MALUKU-PAPUA

Karantina Papua Selatan Ingatkan Masyarakat Untuk Waspada Penyakit Demam Babi Afrika

MONITOR, Merauke – Badan Karantina Indonesia melalui Karantina Papua Selatan mengingatkan seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan di Papua Selatan untuk waspada terhadap penyakit demam babi Afrika.

Kepala Karantina Papua Selatan Cahyono mengatakan tingkat kematian babi yang terkena mencapai 100%. Hal ini akan merugikan peternak babi di seluruh Papua Selatan, apalagi menjelang Natal 2024 daging babi disuguhkan pada hidangan.

“Mari kita jaga Provinsi Papua Selatan agar virus ASF tidak sampai disini. Kepada seluruh peternak untuk menerapkan biosekuriti kandang dan manajemen peternakan babi yang baik, kemudian memberikan pakan dari pabrik yang jelas kebenarannya, atau makanan yang telah diolah” ungkap Cahyono dalam keterangannya kepada media, Jum’at (13/12/2024).

Sebagai informasi, Penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus (Genus: Asfivirus, Family: Asfarviridae) yang dapat menyerang ternak babi dan babi liar dengan jenjang semua umur.

Penularan virus ASF dapat melalui penularan langsung yaitu adanya kontak langsung dengan babi tertular ASF, kemudian penularan tidak langsung dapat melalui pakan sisa (swill), orang (peternak, pedagang, dokter hewan, paramedis, anak kandang,dll), fomites (objek atau material yang dapat membawa agen penyakit, antara lain: pakaian, sepatu/sandal, peralatan, kendaraan).

Sebelumnya, beberapa waktu lalu terjadi wabah virus ASF di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Badan Karantina Indonesia melalui Deputi Bidang Karantina Hewan mengeluarkan edaran nomor : 4087/KR.120/C/12/2024.

Edaran yang di tandatangani oleh Deputi Karantina Hewan Sriyanto meminta seluruh Balai Karantina Indonesia diseluruh Indonesia untuk melarang pengeluaran babi dan produknya ke Kabupaten Nabire hingga penyakit ASF di Kabupaten Nabire dapat Terkendali.

Kemudian melakukan profiling risiko menyebarnya ASF di wilayah masing-masing dengan memperhatikan status dan situasi ASF di daerah lain serta melakukan pengetatan pengawasan di tempat pemasukan terhadap pemasukan babi dan produknya.

Selanjutnya melakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada stakeholder, masyarakat pengguna jasa karantina dan pemangku kepentingan ditempat pemasukan dan pengeluaran tentang bahaya ASF dan risiko masuknya dan meningkatkan implementasi biosekuriti terhadap lalu lintas MP HPHK, alat angkut, barang dan penumpang. Biosekuriti dilakukan di Instalasi Karantina Hewan, tempat pemasukan dan tempat pengeluaran.

Recent Posts

Kemenag Buka Pendaftaran Murid Baru Madrasah 2026/2027, Cek Jadwalnya!

MONITOR, Jakarta - Kementerian Agama (Kemenag) membuka seleksi penerimaan murid baru madrasah (PMBM) 2026/2027. Pendaftaran…

1 jam yang lalu

Sambut 100 Tahun Masehi NU, PCNU Kota Depok Gelar Jalan Santai Kebangsaan Berhadiah Paket Umroh

MONITOR, Kota Depok - Dalam rangka peringatan 100 tahun Masehi Nahdlatul Ulama pada 2026, Pengurus…

8 jam yang lalu

Suviyanto Minta Petugas Haji 2026 ‘Mewakafkan Diri’ Layani Jemaah

MONITOR, Jakarta - Penguatan fisik dan mental bagi seluruh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menjadi…

10 jam yang lalu

Mahfuz Sidik: Partai Gelora Berbobot dan Layak Dipilih di Pemilu 2029

MONITOR, Jakarta - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Mahfuz Sidik mengatakan, memasuki…

11 jam yang lalu

Wamenag Romo Syafi’i Fokus Benahi Tata Kelola Gedung dan Data Kemenag

MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i akan fokus pada pembenahan tata…

12 jam yang lalu

Terpilih Jadi Presiden Dewan HAM PBB, DPR: Indonesia Harus Independen

MONITOR, Jakarta - Terpilihnya Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB tahun 2026…

15 jam yang lalu