Ketua LKNU PCNU Kabupaten Lebak, dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK
MONITOR, Lebak – Dokter spesialis patologi klinik yang juga Ketua LKNU Kabupaten Lebak, dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK mengingatkan pentingnya kualitas tidur, sebab kata dia, tidur bukan sekadar aktivitas istirahat, melainkan fondasi utama yang memengaruhi kesehatan fisik, mental, hingga spiritual seseorang.
Dalam pandangannya, mengabaikan kualitas tidur sama dengan mengabaikan kualitas hidup. Ia menjelaskan, secara ilmiah tidur merupakan proses biologis kompleks yang terdiri dari fase REM (Rapid Eye Movement) dan non-REM, yang berlangsung dalam 4–6 siklus setiap malam.
“Pada fase non-REM, tubuh melakukan pemulihan jaringan dan memperkuat sistem imun. Sementara fase REM berperan penting dalam memori, pembelajaran, dan pengolahan emosi,” jelasnya.
Berbagai penelitian modern, lanjutnya, telah membuktikan bahwa tidur yang cukup mampu meningkatkan fungsi otak, menjaga kesehatan mental, memperkuat sistem imun, serta menurunkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolisme. Bahkan, tambahan waktu tidur sekitar 11 menit per malam disebut dapat menurunkan risiko serangan jantung hingga 10 persen.
Tidak hanya itu, perkembangan teknologi juga menunjukkan peran penting tidur dalam mendeteksi kondisi kesehatan. Model kecerdasan buatan seperti SleepFM mampu menganalisis pola tidur untuk memprediksi lebih dari 130 jenis penyakit, termasuk jantung, stroke, demensia, hingga risiko kematian dini.
Namun, ia mengingatkan bahwa kurang tidur dapat berdampak serius, mulai dari penurunan konsentrasi, gangguan emosi, hingga meningkatnya risiko penyakit kronis seperti jantung dan diabetes. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat menurunkan harapan hidup.
Menariknya, konsep tidur yang sehat juga telah lama diajarkan dalam Islam. Tidur dipandang sebagai nikmat sekaligus sarana pemulihan energi, dengan prinsip keseimbangan atau tawazun antara aktivitas dan istirahat.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, keseimbangan hidup menjadi bagian penting. Islam juga mengajarkan adab sebelum tidur seperti berwudhu, berdzikir, membaca doa, serta tidur miring ke kanan yang dinilai memiliki manfaat kesehatan.
“Wudhu membantu relaksasi, dzikir menenangkan pikiran, dan posisi tidur tertentu meningkatkan kenyamanan serta kualitas pernapasan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tidur juga dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjaga kesehatan dan mendukung aktivitas ibadah. Namun, Islam juga mengingatkan agar tidak berlebihan dalam tidur karena dapat menimbulkan kemalasan dan menurunkan produktivitas.
Hal ini sejalan dengan temuan ilmiah yang menyebutkan bahwa tidur berlebihan juga berisiko terhadap gangguan kesehatan, khususnya penyakit metabolik.
Di tengah tantangan era modern, kualitas tidur semakin terancam oleh penggunaan gadget, stres, serta pola hidup tidak teratur. Bahkan, lebih dari setengah populasi dilaporkan tidak mendapatkan tidur yang berkualitas setiap malam.
Dalam kondisi tersebut, pendekatan yang menggabungkan ilmu kesehatan modern dan nilai-nilai spiritual dinilai menjadi solusi yang relevan.
“Tidur yang benar adalah tidur yang cukup, teratur, dan dilakukan dengan kesadaran penuh. Dari sanalah hidup yang lebih sehat, tenang, dan bersinar dapat terwujud,” pungkasnya.
MONITOR, Jakarta – Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan pentingnya kesiapan mental, spiritual,…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menyoroti aksi ribuan buruh yang menggelar…
MONITOR, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menerima penghargaan dari forum pers DPR, Koordinatoriat…
MONITOR, Tangerang Selatan - Sejumlah aktivis dari komunitas Ciputat menggelar acara halalbihalal sekaligus panggung demokrasi…
MONITOR, Tangsel – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) terus…
MONITOR, Jakarta – Kementerian Perdagangan menegaskan bahwa kebijakan kewajiban distribusi minyak goreng rakyat melalui skema…