BERITA

KPPI Temukan Hambatan Layanan Sanitasi, Air Bersih dan Pengelolaan Sampah di Kawasan Pesisir

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI), Rosinah, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil Audit Sosial 2023-2025 yang dilakukan oleh Koalisi PRIMA (Penguatan Representasi dan Inklusi Perempuan dalam Anggaran) di kawasan pesisir menunjukan bahwa 41 persen rumah tangga belum memiliki akses sanitasi aman dan hanya 20 persen yang terhubung dengan jaringan pipa air bersih.

“Kondisi ini menjadikan perempuan pesisir memikul beban ganda, karena perempuan merupakan penanggung jawab utama dalam keluarga untuk menyediakan air bersih, fasilitas sanitasi dan pengelolaan sampah.” Terang Rosinah

Berdasarkan pendataan di 9 kabupaten/kota, yakni di Medan, Tangerang, Semarang, Surabaya, Bangkalan, Lombok Timur, Balikpapan dan Makassar. Kata Rosinah, ditemukan adanya tantangan dan hambatan dalam pemenuhan layanan sanitasi, air bersih dan pengelolaan sampah akibat lahan yang masih berstatus Hak Pakai, HPL dan HGB.

Oleh karena itu, Rosinah berharap ihwal status lahan di pesisir ini segera menjadi perhatian dan prioritas bagi pemerintah. Sehingga pemerintah kabupaten/kota berani untuk melakukan pembangunan di wilayah pesisir. Kondisinya, misal di Kota Semarang Pemkot enggan membangun jaringan perpipaan karena tanah berstatus milik Pelindo; di Makassar situasi serupa terjadi; sedangkan di Medan pembangunan sumur bor bahkan tidak dapat dianggarkan dalam APBD. Kondisi ini menunjukkan bagaimana ketidakjelasan status tanah langsung menghambat pemenuhan hak dasar masyarakat pesisir terhadap layanan air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah.

“Kami berharap ada komitmen pemerintah atas pelibatan kelompok perempuan dan organisasi masyarakat sipil dalam menyelesaikan persoalan ini. Sehingga akan ada kepastian terpenuhinya layanan dasar WASH di wilayah perkampungan pesisir.”Terang Rosinah

Koalisi PRIMA juga mendesak Pemerintah untuk memberikan jaminan perlindungan bagi nelayan untuk mendapatkan pemukiman dan lahan pangan yang layak untuk hidup sejahtera. Hal ini menuntut keselarasan kebijakan antar- Kementerian ATR/BPN, KKP, dan KLHK terkait penerbitan AHT di wilayah pesisir.

Anggota Koalisi PRIMA :

Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI)

Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI);

Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI);

International Budget Partnership (IBP) Indonesia;

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA);

Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI);

Perkumpulan Inisiatif,

Kota Kita, dan

Recent Posts

Legislator Desak Usut Tuntas Temuan 995 Senjata di Sekolah Swasta: Ini Persoalan Serius Menyangkut Keamanan Negara

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, meminta aparat…

2 jam yang lalu

Siswa SMP Tewas Diduga Akibat Di-bully, Waka Komisi X DPR Tegaskan Harus Ada Pembenahan Sistem yang Nyata

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani menyoroti insiden tewasnya…

2 jam yang lalu

Anggap Konten Promo Vape YouTuber Bentuk Eksploitasi, DPR Dorong Penguatan Regulasi

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq menekankan pentingnya penguatan regulasi perlindungan…

3 jam yang lalu

Ramai Isu Nakes Hina Pasien BPJS, Legislator: Pasien Berhak Diperlakukan Dengan Penuh Empati

MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi menyoroti isu sikap nirempati tenaga kesehatan…

3 jam yang lalu

Hingga Agustus 2026 Kementan Terbitkan 889 Sertifikat Hak PVT, ini Daftarnya

MONITOR, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) baru-baru ini kembali menerbitkan Sertifikat Hak Perlindungan Varietas Tanaman…

3 jam yang lalu

Kemenag Raih Popular Government Institutions Award 2026

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama meraih penghargaan Popular Government Institutions Award 2026 dari The Iconomics. Penghargaan…

6 jam yang lalu