PENDIDIKAN

ADPISI Rumuskan Arah Baru Pendidikan Agama di PTU

MONITOR, Banjarmasin – Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam se-Indonesia (ADPISI) menggelar Sarasehan Nasional bertema “Tantangan dan Prospek Pengelolaan Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum (PTU)” di Gedung Lecture Theater Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin.
Kegiatan ini dihadiri puluhan dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi forum penting untuk merumuskan arah baru penguatan PAI di kampus umum.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III ULM, Dr. Rusmin Nuryadin, yang dalam sambutannya menegaskan tiga isu utama yang patut menjadi perhatian bersama. Pertama, standarisasi pelaksanaan Pendidikan Agama Islam agar mutu pembelajaran dan arah kebijakan di kampus umum lebih seragam. Kedua, peningkatan kualitas penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional (MTQMN) sebagai wahana pembinaan karakter dan spiritualitas mahasiswa. Ketiga, penguatan rumah amal kampus sebagai pusat kegiatan sosial dan pengembangan nilai kepedulian berbasis keagamaan. “Ketiga isu ini harus menjadi perhatian dosen PAI karena berhubungan langsung dengan karakter lulusan dan citra akademik perguruan tinggi,” tegasnya.

Usai pembukaan, kegiatan berlanjut dengan sesi paparan gagasan dari tiga tokoh utama ADPISI, yaitu Andy Hadiyanto, Yusuf Hanafi, dan Supian Ramli, serta refleksi penutup dari Iman Firmansyah. Diskusi berlangsung hangat, menampilkan gagasan visioner tentang arah pengembangan PAI di perguruan tinggi umum.

Dalam paparannya, Ketua Umum ADPISI, Andy Hadiyanto, menekankan bahwa penguatan kapasitas dosen PAI di PTU harus diiringi pembaruan orientasi pembelajaran keagamaan yang lebih fungsional, reflektif, dan berdampak. Menurutnya, pendidikan agama perlu menjadi ruang dialog yang mempertemukan nilai-nilai iman dengan tantangan sains, teknologi, dan kehidupan sosial. “PAI di kampus umum harus menjadi wahana berpikir kritis yang memadukan antara logika akademik dan etika spiritual,” ujarnya.

Andy juga mendorong pembukaan program studi keagamaan yang relevan dan aplikatif, seperti Pendidikan Agama Islam, Komunikasi dan Penyiaran Islam, Manajemen Umrah dan Haji, serta Wisata Religi. Program-program ini, katanya, bukan sekadar memperluas ruang akademik, tetapi juga menghadirkan agama dalam bentuk yang membumi, solutif, dan kontributif bagi masyarakat. “Kampus umum memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium nilai, tempat di mana agama dan ilmu berkolaborasi membentuk manusia paripurna,” tambahnya.

Sekretaris Jenderal ADPISI, Yusuf Hanafi, menyoroti belum adanya standar nasional kurikulum PAI di perguruan tinggi umum yang hingga kini menyebabkan perbedaan signifikan antaruniversitas. “Ada kampus yang menempatkan PAI sebagai inti karakter, ada pula yang menjadikannya sekadar pelengkap. Ini menunjukkan perlunya panduan kurikulum yang jelas dan fleksibel,” ujarnya.

Yusuf menekankan pentingnya kolaborasi antara Kemendiktisaintek, Kementerian Agama, dan perguruan tinggi untuk membentuk kebijakan nasional yang menyatukan arah pembinaan keagamaan di kampus umum. “PAI tidak boleh berjalan sendiri; ia harus menjadi bagian integral dari pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter, moderat, dan berdaya saing,” tegasnya.

Dari sisi pengalaman lapangan, Supian Ramli, Ketua Bidang III ADPISI, membagikan kisah sukses Universitas Jambi (UNJA) dalam memperkuat posisi PAI. Ia mengungkapkan bahwa pada awalnya, mata kuliah PAI di UNJA hanya diajarkan setiap semester ganjil sehingga dosen PAI tidak memiliki beban mengajar di semester genap. “Kondisi itu membuat peran dosen PAI sempat terbatas,” kenangnya.

Namun berkat kegigihan para dosen PAI, situasi berubah. Mereka aktif di kegiatan kemahasiswaan, riset lintas disiplin, hingga pelatihan karakter mahasiswa. Upaya itu akhirnya membuka ruang dialog konstruktif dengan pimpinan universitas, dan kini pembelajaran PAI di UNJA menjadi lebih dinamis dan terintegrasi dalam berbagai program kampus. “Kebijakan baru lahir dari ketekunan dan kolaborasi. PAI kini mendapat ruang yang lebih luas dan strategis,” ujarnya.

Sebagai penutup, Iman Firmansyah, Ketua Divisi SDM ADPISI, menguraikan sejarah berdirinya ADPISI serta peran strategisnya dalam memperkuat pembelajaran PAI di perguruan tinggi umum. Ia menjelaskan bahwa ADPISI lahir dari kesadaran kolektif dosen PAI di seluruh Indonesia yang menghadapi keterbatasan kebijakan dan dukungan kelembagaan. “ADPISI dibentuk sebagai wadah perjuangan intelektual dan kolaboratif untuk memperkuat posisi dosen PAI dan memperbarui sistem pendidikan keagamaan di kampus umum,” ungkapnya.

Iman menambahkan, ADPISI bergerak melalui tiga pilar strategis: penguatan brainware untuk peningkatan kompetensi dosen dan jejaring akademik; penyiapan software berupa model kurikulum dan bahan ajar kontekstual; serta penyediaan hardware berupa fasilitas dan dukungan teknologi pembelajaran. “Ketiganya harus bersinergi agar PAI di PTU menjadi lebih relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Sarasehan yang berlangsung dinamis ini menghasilkan kesepahaman bahwa penguatan PAI di perguruan tinggi umum harus dilakukan secara sistemik dan berkelanjutan—melibatkan sinergi antara kebijakan nasional, pengembangan SDM, dan inovasi kurikulum. Para peserta sepakat bahwa PAI bukan sekadar mata kuliah wajib, tetapi fondasi nilai dan kebijaksanaan yang menuntun arah pengembangan ilmu pengetahuan di kampus umum.

Menutup kegiatan, Andy Hadiyanto menyampaikan bahwa PAI harus menjadi “jantung moral” pendidikan tinggi. “PAI bukan hanya pengajaran agama, tetapi penggerak nilai yang memadukan logika, iman, dan tanggung jawab sosial. Kampus umum harus menjadi ruang tempat ilmu dan etika tumbuh bersama,” ujarnya.

Recent Posts

Kemenperin Perkuat Daya Saing Industri melalui Layanan Sertifikasi Terintegrasi

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus memperkuat langkah strategis dalam mempercepat transformasi industri nasional yang…

12 menit yang lalu

Program Pendampingan Pertapreneur Aggregator Diklaim Sukses Dongkrak Pendapatan UMK

MONITOR, Jakarta – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat dukungannya bagi usaha mikro dan kecil (UMK) melalui…

47 menit yang lalu

Komisi I DPR Kutuk Serangan Israel terhadap Prajurit TNI di Lebanon

MONITOR, Jakarta — Anggota Komisi I DPR RI Rizki Aulia Rahman Natakusumah mengutuk keras serangan…

5 jam yang lalu

Sidang Perdana Korupsi Satelit Navayo Digelar di Jakarta, Tiga Terdakwa Dihadapkan ke Pengadilan Militer

MONITOR, Jakarta - Sidang perdana kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan satelit Navayo…

6 jam yang lalu

Pemerintah Klaim Manufaktur Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global

MONITOR, Jakarta - Sektor manufaktur nasional kembali menunjukkan ketahanannya di tengah ketidakpastian kondisi global seperti…

8 jam yang lalu

Apresiasi Inovasi Kopi Rempah KEPOTA, Komisi IV DPR ajak Masyarakat Hilirisasi Produk Hutan

MONITOR, Bogor - Komisi IV DPR RI menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi produk perhutanan sosial…

8 jam yang lalu