Selasa, 10 Maret, 2026

Menag Dorong Mahasiswa BEM Nusantara Jadi Pemimpin Beretika

MONITOR, Jakarta – Mahasiswa perguruan tinggi keagamaan memikul tanggung jawab yang berbeda dengan kampus pada umumnya. Selain menjalankan misi akademik, kampus-kampus di bawah Kementerian Agama juga mengemban misi dakwah. Karena itu, perguruan tinggi keagamaan tidak cukup hanya melahirkan ilmuwan, tetapi juga generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menerima audiensi Pengurus Pusat BEM Nusantara di Jakarta, Senin (9/3/2026). Menurut Menag, perguruan tinggi keagamaan memiliki misi penting untuk melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius serta dampak sosial di tengah masyarakat.

“Perguruan tinggi keagamaan tidak hanya melahirkan ilmuwan, tetapi juga intelektual yang mengamalkan ilmunya, bahkan lebih jauh lagi melahirkan cendekiawan yang memberi dampak kepada masyarakat,” ujar Menag.

Menag lalu menjelaskan perbedaan antara ilmuwan, intelektual, dan cendekiawan. Ilmuwan, kata dia, adalah sosok yang menguasai ilmu pengetahuan. Intelektual tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mengamalkannya. Adapun cendekiawan adalah mereka yang menguasai ilmu, mengamalkannya, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

- Advertisement -

“Obsesi kita di perguruan tinggi keagamaan adalah melahirkan cendekiawan religius, yang memiliki akhlakul karimah dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Karena itu, Menag menekankan pentingnya pembentukan karakter dan akhlak mulia bagi mahasiswa, khususnya di perguruan tinggi keagamaan. Menurutnya, misi dakwah tidak akan berjalan apabila para pelakunya tidak menampilkan keteladanan moral.

“Bagaimana mungkin kita menjadi subjek dakwah kalau kita sendiri tidak menunjukkan keluhuran budi pekerti,” tegas Menag.

Koordinator Pusat BEM Nusantara Muhammad Sardani mengatakan, kedatangan mereka bertujuan membangun kemitraan yang konstruktif dengan pemerintah, baik sebagai mitra kritis maupun mitra strategis.

“Bagaimana hari ini kita bersama-sama ingin Indonesia ini lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya.

Menag mengapresiasi BEM Nusantara yang dinilai memiliki karakter khas dibanding organisasi mahasiswa lainnya. Ia menilai mahasiswa yang tergabung dalam BEM Nusantara tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga memiliki etika dan kedewasaan dalam menyampaikan aspirasi.

“Mahasiswa boleh kritis, tetapi tetap harus santun. BEM Nusantara memiliki ciri khas itu, kritis tetapi tetap menjaga etika,” kata Menag.

Menag juga menyampaikan bahwa dirinya memiliki kedekatan historis dengan gerakan mahasiswa. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor III UIN Jakarta yang membidangi kemahasiswaan pada masa-masa dinamika gerakan mahasiswa di era reformasi. Pengalaman itu, menurutnya, membuat dirinya memahami karakter dan semangat perjuangan mahasiswa.

“Saya tidak pernah menyalahkan mahasiswa saya. Mereka memperjuangkan nilai-nilai yang memang harus diperjuangkan saat itu,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut, Menag mendorong mahasiswa BEM Nusantara untuk terus membangun jejaring lintas sektor dan memperkuat kapasitas intelektual. Ia berharap mahasiswa mampu mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas dan memberi kontribusi bagi bangsa.

“Sepuluh tahun ke depan, kalianlah yang akan menjadi pemimpin. Karena itu bangun jaringan, kuatkan intelektualitas, dan tetap menjaga kesantunan,” pungkas Menag.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

Ramdhan Monitor.co.id

TERPOPULER