INTERNASIONAL

Pengamat: Konflik Ukraina Berpotensi Picu Perang Dunia Ketiga

MONITOR, Jakarta – Pengamat Pertahanan dan Militer Robi Sugara menyatakan kekhawatiran terhadap skenario terburuk dari serangan militer Rusia ke Ukraina, sebab hal itu dapat memicu Perang Dunia Ketiga.

“Jadi dunia harus mempersiapkan pencegahannya,” ungkap Robi Sugara dalam keterangannya, Jumat (25/2/2022).

Menurut Dosen Pengkajian Stratejik Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, ada tiga hal serangan militer Rusia ini bisa menyebabkan Perang Dunia Ketiga benar-benar terjadi. Pertama, Rusia tidak berhenti melakukan serangan militer dan mengirimkan pasukan angkatan daratnya ke Ukraina.

Kedua, negara-negara sekutu dan dekat Amerika dan Barat menekan Rusia untuk menghentikan serangan dan menarik mundur pasukannya sehingga menjatuhkan sangsi ekonomi terhadap Rusia. Dan ketiga, reaksi dari negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang dengan Rusia akibat dari sangsi ekonomi nanti.

Jika sangsi ekonomi berhasil dilakukan ke Rusia, kata Robi akan terjadi polarisasi dukungan antara yang setuju sangsi ekonomi akhirnya tidak bisa berdagang dan tidak setuju dengan sangsi itu, dan akhirnya tetap berdagang dengan Rusia.

“Mereka yang tetap berdagang dengan Rusia, akan disebut sebagai negara-negara pendukung pada invasi Rusia ke Ukraina dan secara otomatis menjadi musuh dari Amerika dan negara-negara Barat,” pungkas Robi.

Robi mengatakan saat ini Rusia hanya menunggu dari negara aliansinya untuk menyerukan dukungan kepada tindakan militernya. “Jika Iran dan Suriah, disusul China melakukan dukungan atas tindakan Rusia, maka Perang Dunia benar-benar akan terjadi dan dimulai kembali di Kawasan Eropa seperti perang dunia sebelumnya,” ujar Robi.

Iran dan Suriah, kata Robi, bisa mendukung tindakan Rusia sebagai balas budi atas jasa yang dilakukan Rusia dalam membantu perang di Suriah. Sementara China, bisa berpikir seperti Rusia dimana Amerika dan negara-negara Barat akan memperlakukan China di Asia Pasifik terhadap konflik laut China Selatan, Taiwan dan Hongkong sama seperti memperlakukan Ukraina.

Akan tetapi, Robi berharap bukan itu skenarionya. Para pemimpin dunia, termasuk Rusia mampu menahan diri sehingga terjadi perundingan dengan ditandai gencatan senjata.

“Solusi terbaik meski bakalan rumit adalah Rusia menghentikan serangan militernya dan NATO menarik mundur pasukannya di perbatasan Ukraina,” jelas Robi.

Recent Posts

Prof. Rokhmin Dahuri Raih Aquaculture Lifetime Achievement Award di ICFA 2026

MONITOR, MIRI, SARAWAK - Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S. menerima Aquaculture Lifetime Achievement…

7 jam yang lalu

Wamen UMKM Pastikan Pengusaha Terdampak Bencana Pulih dan Naik Kelas

MONITOR, Padang – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berkomitmen memperkuat pendampingan bagi pengusaha…

9 jam yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Wantimpres Memiliki Peran Strategis dalam Memperkuat Kualitas Kebijakan Negara

MONITOR, Jakarta - Pelantikan 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi…

9 jam yang lalu

Rokhmin Dahuri: Ekonomi Biru Jadi Game Changer Indonesia Menuju 2045

MONITOR, Tanjungpinang - Indonesia dinilai memiliki modal strategis untuk memainkan peran lebih besar dalam ekonomi…

20 jam yang lalu

Tinjau Peserta TIH, Menaker Minta Buktikan Keunggulan Produk

MONITOR, Bekasi — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta peserta Talent and Innovation Hub (TIH) memastikan…

1 hari yang lalu

Menjangkau Siberut Memperkuat Wirausaha Terdampak Bencana

MONITOR, Jakarta - Di tengah bentang Samudra Hindia, Pulau Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra…

2 hari yang lalu