Ketua LKNU PCNU Kabupaten Lebak, dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK
MONITOR, Lebak – Sel darah putih atau leukosit tidak hanya berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh, tetapi juga menyimpan nilai kehidupan yang bisa menjadi refleksi bagi manusia. Hal tersebut disampaikan dokter spesialis patologi klinik, dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK, yang juga menjabat sebagai Ketua LKNU PCNU Kabupaten Lebak.
Dalam penjelasannya, sel darah putih merupakan komponen utama sistem imun yang berperan melindungi tubuh dari berbagai ancaman seperti bakteri, virus, jamur, hingga parasit. Dalam kondisi normal, jumlah leukosit berkisar antara 4.000 hingga 11.000 sel per mikroliter darah, dan dapat meningkat saat tubuh mengalami infeksi.
“Sel darah putih bekerja secara otomatis tanpa kita sadari. Mereka menjadi garda terdepan dalam melindungi tubuh dari serangan penyakit,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, sel darah putih terdiri dari beberapa jenis seperti neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil yang bekerja secara terkoordinasi. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan tubuh manusia.
Menurut Agus, fenomena biologis ini juga dapat dimaknai sebagai tanda kebesaran Tuhan. Dalam perspektif keislaman, hal tersebut termasuk dalam ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat direnungkan oleh manusia.
Lebih jauh, ia menilai terdapat sejumlah pelajaran penting dari cara kerja sel darah putih. Salah satunya adalah nilai solidaritas dan kerja sama, di mana setiap jenis sel memiliki peran berbeda namun saling melengkapi tanpa saling mendominasi.
Selain itu, sel darah putih juga mencerminkan sikap kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman. Respons cepat terhadap infeksi menjadi gambaran pentingnya kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai keikhlasan juga tercermin dari kerja sel darah putih yang tidak pernah menuntut imbalan. Bahkan saat sel tersebut mati dalam melawan infeksi, tubuh tetap melakukan regenerasi secara berkelanjutan.
“Ini mengajarkan kita untuk berbuat dengan ikhlas tanpa pamrih, sebagaimana nilai yang diajarkan dalam kehidupan beragama,” katanya.
Agus juga menekankan pentingnya sikap rendah hati. Menurutnya, manusia sering kali merasa kuat, padahal kesehatannya bergantung pada sistem kecil yang tidak terlihat.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia menilai keseimbangan dalam sistem imun juga relevan. Sistem yang berlebihan justru bisa merusak tubuh, sebagaimana sikap ekstrem dapat memicu perpecahan dalam masyarakat.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjaga nilai moderasi, toleransi, dan keseimbangan dalam kehidupan sosial, sejalan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
“Melalui pemahaman ini, kita tidak hanya belajar ilmu kesehatan, tetapi juga memperkuat keimanan dan rasa syukur,” tutupnya.
MONITOR, Cikampek – PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) membagikan bingkisan apresiasi kepada sejumlah pengguna jalan…
Adriansyah (Ketua Ikatan Keluarga Alumni FISIP UIN Jakarta) Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat…
MONITOR, Jakarta – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab), pelantikan…
MONITOR, Jakarta – Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mengkritik wacana revitalisasi internal TNI yang…
MONITOR, Cikampek – Arus balik Idulfitri 1447 H/2026 dari wilayah Timur Trans Jawa menuju Jakarta mengalami…
MONITOR, Jakarta — Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menorehkan prestasi gemilang di…