PARLEMEN

Anak Gunung Krakatau Aktif, Waka Komisi V DPR Ingatkan Pentingnya Keamanan Masyarakat dan Jalur Pelayaran

MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Ia menyebut keamanan masyarakat, termasuk jalur pelayaran, harus menjadi perhatian utama.

“Dalam menghadapi ancaman bencana akibat peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau, kita harus menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas,” kata Andi Iwan Darmawan, Kamis (16/7/2026).

“Terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, serta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dengan tingkat kerentanan tinggi,” lanjutnya.

Seperti diketahui, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan dan kini berada pada Status Level III (Siaga). Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam beberapa waktu belakangan pun kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi tsunami seperti yang pernah terjadi di Selat Sunda pada 2018.

Sebagai langkah antisipasi, Iwan Aras mendorong Pemerintah memastikan kesiapan logistik, layanan kesehatan, tempat pengungsian, serta sistem perlindungan sosial yang dapat segera diaktifkan apabila kondisi berkembang menjadi situasi darurat.

“Pemerintah daerah bersama BNPB juga perlu memperkuat edukasi kebencanaan berbasis komunitas sehingga masyarakat memahami langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menerima informasi resmi mengenai peningkatan aktivitas gunung api,” papar Iwan.

Selain itu, pimpinan Komisi di DPR yang membidangi urusan penanggulangan bencana dan transportasi ini mengingatkan soal kesiapan infrastruktur pelayaran. Meski PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan di lintasan Merak-Bakauheni maupun jalur pelayaran di Selat Sunda tetap beroperasi normal di tengah peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), Iwan menyebut antisipasi tetap harus dikedepankan.

“Operasional transportasi jalur laut harus mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan pengguna jasa. Maka setiap penyedia jasa pelayaran harus melakukan mitigasi dan selalu siaga terhadap ancaman membesarnya aktivitas Gunung Krakatau,” tegasnya.

Lebih lanjut, Iwan mengingatkan Pemerintah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, TNI-Polri, pemerintah daerah, serta operator transportasi laut.

“Sinergi yang baik diperlukan agar setiap peningkatan aktivitas vulkanik segera diikuti langkah mitigasi dan siaga bencana yang terkoordinasi,” ujar Iwan.

“Pendekatan ini penting untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih antisipatif, adaptif, dan mampu memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat,” sambung Legislator dari Dapil Sulawesi Selatan II itu.

Lebih lanjut, Iwan menilai kesiapsiagaan yang diperlukan tidak cukup hanya mencakup aspek fisik, tetapi juga perlindungan sosial dan psikologis masyarakat.

“Pengalaman menunjukkan bahwa ancaman bencana yang berlangsung dalam waktu lama dapat menimbulkan kecemasan sosial yang memengaruhi aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari,” jelas Iwan.

Di sisi lain, Iwan menyebut lembaga/instansi terkait perlu memperkuat pendekatan mitigasi berbasis risiko dengan memanfaatkan data pemantauan vulkanologi, sistem informasi geospasial, serta pemetaan kerentanan wilayah sebagai dasar pengambilan keputusan.

“Simulasi kesiapsiagaan secara berkala di wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak, termasuk kawasan pesisir Banten dan Lampung, perlu diperbanyak,” ungkap politisi Gerindra tersebut.

Menurut Iwan, latihan evakuasi, pembaruan peta risiko, kesiapan tempat pengungsian, hingga integrasi komunikasi antarinstansi harus menjadi bagian dari sistem yang berjalan secara rutin, bukan hanya dilakukan ketika aktivitas vulkanik meningkat.

“Kita berharap potensi ancaman bencana Anak Gunung Krakatau tidak terjadi. Namun bersiap untuk setiap kemungkinan, termasuk kondisi skenario terburuk, dapat meminimalisir dampak. Ini juga demi keselamatan masyarakat,” tutup Iwan.

Recent Posts

Menaker Minta Peserta Pelatihan Vokasi Bangun Portofolio, Bukan Sekadar Sertifikat

MONITOR, Bekasi — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli meminta peserta Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) memanfaatkan pelatihan untuk…

33 menit yang lalu

Petugas JMTO Ruas Balikpapan-Samarinda Lakukan Pengamanan Lajur Imbas Karhutla

MONITOR, Samarinda - Petugas operasional PT Jasamarga Tollroad Operator (JMTO) Ruas Balikpapan–Samarinda (Balsam) sigap menangani…

42 menit yang lalu

Kementan Perkuat Pengendalian Rabies di Bali, Alokasikan 205.000 Dosis Vaksin pada 2026

MONITOR, Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat pengendalian rabies di Bali melalui penyediaan vaksin,…

47 menit yang lalu

TCL Ajukan Gugatan terhadap Samsung terkait Klaim Teknologi Mini LED pada Televisi

MONITOR, Jakarta — TCL, perusahaan elektronik asal China, mengajukan gugatan terhadap Samsung di pengadilan federal…

8 jam yang lalu

UIN Jakarta Raih Penghargaan Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik di BAZNAS Awards 2026

MONITOR, Jakarta - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerima penghargaan kategori Lembaga Pendidikan Pendukung Zakat Terbaik…

13 jam yang lalu

Menhaj: Pengelolaan Dana Haji Harus Aman dan Produktif

MONITOR, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan pentingnya keseimbangan antara keamanan…

24 jam yang lalu