momen hangat antara menteri agama dan wakil menteri agama di acara buka bersama di lingkungan kemenag. (Foto: kemenag.go.id)
MONITOR, Jakarta – Pernahkah diri kita merasa dosa kita terlampau banyak namun ada perasaan enggan atau ragu, apakah Allah akan mengampuni. Di hadapan Keluarga Besar Kementerian Agama yang berkumpul dalam agenda buka puasa bersama, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan, bahwa sebesar apa pun kekhilafan manusia, pintu ampunan Allah SWT tetap terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh bertaubat, terutama di Bulan Ramadan.
Pesan ini disampaikan Menag dalam agenda buka puasa bersama Keluarga Besar Kementerian Agama, Senin (2/3/2026). Buka puasa bersama pada hari ke-11 Ramadan ini juga dihadiri Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi’i, serta jajaran pejabat, Ketua Dharma Wanita Persatuan dan jajaran, serta para pegawai di lingkungan Kemenag Pusat.
Rangkaian kegiatan buka puasa bersama diawali dengan khatmil Qur’an dan pembacaan Maulid Diba’i, dilanjutkan penampilan marawis. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis kepada para penerima manfaat dari unsur pendukung kegiatan, sebagai bentuk apresiasi atas kerja dan dedikasi mereka.
Setelah itu, Menag mengangkat sejumlah kisah dari hadis Nabi. Kisah-kisah itu menunjukkan pintu rahmat Allah tidak pernah benar-benar tertutup bagi siapa pun yang taubat nasuha.
Dalam salah satu riwayat yang sangat masyhur, diceritakan ada seseorang yang telah melakukan dosa besar berulang kali. Ia ingin bertaubat. Ia bertanya, “Apakah masih ada kesempatan Allah mengampuni dosaku?” Namun ia semakin terjerumus karena orang yang ia temui mengatakan dosanya tidak akan diampuni.
Suatu saat kemudian ia mendatangi orang saleh yang membimbingnya, bahwa tobat itu mungkin, tetapi harus disertai tekad meninggalkan lingkungan buruk dan melangkah ke arah kehidupan baru. Di akhir kisah, ketika ajal menjemput dalam perjalanan, terjadi perbedaan pendapat apakah ia termasuk penghuni rahmat atau azab. Lalu diputuskan dengan ukuran jarak, ternyata ia lebih dekat ke tempat hijrahnya untuk bertaubat.
Dalam kisah yang lain diceritakan, seorang pemuda yang melakukan perbuatan sangat hina dan keji. Setelah itu, hati nuraninya hidup. Ia menangis, menyesal, dan merasa tidak mungkin Allah mengampuninya. Namun Rasulullah SAW menunjukkan bahwa merasa bersalah bukan akhir, justru bisa menjadi pintu awal jika diikuti taubat yang benar. “Yang paling berbahaya bukan hanya dosa, tetapi putus asa dari rahmat Allah,” pesan Menag di hadapan peserta buka puasa bersama.
Kisah ketiga diceritakan seorang perempuan yang minta dirajam. Ia mengakui kesalahannya, karena berbuat zina dan minta ditegakkan hukum atas dirinya. Rasulullah menyuruhnya pulang. Ia harus menunggu hingga melahirkan. Kemudian ia datang kembali pada Rasulullah minta segera dihukum, namun disuruh menunggu lagi karena bayinya masih membutuhkan asuhan. Akhir kisah, ketiga kalinya ia datang, ia pun menjalani hukuman. Satu-satunya kasus perajaman di masa Rasulullah adalah perempuan ini. Kata Rasulullah, seandainya iman penduduk Madinah ditimbang, keimanan perempuan ini yang lebih berat. Begitulah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, ujar Menag.
Kisah terakhir adalah seorang pemuda di Madinah yang jalan kaki tiga hari tiga malam, ingin bertemu Rasulullah memohon bimbingan dan ampunan. Namun ketika sampai, ia mendapati Rasulullah sudah wafat. Ia ditegur oleh sahabat karena meraung meratapi Rasulullah. Ia melakukan dosa besar, dan merasa tidak mungkin Allah mengampuni dosanya. Ia datang untuk memohon ampun melalui Rasulullah. “Bagaimana dengan dosa saya?” tanya pemuda itu, karena Rasul telah wafat. Akhir kisah, penjaga makam, seorang sahabat, didatangi Rasulullah: “Wahai sahabatku suruh si Fulan berhenti menangis, karena Allah sudah mengampuni dosanya.”
Kisah-kisah ini, menurut Menag, menegaskan satu nilai utama, taubat bukan sekadar penyesalan, melainkan keberanian meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki langkah, dan bertanggung jawab atas konsekuensi.
Ia mengatakan, betapa murahnya ampunan Allah SWT, apalagi di bulan Ramadan ini. Jangan takut bertaubat seberapa besar pun dosanya.
Menutup tausyiahnya, Menag berharap agar dosa-dosa dalam diri diampuni Allah SWT. Ia juga mengajak seluruh pegawai untuk saling berlapang dada, saling memaafkan, dan tidak membeda-bedakan satu sama lain, “mungkin ada kekeliruan, mari saling memaafkan,” pungkasnya.
MONITOR, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melepas ekspor 545 ton produk unggas…
MONITOR, Jakarta - Program Studi Pendidikan Agama Islam (Prodi PAI) pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan…
MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk menutup tahun 2025 dengan kinerja keuangan yang…
Oleh : Bobby Ciputra* Bagaimana jika sebuah rezim tidak dijatuhkan melalui perang panjang, tetapi hanya…
MONITOR, Jakarta - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta secara resmi me-launching…
MONITOR, Jakarta - Menteri Perdagangan RI Budi Santoso bersama Menteri Investasi, Industri, dan Perdagangan Uzbekistan…