Kamis, Mei 26, 2022

Aktivis Perempuan Tasikmalaya Harap Rektor Terpilih Unsil Progresif dan Inklusif

MONITOR, Jakarta – Aktivis perempuan muda di Tasikmalaya, Neni Nur Hayati, sekaligus Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia angkat bicara terkait dengan pemilihan rektor Universitas Siliwangi atau Unsil.

Diketahui saat ini telah ada tujuh Bakal Calon Rektor Unsil Periode 2022-2026, tiga diantaranya dari eksternal dan empat calon dari internal. Menurutnya, rektor adalah pemimpin di perguruan tinggi. Kebijakannya jelas akan sangat menentukan arah universitas yang akan datang. Maka, sangat penting untuk mengenali dengan baik rekam jejak para kandidat rektor.

“Saya berharap bahwa rektor terpilih nanti adalah yang progresif, konstruktif, pemimpin yang inklusif, tidak menutup diri dari aspirasi dan tidak alergi atas berbagai macam kritik, memiliki jejaring yang luas baik itu lokal, nasional dan international, ada jaminan kebebasan melakukan diskusi ilmiah serta memiliki kemampuan manajerial yang kompeten,” terang Neni dalam keterangannya, Selasa (18/1/2022).

Neni juga mendorong agar publik dapat terlibat untuk berpartisipasi aktif dengan memberikan masukan dan saran bakal calon rektor, sehingga rektor terpilih mampu memenuhi harapan yang tinggi untuk membawa Unsil masuk sebagai perguruan tinggi terbaik, memberdayakan seluruh potensi alumni, mampu menjawab berbagai dinamika dan tantangan dalam dunia perguruan tinggi.

- Advertisement -

“Ekspose publik menjadi kesempatan bagi masyarakat secara luas untuk mengenal rekam jejak dan visi misi bakal calon rektor agar dapat memberikan hasil yang terbaik, tidak hanya untuk perbaikan Unsil kedepan, tetapi juga bangsa Indonesia,” ujar Neni.   

Sebagai aktivis perempuan, Neni berharap kampus unsil menjadi universitas yang terbebas dari kasus kekerasan seksual. Meningkatnya kasus kekerasan seksual di berbagai kampus lainnya harus menjadi alarm yang kuat dan melakukan pencegahan dengan maksimal agar kasus tersebut jangan sampai terjadi di kampus Unsil.

“Saya juga berharap bahwa bakal calon rektor memiliki komitmen kuat untuk melakukan pencegahan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang kerapkali terjadi di perguruan tinggi. Kampus harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh civitas akademika. Oleh karenanya, dibutuhkan figure pemimpin yang memiliki perspektif gender utuh dan baik,” jelasnya.

Neni menekankan agar tidak menggunakan dan memonopoli isu-isu yang remeh temeh untuk memperoleh kemenangan. Semakin banyak alternatif pilihan justru semakin bagus untuk iklim demokrasi di kampus.

“Jangan sampai ada unfairness kontestasi dalam pemilihan rektor ini. Pilihan harus rasional berdasarkan visi misi yang programatik untuk Unsil yang lebih baik, bukan menciptakan isu yang kontraproduktif dan tidak sehat,” tutupnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER