PARLEMEN

Prof Rokhmin Tekankan Imtak dan Dukung Blue Economy di Indramayu

MONITOR, Jabar – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDIP, Prof. Rokhmin Dahuri, menjadi salah satu pembicara utama di seminar nasional yang di selenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Universitas Wiralodra dengan tema tata kelola pemerintahan daerah dalam bingkai otonomi daerah pasca pilkada untuk mewujudkan good government and clean government di era digitalisasi pada Kamis, 30/1/25.

Acara seminar ini dihadiri, H. Deddi Mulyadi, SH., MM (Gubernur Provinsi Jawa Barat Terpilih),  Dr. Fahri Bachmid, M.H  (Pakar Hukum Tata Negara), Alfiansyah Bustomi Komeng (Anggota DPD RI) dan Lucky Hakim, S.E (Bupati Indramayu Terpilih).

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri membahas beberapa topik penting terkait tata kelola pemerintahan daerah, terutama tentang bagaimana Kabupaten Indramayu dan Provinsi Jawa Barat dapat membangun wilayah mereka untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan dan berimbang.

“Dengan landasan yang kuat, suatu wilayah akan mampu melangkah lebih jauh menuju kemajuan yang lebih baik,” ujarnya.

Anggota Komisi IV DPR RI itu menekankan pentingnya imtak yang kokoh bagi pemimpin daerah atau negara. Menurut beliau, pemimpin yang tidak memiliki imtak yang kuat cenderung tidak menjalankan tugasnya dengan jujur dan bertanggung jawab, serta lebih fokus pada pencitraan daripada pelayanan yang sebenarnya kepada masyarakat.

Dengan demikian, pemimpin yang memiliki imtak yang kuat diharapkan dapat membawa perubahan positif dan pembangunan yang berkelanjutan bagi wilayah yang dipimpinnya.

“Perhatikan orang yang tidak percaya hari akhirat tercermin tidak shalat, pembohong, munafik. Maka pemimpin daerah atau negara yang tidak punya imtak yang kokoh pasti munafik dan kerjanya pencitraan,” tegasnya.

Guru Besar IPB University berharap Kabupaten Indramayu dan Provinsi Jawa Barat dapat mencapai pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat.

Prof. Rokhmin memaparkan, pentingnya Blue Economy (Ekonomi Biru) dan Green Economy (Ekonomi Hijau),  Digital Economy (Industry 4.0), dan Pancasila, dalam pembangunan sektor-sektor seperti industri, pertanian, kelautan perikanan, dan pariwisata agar ramah lingkungan.

Blue Economy mencakup pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sementara Green Economy berfokus pada pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

“Dengan menerapkan konsep-konsep ini, diharapkan dapat menciptakan pembangunan yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga adil dan makmur,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri.

Recent Posts

Kementerian UMKM dan Barantin Permudah Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor

MONITOR, Palu – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bekerja sama dengan Badan Karantina…

7 jam yang lalu

IPIM Banten Sambut Positif Terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI Petama

MONITOR, Jakarta - Ketua Umum PW IPIM Provinsi Banten, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyambut…

12 jam yang lalu

Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah 2026 Catatkan Transaksi Rp5,7 Miliar

MONITOR, Madiun – Penyelenggaraan Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah tahun 2026 yang diselenggarakan…

13 jam yang lalu

IGIC 2026 Pilih Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI dan Hasilkan Jakarta Understanding

MONITOR, Jakarta - International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 sepakat untuk membentuk The International Assembly…

16 jam yang lalu

Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif

MONITOR, Serang - Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Nony Menawati melantik Pengurus Pimpinan Anak Cabang…

18 jam yang lalu

Peternak Lumajang Ari Borong Empat Gelar di Kontes Ternak DKPP 2026

MONITOR, Lumajang - Peternak asal Kabupaten Lumajang, Ari, meraih empat gelar juara dalam Kontes Sapi,…

2 hari yang lalu