HANKAM

Koalisi Sipil: Indonesia Hadapi ‘Darurat Reformasi TNI’

MONITOR, Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mengkritik wacana revitalisasi internal TNI yang disampaikan Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah. Koalisi menilai langkah tersebut bukan solusi, melainkan mencerminkan kondisi darurat reformasi di tubuh militer.

Dalam siaran persnya, koalisi menyebut agenda revitalisasi yang berfokus pada penindakan anggota TNI melalui peradilan militer tidak menjawab rasa keadilan publik, khususnya bagi korban pelanggaran hukum. Mekanisme tersebut justru dinilai berpotensi melanggengkan impunitas.

Perwakilan Imparsial, Ardimanto, menegaskan bahwa reformasi peradilan militer merupakan mandat penting yang belum dijalankan secara konsisten.

“Anggota militer yang melakukan tindak pidana umum seharusnya diadili di peradilan umum, bukan peradilan militer. Ini prinsip dasar negara hukum agar tidak ada perlakuan istimewa di hadapan hukum,” ujar Ardimanto.

Koalisi juga menyoroti penanganan kasus yang melibatkan Andri Yunus. Mereka mendesak agar proses hukum dilakukan melalui peradilan umum, sesuai amanat konstitusi serta Ketetapan MPR dan Undang-Undang TNI.

Selain itu, pencopotan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) dinilai belum cukup menunjukkan akuntabilitas institusi. Koalisi menilai langkah tersebut tidak menyentuh akar persoalan, yakni transparansi dan pertanggungjawaban komando.

Lebih jauh, koalisi mengingatkan adanya kecenderungan kembalinya peran militer ke ranah sipil. Fenomena ini terlihat dari keterlibatan TNI dalam jabatan sipil, proyek pemerintah, hingga penguatan struktur teritorial yang dinilai mengarah pada praktik dwifungsi.

Menurut Ardimanto, kondisi ini mengindikasikan adanya kemunduran dalam agenda reformasi sektor keamanan. “Kami melihat ada gejala penguatan militerisme dan remiliterisasi politik yang berpotensi mengancam demokrasi,” katanya.

Koalisi pun mengajukan sejumlah tuntutan, di antaranya penyelesaian kasus melalui peradilan umum, evaluasi terhadap pimpinan pertahanan, penghentian keterlibatan militer dalam jabatan sipil, hingga reformasi menyeluruh terhadap peradilan militer dan intelijen, termasuk BAIS.

Mereka menegaskan bahwa reformasi TNI saat ini bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan kondisi darurat yang harus segera ditangani untuk menjaga prinsip demokrasi dan supremasi sipil di Indonesia.

Recent Posts

Indonesia Tuan Rumah SOM MABIMS ke-50, Menag Ajak Empat Negara Bangun Masyarakat Islam Berkeadaban

MONITOR, Jakarta - Indonesia menjadi tuan rumah Senior Officials Meeting (SOM) ke-50 Menteri Agama Brunei…

1 jam yang lalu

Ponpes Hamalatul Qur’an Sukoharjo Belum Berizin, Gugun Gumilar Dukung Penegakan Hukum Transparan

MONITOR, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa lembaga Hamalatul Qur’an yang berada di Sukoharjo…

3 jam yang lalu

Rokhmin Dahuri: Modernisasi Pertanian Harus Tingkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Petani

MONITOR, CIREBON - Modernisasi pertanian melalui mekanisasi menjadi salah satu kunci meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki…

11 jam yang lalu

Mazz Reza Pranata: Pemuda Harus Kuasai Ilmu, Skills, dan Jiwa Kewirausahaan

MONITOR, BOGOR - Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual dan idealisme. Mereka juga…

1 hari yang lalu

Riset Mahasiswa PTKIN Naik Kelas, Manfaatnya Nyata Dirasa Masyarakat

MONITOR, Yogyakarta - Setelah medali diraih dan pameran ditutup, ke mana hasil riset mahasiswa akan…

1 hari yang lalu

Wamenhaj Dorong Pelibatan Nonmuslim Dukung Pelayanan Jemaah Haji

MONITOR, Manado – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mendorong pelibatan masyarakat…

2 hari yang lalu