PENDIDIKAN

UIN Jakarta Bentuk Komite Etik Penelitian, Kawal Kualitas Riset

MONITOR, Jakarta – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta membentuk Komite Etik Penelitian (KEP) pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta. Komite ini akan berperan sebagai Institutional Review Board.

Pembentukan KEP ini diresmikan oleh Rektor UIN Jakarta Asep Saepudin Jahar, Jumat (18/7/2025). Peluncuran komite Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Ali Munhanif M.A., Ph.D., Ketua LP2M UIN Jakarta Prof. Amelia Fauzia, Ketua Komite Etik Penelitian Prof. Bambang Suryadi, Ph.D., dan Deputy Head of School (Research) University New South of Wales Prof. Minako Sakai Ph.D., sebagai Pembicara Tamu. Hadir juga, dihadiri civitas academica UIN Jakarta, mulai dari jajaran pimpinan, guru besar, dosen, peneliti, dan mahasiswa.

Rektor UIN Jakarta, Asep Saepudin Jahar, mengaku sudah lama mendorong pembentukan Komite Etik Penelitian. Menurutnya, kehadiran komite ini merupakan bagian penting dari upaya menjaga mutu dan integritas riset di lingkungan kampus. Rektor juga mendorong seluruh civitas agar lebih kolaboratif dalam ruang-ruang penelitian, dengan tetap mengedepankan orisinalitas dan objektivitas.

“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi hingga hari ini, karena saya pribadi sudah lama mendorong para stakeholder agar segera membentuk komite ini,” ujar Rektor.

Ketua LP2M Prof. Amelia Fauzia mengungkapkan, keberadaan Komite Etik Penelitian sangat penting untuk memastikan seluruh proses penelitian baik oleh UIN Jakarta berjalan sesuai etika penelitian. UIN Jakarta menjadi PTKIN pertama yang membentuk Komite Etik Penelitian. “UIN Jakarta yang memiliki keberagaman bidang ilmu, terutama untuk topik kedokteran, psikologi dan agama menuntut ethic approval. Latar belakang inilah yang mendorong pembentukan komite ini,” ujarnya.

Ketua Komite Etik Penelitian, Bambang Suryadi, menjelaskan bahwa posisi komite ini bukan berada dalam ranah etik akademik, melainkan menilai kelayakan etis dari setiap usulan riset. Tujuan utamanya adalah memastikan penelitian memenuhi standar etik, serta memberikan perlindungan bagi subjek, objek, dan masyarakat yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses penelitian.

Prof. Bambang juga memaparkan struktur organisasi Komite Etik Penelitian yang terbagi ke dalam beberapa klaster keilmuan untuk menjamin penilaian etik yang lebih relevan sesuai bidangnya. Ia sendiri menjabat sebagai Ketua, didampingi Prof. Irma Nurbaeti, M.Kep., Sp. Mat., Ph.D., sebagai Sekretaris Umum. Klaster Kedokteran diketuai oleh dr. Mahesa Paranadipa Maikel, M.H., MARS bersama Prof. Dr. Endah Wulandari, S.Si., M.Biomed., sementara klaster Ilmu Kesehatan diampu Prof. Irma Nurbaeti dan Dr. Minsarnawati, SKM, M.Kes.

Adapun klaster Psikologi dipimpin langsung oleh Prof. Bambang Suryadi bersama Farhanah Murniasih, M.Si. Klaster Islam, Sosial, dan Humaniora ditangani oleh Mutiara Pertiwi, M.A., Ph.D. dan Windy Triama, Ph.D. Untuk klaster Pendidikan diisi oleh dr. Ahmad Bahtiar, M.Hum. serta Umi Kultsum, M.A., Ph.D. Sementara pada klaster Sains dan Teknologi, tercatat Prof. Dr. Lily Surayya Eka Putri, M.Env.Stud. dan Qamarul Huda, M.Kom., Ph.D. sebagai penanggung jawab.

Sebagai pembicara tamu, Prof. Minako Sakai, Ph.D., turut memberikan perspektif internasional terkait pentingnya penerapan etika dalam riset akademik. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi pentingnya identifikasi risiko potensial dalam penelitian, termasuk ketidaknyamanan, tekanan psikologis, kemungkinan kerugian, hingga risiko terhadap kelayakan kerja subjek riset di masa depan.

Menurut Minako, pendekatan etik yang kuat bukan hanya menjadi standar formal, tetapi juga menjadi cerminan tanggung jawab akademik dan empati peneliti terhadap masyarakat. “Perhatian terhadap ethic clearance sejalan dengan misi Internasionalisasi yang dibawa oleh Pak Rektor, karena jika kita sudah berbicara tentang internasional, mereka akan menanyakan persetujuan etik atas penelitian,” tuturnya.

“Jadi KEP ini juga menjadi salah satu pembuka bagi sejawat peneliti yang ingin berkolaborasi dengan dunia internasional,” pungkasnya. 

Recent Posts

Libur Paskah 2026, 352 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek, Jasa Marga Pastikan Layanan Optimal

MONITOR, Jakarta – PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 352.578 kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek pada…

10 jam yang lalu

Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN 2026 Kian Kompetitif, 143 Ribu Pendaftar Berebut Kursi Kampus Islam Berkelas Dunia

MONITOR, Surabaya – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) semakin menunjukkan daya tariknya sebagai destinasi utama…

12 jam yang lalu

201 Ribu Kendaraan Melintas di Tol Regional Nusantara, Naik 10,14 Persen

MONITOR, Jakarta – Arus lalu lintas di sejumlah ruas tol yang dikelola Jasamarga Nusantara Tollroad Regional…

12 jam yang lalu

DPR RI dan Parlemen Inggris Perkuat Diplomasi Konservasi

MONITOR, Jakarta – DPR RI menerima kunjungan delegasi United Kingdom All-Party Parliamentary Group (APPG) on…

16 jam yang lalu

Menaker: Hubungan Industrial Harus Naik Kelas agar Pekerja Tak Tertinggal oleh AI

MONITOR, Jakarta — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengingatkan pekerja/buruh dan pengusaha agar tidak berhenti pada hubungan…

1 hari yang lalu

GNTI Salurkan Bibit Jagung, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

MONITOR, Serang - Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung sektor pertanian…

1 hari yang lalu