MONITOR, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama tidak lagi dapat dipisahkan dari dinamika sosial, hukum, dan perkembangan teknologi di era modern. Hal ini disampaikan Menag saat membuka International Conference: Contemporary Issues on Socio-religious Studies yang digelar IAIN Sorong, Senin (9/3/2026).
“We no longer live in an era where religion can be isolated from social dynamics, law, or technology,” ujar Menag dalam sambutan yang disampaikan secara virtual.
Baginya perkembangan zaman saat ini menuntut kajian sosial-keagamaan untuk lebih responsif terhadap perubahan Masyarakat. Sehingga studi agama harus mampu membaca realitas sosial yang terus berkembang. Agama menjadi sebagai sumber nilai dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen untuk memahami serta menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan.
Menag menilai konferensi ini menjadi momentum penting bagi pengembangan kajian sosial-keagamaan di Indonesia, khususnya di kawasan timur. Ia mengapresiasi inisiatif IAIN Sorong yang menyelenggarakan forum akademik berskala internasional di Tanah Papua. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan semakin berkembangnya peran perguruan tinggi keagamaan Islam dalam merespons isu-isu global.
Menag lalu menyampaikan tiga refleksi utama. Pertama, pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dan agama. Ia mengajak dunia akademik untuk meninggalkan dikotomi lama antara wahyu dan nalar. Baginya, agama memberi fondasi etik dan moral, sedangkan ilmu pengetahuan menghadirkan perangkat untuk memahami kenyataan dan menjawab persoalan manusia.
Menag juga mengapresiasi hadirnya pembahasan mengenai pendekatan kuantitatif dan statistik dalam riset sosial-keagamaan. Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa studi keagamaan di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, termasuk IAIN Sorong, berkembang menuju riset yang berbasis data dan bukti.
Kedua, Menag menyoroti isu hukum Islam dan hak asasi manusia. Ia menegaskan bahwa dinamika hukum keluarga dan HAM dalam masyarakat Muslim membutuhkan kontekstualisasi yang terus-menerus.
“Sharia does not exist in a vacuum. It exists to realize justice and public interest,” ujarnya.
Syariah harus dibaca sebagai jalan untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan. Dari forum akademik seperti inilah, ia berharap lahir rumusan-rumusan baru tentang bagaimana nilai-nilai universal agama dapat memperkuat martabat manusia di tengah peradaban modern.
Ketiga, komunikasi dan dinamika sosial-keagamaan. Di era disrupsi informasi ini, peran bahasa dan komunikasi menjadi semakin penting. Kita membutuhkan wacana keagamaan yang lebih merangkul kebenaran. Ia menyerukan perlunya wacana keagamaan yang mengedepankan kebijaksanaan, toleransi, dan kemanusiaan. Menag juga menilai pendekatan psikologi agama penting untuk merespons kegelisahan jiwa yang muncul akibat kebisingan dunia digital.
Dalam kesempatan itu, Menag berharap IAIN Sorong dapat terus berada di garis depan dalam mempromosikan moderasi beragama.
“IAIN Sorong must be at the forefront of promoting religious modernization, a middle path that up holds tolerance and humanity,” harapnya.
Ia menyebut kampus sebagai laboratorium harmoni, tempat keberagaman etnis dan agama dipandang sebagai aset intelektual yang berharga.
Menag juga menyampaikan sambutan kepada para pembicara dari berbagai negara yang hadir secara virtual. Kehadiran mereka, katanya, menunjukkan bahwa isu-isu global membutuhkan kolaborasi lintas bangsa.
Menag berharap forum tersebut menghasilkan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan perdamaian global. Meski belum dapat hadir secara langsung di Sorong, Menag menilai konferensi ini sebagai momen penting dan bersejarah bagi IAIN Sorong.

