Tenaga Ahli Menteri UMKM Bidang Pembiayaan dan Skema UMKM, Faisal Anwar
MONITOR, Bangka – Sejarah Pulau Bangka tidak dapat dipisahkan dari timah. Sejak masa kolonial, komoditas tambang tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi dan sumber penghidupan masyarakat.
Namun, di balik kontribusi ekonomi pertambangan, aktivitas ekstraktif juga meninggalkan persoalan panjang berupa lahan pascatambang yang membutuhkan pemulihan dan pemanfaatan kembali.
Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) mencatat luas lahan bekas tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung sekitar 125.875 hektare. Aktivitas pertambangan telah mengubah bentang lahan menjadi kolong, timbunan hasil galian, serta tailing berupa pasir kuarsa. Sebagian besar lahan tersebut mengalami degradasi berat dengan tingkat kesuburan dan kandungan hara yang rendah, sehingga pemanfaatannya untuk pertanian membutuhkan teknologi dan input yang tepat.
Di tengah tantangan tersebut, kopi Liberika mulai dilirik sebagai salah satu alternatif komoditas produktif. Pengalaman di Belitung Timur menunjukkan Kopi Liberika Baguk memiliki karakteristik yang menarik karena mampu tumbuh di dataran rendah, termasuk kawasan dekat pesisir, dan telah dikembangkan pada lahan eks tambang timah. Pemerintah daerah setempat bahkan telah menginventarisasinya sebagai salah satu potensi indikasi geografis.
Potensi itu membuka peluang bagi diversifikasi ekonomi masyarakat di wilayah pascatambang. Namun, pengembangan kopi Liberika tidak dapat dilakukan dengan pendekatan budidaya semata. Karakteristik lahan bekas tambang yang berbeda dengan lahan pertanian biasa menuntut rehabilitasi tanah, pengelolaan lingkungan, serta penerapan teknologi yang sesuai.
Tenaga Ahli Menteri UMKM Bidang Pembiayaan dan Skema UMKM, Faisal Anwar, menilai pemanfaatan lahan pascatambang untuk komoditas produktif seperti kopi Liberika dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan sumber penghidupan baru bagi masyarakat.
“Kita tidak ingin lahan pascatambang hanya menjadi persoalan lingkungan. Lahan tersebut harus kita lihat sebagai aset yang setelah dipulihkan dan memenuhi persyaratan teknis, dapat kembali memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Kopi Liberika merupakan salah satu potensi yang menarik untuk dikaji dan dikembangkan,” ujar Faisal saat mengunjungi Museum Timah Indonesia di Pangkal Pinang, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Faisal, tantangan pengembangan kopi Liberika bukan hanya bagaimana menanam dan menghasilkan biji kopi, tetapi bagaimana membangun rantai nilai yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kalau masyarakat hanya menjual biji kopi, nilai tambahnya tentu terbatas. Kita ingin ada proses yang lebih panjang, mulai dari budidaya, pengolahan, roasting, pengemasan, branding, sampai pemasaran. Di setiap mata rantai tersebut ada peluang bagi UMKM untuk tumbuh,” katanya.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mengambil peran sebagai fasilitator sekaligus penghubung berbagai pemangku kepentingan. Fasilitasi dapat mencakup penyediaan bibit, pendampingan budidaya, teknologi pengolahan, akses pembiayaan hingga perluasan pasar.
“Kami berharap pemerintah daerah dapat memfasilitasi UMKM, kelompok tani, dan koperasi, mulai dari penyediaan bibit, pendampingan budidaya, teknologi pengolahan, akses pembiayaan, sampai akses pasar,” ujar Faisal.
Menurutnya, pengembangan ekonomi pascatambang juga membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, petani, UMKM, serta pihak yang memiliki keahlian dalam rehabilitasi lahan.
“Yang dibutuhkan adalah kolaborasi. Pemulihan lahannya membutuhkan keahlian lingkungan dan pertanian, pengembangannya membutuhkan petani dan UMKM, pembiayaannya membutuhkan lembaga keuangan, sedangkan pemasarannya membutuhkan dunia usaha. Pemerintah daerah menjadi orkestrator agar seluruh pihak tersebut dapat bergerak bersama,” jelasnya.
Faisal juga melihat peluang untuk mengintegrasikan pengembangan kopi Liberika dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kebun kopi di kawasan yang telah dipulihkan dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi maupun agrowisata, sementara produk kopi lokal dapat menjadi bagian dari oleh-oleh sekaligus identitas ekonomi baru daerah.
Dengan pendekatan tersebut, rehabilitasi lahan pascatambang tidak berhenti pada agenda pemulihan lingkungan. Lahan yang sebelumnya menjadi simbol aktivitas ekstraktif dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru yang melibatkan petani, koperasi, UMKM, pariwisata, dan masyarakat lokal.
“Dulu timah memberikan kehidupan bagi masyarakat Bangka. Ke depan, kita berharap lahan yang pernah menghasilkan timah itu juga dapat kembali menghasilkan kehidupan melalui pertanian, termasuk kopi, yang dikelola oleh masyarakat dan UMKM secara berkelanjutan,” pungkas Faisal.
Dari timah ke kopi, dari lahan pascatambang menuju lahan produktif. Tantangannya bukan sekadar menanam komoditas baru, tetapi memastikan transformasi tersebut mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat UMKM, dan menghadirkan sumber penghidupan baru yang berkelanjutan bagi masyarakat Bangka.
MONITOR, Aceh Selatan - Ribuan warga dari sejumlah gampong terdampak berkumpul di Masjid Jami' Al…
Maria Ulfa(Dosen Ilmu Susastra, Prodi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)…
MONITOR, Jakarta — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimeriahkan salah satunya…
MONITOR, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi dan berbagai capaian pembangunan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam…
MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat standar pelayanan publik untuk…
MONITOR, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin doa dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang…