juga memberikan implikasi ekonomi global yang luas melalui gangguan terhadap rantai energi, perdagangan, dan stabilitas pasar keuangan dunia.
Salah satu titik kritis dari konflik tersebut adalah potensi gangguan terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi strategis dunia.
”Selat Hormuz merupakan salah satu energy chokepoint paling strategis di dunia. Sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir seperlima konsumsi minyak global melewati jalur ini. Jika terjadi gangguan di selat tersebut, maka pasokan energi dunia akan terganggu dan harga minyak berpotensi melonjak signifikan,” ujar Reghi.
Kenaikan harga energi juga memicu peningkatan biaya logistik dan biaya produksi yang pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat dan para pelaku usaha.
“Dampaknya mulai kita rasakan pada kenaikan berbagai komoditas bahan baku. Beberapa pengusaha UMKM melaporkan meningkatnya harga plastik, kemasan, serta biaya transportasi dan distribusi” kata Reghi.
Kondisi tersebut, lanjutnya, memberikan tekanan tambahan bagi UMKM karena kenaikan harga tersebut secara langsung mempengaruhi biaya produksi dan daya saing usaha.
Meski demikian, Reghi menilai dinamika global tersebut juga membuka peluang baru bagi Indonesia melalui berbagai kerja sama perdagangan internasional.

Salah satu peluang tersebut adalah Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang ditandatangani pada 19 Februari 2026. Produk-produk seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, dan tekstil dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor ke pasar Amerika Serikat.
Selain itu, Indonesia juga telah menandatangani Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) pada 23 September 2025 yang membuka peluang penghapusan tarif hingga 0 persen bagi sebagian besar produk ekspor Indonesia.
“Perjanjian-perjanjian perdagangan ini membuka peluang yang sangat besar bagi Indonesia, termasuk bagi UMKM untuk memasuki pasar global. Namun peluang tersebut tidak akan datang secara otomatis jika UMKM tidak meningkatkan kualitas dan daya saing produknya,” ujar Reghi.
Untuk menghadapi tekanan global sekaligus memanfaatkan peluang perdagangan internasional, ia menilai perlu adanya reposisi hubungan antara UMKM dan usaha besar melalui berbagai bentuk kolaborasi strategis.
Kolaborasi tersebut antara lain melalui integrasi UMKM dalam rantai pasok industri, penerapan standar kualitas produk yang konsisten, pemanfaatan teknologi digital dan e-commerce, serta penguatan kemitraan industrial antara UMKM dan perusahaan besar.
“UMKM tidak boleh hanya menjadi pelaku ekonomi pinggiran. UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi yang lebih besar,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Reghi juga memaparkan berbagai langkah strategis yang telah dilakukan oleh Kementerian UMKM dalam memperkuat ekosistem UMKM di Indonesia.
Program tersebut antara lain fasilitasi penerapan standardisasi dan sertifikasi usaha dan produk, perluasan akses pemasaran melalui kurasi dan business matching, pengembangan holding UMKM, literasi digital, serta inisiasi kolaborasi startup dan kewirausahaan untuk menembus pasar global.
Menurutnya, berbagai langkah tersebut bertujuan untuk membangun ekosistem UMKM yang lebih tangguh, inovatif, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
Sementara itu, Bachtiar menekankan bahwa kolaborasi antara UMKM dan usaha besar bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tuntutan kondisi ekonomi saat ini.
Menurutnya, perubahan geopolitik global, kenaikan harga energi, serta pelemahan nilai tukar rupiah menciptakan tekanan berlapis bagi dunia usaha. Oleh karenanya perlu kolaborasi yang berkelanjutan, yang diantaranya integrasi UMKM ke dalam rantai pasok ekspor usaha besar, pengembangan platform digital bersama, model agregasi produk UMKM dalam satu merek besar, serta transfer standar dan teknologi secara bertahap.
Selain itu, ia juga menilai pemerintah perlu berperan sebagai pengatur agar kemitraan berjalan adil, misalnya melalui mekanisme audit kemitraan, mediator independen dalam penyelesaian sengketa, serta dukungan pembiayaan dan sertifikasi bagi UMKM.
Melalui seminar ini, ISEI Jakarta berharap muncul rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat ekosistem kemitraan usaha di Indonesia sehingga UMKM tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi benar-benar menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi nasional.
