PBAK UIN Jakarta
MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, meminta kepada para mahasiswa, terutama mahasiswa baru untuk memupuk ataupun menanamkan integritas mulai dari sejak dini atau ketika masih duduk di bangku perkuliahan.
Hal itu disampaikan oleh Basuki saat menjadi Keynote Speech dengan tema ‘Menanamkan Nilai-nilai Integritas dalam Membangun Budaya Akademik Anti-Korupsi: Pendidikan Tinggi untuk Indonesia Berintegritas’ dalam acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2025 Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tangerang Selatan, Banten, Kamis 28 Agustus 2025.
Basuki mengungkapkan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam hal pemberantasan korupsi. Menurut Basuki, mahasiswa adalah calon pemimpin, calon pembuat perubahan dan calon penopang bangsa di masa depan.
“Menjadi mahasiswa biasa saja tidak cukup. Dunia butuh lebih dari sekadar gelar dan nilai. Siapkan diri dengan karakter, kreativitas dan mentalitas terbaik untuk menjadi pembeda,” ungkapnya.
Untuk itu, Basuki menyampaikan, mahasiswa harus menanamkan integritas sejak di bangku perkuliahan dan merawatnya hingga nanti terjun ke tengah-tengah masyarakat.
“Berbagai indikator menunjukkan bahwa integritas nasional masih rentan. Pelanggaran integritas masih marak terjadi di dunia pendidikan. Jika ruang akademik kehilangan integritas, maka masa depan bangsa kehilangan pondasinya,” ujarnya.
Basuki mengatakan, dalam skema Trisula Pemberantasan Korupsi KPK, pendidikan menjadi salah satu pilar utama bersama pencegahan dan penindakan.
“Pendidikan adalah akar yang menumbuhkan integritas. Pendidikan dapat menanamkan nilai yang membentuk karakter, melahirkan perilaku berintegritas dan pada akhirnya menciptakan budaya antikorupsi yang sehat di masyarakat,” katanya.
Oleh karena itu, Basuki mengungkapkan, sejalan dengan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK, khususnya Pasal 7 Huruf C, maka sudah menjadi kewajiban bagi KPK untuk memberikan pendidikan antikorupsi kepada para mahasiswa.
“Perguruan tinggi adalah benteng terakhir akal sehat. Apabila pendidikan antikorupsi diserap oleh mahasiswa, misalnya yang ada disini berapa? Ada sekitar 832 mahasiswa baru melaksanakan kegiatan antikorupsi, maka suatu saat nanti memegang jabatan, ada yang jadi dosen, ada yang jadi rektor, ada yang di KPK, di perusahaan, kalau kalian menyerap pendidikan antikorupsi, maka Insya Allah tidak akan terjadi korupsi nantinya itu,” ungkapnya.
Basuki pun mencontohkan penyelenggaraan PBAK di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta ini. Menurut Basuki, jika para mahasiswa yang menjadi panitia diberi anggaran dan menggunakannya secara jujur dan penuh integritas, maka hasilnya pun akan maksimal.
“Itulah inti antikorupsi, yang harus kita tanamkan sedini mungkin, sehingga nanti jika saudara-saudara menjadi pejabat misalnya, benar-benar mempunyai integritas. Semoga para mahasiswa dan pemuda, khususnya mahasiswa UIN berintegritas,” ujarnya.
Basuki mengatakan, pemberantasan korupsi membutuhkan peran semua pihak dan harus dilakukan secara simultan.
“Pendidikan itu memberikan kita moralitas dan sikap untuk jujur dan tidak ingin untuk korupsi. Kalau kita sudah berpikiran seperti itu, maka walaupun kita memiliki kesempatan, ada kewenangan, tentu tidak akan berbuat korupsi,” katanya.
Basuki menegaskan, pendidikan, pencegahan dan penindakan harus berkesinambungan dan bersama-sama, tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Kemudian pencegahan, salah satu bentuk pencegahan adalah dibuatnya peraturan-peraturan yang melarang untuk melakukan korupsi atau mempersulit terjadinya korupsi. Jadi dengan adanya regulasi-regulasi, aplikasi atau sistem, maka saudara akan tertahan untuk melakukan kecurangan-kecurangan,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ade Abdul Hak, sangat mengapresiasi kehadiran Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo tersebut.
“Kehadiran tokoh dari KPK pada hari ini bukanlah sekadar simbol, melainkan sebuah pesan mendalam bagi kita semua. KPK adalah benteng terakhir dalam menjaga marwah bangsa dari ancaman korupsi, dan kehadiran beliau di ruang akademik ini adalah pengingat bahwa pergulatan melawan korupsi tidak hanya berlangsung di gedung-gedung pemerintahan, tetapi juga bermula dari ruang kelas dan kehidupan kampus,” ujarnya.
Ade mengatakan, PBAK bukan hanya tentang mengenalkan mahasiswa pada budaya akademik, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa integritas adalah fondasi utama seorang intelektual.
“Mahasiswa harus memahami bahwa korupsi tidak hanya berupa pencurian uang negara, melainkan juga pencurian masa depan generasi. Karena itu, pesan moral dan keteladanan dari KPK hari ini adalah warisan berharga: bahwa sejak dini, sejak melangkah di pintu kampus, integritas harus menjadi napas perjuangan,” katanya.
Untuk itu, Ade pun memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo atas kehadiran, inspirasi, sekaligus menegaskan bahwa perguruan tinggi bukanlah menara gading yang terpisah dari realitas bangsa, melainkan medan pertempuran moral yang menentukan arah masa depan negeri.
“Dengan hadirnya KPK di tengah mahasiswa baru, kita sedang mengikat janji bersama: bahwa kampus ini akan menjadi ruang subur bagi lahirnya generasi intelektual yang jujur, berani dan berpihak pada kebenaran,” ungkapnya.
MONITOR, Makassar - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menjawab kegelisahan pengusaha…
MONITOR, Jakarta - Direktorat Penerangan Agama Islam (Penais) Kementerian Agama membuka pendaftaran Bimbingan Teknis (Bimtek)…
MONITOR, Makassar - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman meluncurkan program Lokamodal…
MONITOR, Jakarta - Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri pembukaan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh…
MONITOR, Jakarta - Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon atau Cyber Islamic University…
MONITOR, Jakarta - Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) direncanakan akan digelar pada tanggal 27-29 September…