Jumat, 21 Januari, 2022

Berawal Iseng, Peternak Kelinci Lembang Mampu Tembus Pasar Ekspor

MONITOR, Bandung – Warga Lembang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Asep nekat meninggalkan pekerjaanya sebagai potografer demi fokus menggeluti usaha ternak kelinci. Alhasil, usaha yang ia lakoni sejak tahun 1992 itu bisa bertahan hingga sekarang.

“Awalnya Iseng-iseng dari tahun 1992, akhirnya tahun 1995 kerjaan saya tinggal. Jadi fokus menggeluti ternak kelinci hias, sebelumnya saya tukang potret atau potografer,” kata pria yang akrab disapa Asep Rabbit disela menerima kunjungan Ditjen PKH Kementan, Selasa (30/11).

Dikatakan Asep, potensi bisnis ternak kelinci hingga saat ini masih sangat bagus, terutama permintaan untuk kelinci pedaging.

“Sampai sekarang masih bagus, kalau industri mungkin daging cuman belum ada standar dipedaging di indonesia, permintaannya tinggi banget, kita belum bisa memenuhi,” imbuhnya.

- Advertisement -

Bahkan kata Asep, untuk memenuhi permintaan pasar, dirinya juga membuat kelompok usaha ternak kelinci dengan jumlah mecapai 200 kelompok.

“Sementara hias dulu, kita punya kelompok ada kurang lebih 200 peternak yang nginduk kesini (Asep Rabbit),” ujarnya.

Sementara itu, produksi mereka sejak pandemi mengalami penurunan yang siginifikan, dari yang tadinya bisa mencapai 800 ekor anak per hari, kini dia hanya mengirim sebanyak 800 setiap minggunya.

“Sebelum covid sehari 800 ekor anak, sekarang turun. Untuk penjualan sekarang seminggu sekali pengiriman ke Jabodetabek, dulu tiap hari, itu baru tipe lucu-lucuan. Kalau daging kita belum garap, sementara permintaan daging untuk jalan raya Lembang saja 5-6 ton untuk satu minggu.

Sebelum pandemi, untuk mendongkrak pemasaran, kata Asep pihaknya membuka stand-stand pemasaran kelinci di beberapa taman atau di mall.

“Terus dulu sebelum covid kita buka di beberapa taman, terus kita juga ngamen keliling Indonesia di tiap mall-mall besar itu juga lumayan,” imbuh Asep.

Terkait dengan harga kelinci yang ia pasarkan yaitu beragam, dari kisaran 50 ribu sampai ada yang harganya mencapai 7,5 juta per ekornya. Tergantung jenis dan kualitas kelinci.

“Harga kisaran dari 50.000 hingga 7,5 juta per ekor,” tukasnya.

Sementara itu, untuk pasar ekspor pihaknya hanya baru beberapa negara diantaranya Malaysia dan Filipina, Singapore dan Thailand. Akan tetapi untuk Malaysia sejak tahun 2014 sudah stop.

“Untuk ekspor beda, tergantung permintaan mereka untuk hobi, kalau untuk daging kemeren ke Filipina itu dia ambil dari sisni, type new zeland semua dia untuk breading disana,” ungkapnya.

“Malaysia kita tahun 20214 stop dulu karena permintaan tinggi kita enggak ada barang,”tambahnya.

Ketika disinggung soal tingkat kesulitan menggeluti ternak, Asep mengaku tidak mengalami kesulitan dalam membudidaya kelinci.

“Tergantung, budidaya apapun klo dipikir ribet, pasti ribet, enggak sih, kita nyantai banget,” ujarnya sambil berseloroh.

Selain itu lanjut Asep, sejak pandemi omset yang didapat juga mengamai penurunan drastis. Dari yang sebelumnya bisa mencapai empat kali lipat dari biaya produksi, kini untuk untuk mencapai satu setengah kali lipat saja sudah kewalahan.

“Sekarang kecil, Kita biaya produksi anatara 20 juta untuk satu bulan. Kalau sebelum covid mah bisa empat kali lipat. Akan tetapi pasca pandemi ini gak yang terpenting usahanya bisa jalan, Ya bertahan aja lah. sambil berdoa,” imbuhnya sambil tertawa.

Untuk sementara kata Asep, pihaknya hanya bisa memasaekan secara online. Akan tetapi penjualan kurang maksimal.

“Ya paling online, itu pun jalan tapi kan tidak sebagus dulu, yang signifikan kan taman, kalau taman kita buka di 8 titik aja lumayan, sekarang kan karyawan juga kita rumahkan 8 orang. Keseluruhan dulu bisa samapi 15 orang karyawan sama pabrik pakan. Sekarang cuma 1 orang yang kerja disini doang,” tutupnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER