Sabtu, 1 Oktober, 2022

Kementan Sosialisasikan Penggunaan Agensia Hayati dan Pestisida Nabati Secara Masif di Jambi

MONITOR, Jambi – Paska pandemi Covid 19 dan di masa konflik Rusia-Ukraina, pupuk kimiawi semakin sulit ditemukan dan langka. Jika ada pun harganya mahal sehingga tidak terjangkau oleh petani. Melihat ini Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan terus berupaya mensoisalisasikan penggunaan agensia hayati sebagai pupuk hayati dan pemanfaatan pestisida nabati sebagai pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman pertanian.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Takdir Mulyadi pada saat mengungjungi Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi menyampaikan bahwa program Pemberdayaan Petani dalam Pemasyarakatan PHT (P4) dan Dem Area Budidaya Tanaman Sehat (BTS) yang telah diluncurkan sejak tahun 2021 lalu memberikan kontribusi nyata terhadap penderasan pemanfaatan agensia hayati dan pestisida nabati dalam mengelola OPT sekaligus dalam rangka meningkatkan produktivitas tanaman pangan.

“Bapak/Ibu petani tidak usah risau akan kelangkaan pupuk dan mahalnya harga pestisida, karena alam sudah menyediakan bahan yang berlimpah asalkan kita mau berfikir dan memanfaatkannya. kepada petani pelaksana program P4 tahun 2022 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Jangan ada lagi diskusi panjang mengenai sulitnya mendapatkan pupuk, marilah kita memanfaatkan momentum ini untuk mulai menghasilkan pupuk hayati sendiri dari agensia hayati dari lingkungan sekitar kita” Ujar Takdir Mulyadi.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi (TPHP) Provinsi Jambi, Ahmad Maushul di tempat yang sama menegaskan bahwa sudah saatnya petani mandiri pupuk dan bahan pengendali OPT, jangan selalu bergantung pada pabrikan kalau bisa membuat sendiri.

- Advertisement -

“Kegiatan P4 adalah ilmu, kita harus selalu haus akan ilmu. Ilmu jangan disia-siakan dan jangan disimpan sendiri, tetapi harus ditularkan kepada yang lainnya agar banyak memberikan manfaat dalam kehidupan ini”, imbuh ahmad Maushul.

Sunanto, Kelompok Tani Suka Jaya Kabupaten Tanjung Jabung Timur menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam bagi pemerintah pusat dan juga dukungan dari pemerintah daerah atas kegiatan yang diberikan. Petani berupaya penuh dalam memaksimalkan penggunaan bahan-bahan ramah lingkungan dan berkelanjutan seperti pupuk organik dan PGPR. Bahkan kelompok tani mereka juga memanfaatkan urine dari ternak sapi untuk mengendalikan hama tikus.

“Sebelumnya kami menggunakan bahan kimia sebagai agroinput, sekitar 70-80%, tetapi yang kami rasakan, tanah kami menjadi rusak dan kritis, dan produksinya semakin menurun, Untuk itu kami bertekad akan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan agar kondisi tanah kami bisa pulih dan bisa mendukung produktivitas lahan kami. Kami berkomitmen akan meninggalkan bahan kimia dan kembali menggunakan bahan-bahan alami dalam aktivitas pertanian kami” Jelas

Terpisah Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi memerintahkan agar Kementan terus berupaya membantu pengawalan pertanaman dari serangan hama dan penyakit dengan mengutamakan pengendalian OPT yang ramah lingkungan, mengedepankan sistem
pengelolaan hama terpadu menjadi hal yang utama dalam menjaga kualitas dan kuantitas sehingga target peningkatan produksi pangan nasional dapat tercapai.

“Saya berharap semua jajaran khususnya Kementan fokus terkait pengendalian OPT dengan tetap mengutamakan cara-cara yang ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian lingkungan
sehingga keberlangsungan pertanian tetap terjaga untuk anak cucu kita nanti. Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sistem pengelolaan hama terpadu menjadi hal yang utama dalam menjaga kualitas dan kuantitas sehingga target peningkatan produksi pangan nasional dapat tercapai” tutup Suwandi.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER