KEAGAMAAN

Gus Hilmy: Hubbul Wathan Minal Iman Sudah Didiskusikan Sejak 500 Tahun Lalu

MONITOR, Jakarta – Nahdlatul Ulama (NU) akrab dengan jargon hubbul wathan minal iman. Jargon itu kembali dimunculkan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan kemudian diabadikan dalam mars Syubbanul Wathan. Tetapi dari mana sesungguhnya jargon tersebut?

Dr. H. Hilmy muhammad, M.A. mengutarakan bahwa hubbul wathan minal iman bukan diungkapkan pertama kali oleh seorang misionaris Kristen bernama Butrus Bustani, tapi sudah didiskusikan di antaranya oleh Imam Sakhawi lebih dari 500 tahun yang lalu.

“Mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman disampaikan oleh Butrus Bustani (1819 M.) adalah pemahaman sejarah yang keliru. Sementara lebih dari 500 tahun yang lalu, Imam Sakhawi (1438 M.) sudah berdialog terkait jargon tersebut. Dan jargon itu memang bukan hadits, tapi kebenaran pengertian itu bisa dibuktikan melalui pernyataan-pernyataan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam, yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap tanah air,” terang pria yang akrab disapa Gus Hilmy pada Seminar Nasional Kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta pada Selasa (19/10) siang melalui aplikasi Zoom.

Selain hubbul wathan minal iman, NU juga memiliki jargon “NKRI Harga Mati”. Keniscayaan dari kedua jargon itu, menurut anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut, santri harus mengambil peran dengan sebaik-baiknya.

“Ketika mencintai negeri kita, maka kewajiban kita adalah berupaya dan memberikan partisipasi semampu kita. Santri dengan demikian tidak cukup belajar agama, tetapi bagaimana berperan dan berupaya mengisi pos-pos yang ada di negara,” ujar Senator asal Yogyakarta itu.

Hari Santri memang baru ditetapkan pada 2015, tetapi sesungguhnya perjuangan untuk itu sudah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya. Di antaranya oleh Almarhum Mohammad Fajrul Falaakh, S.H., MA., M.Sc., putra dari Prof. KH. Tolchah Mansoer dan kakak kandung Dra. Hj. Safira Machrusah, M.A. Pakar Hukum Tata Negara dari UGM ini menjadi salah seorang yang mengkaji dan menggelorakan kembali peran Resolusi Jihad dalam perang melawan penjajah di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan, 10 November. Sayangnya, belum menikmati hasil perjuangannya, beliau sudah meninggal dunia.

Sementara kita sebagai santri yang hari ini mendapatkan berkahnya, menurut Gus Hilmy, memiliki kewajiban untuk mengisi dan membuktikannya. Pertama, santri harus sembodo, artinya kita harus siap dan sadar diri dengan peluang yang sama. Kalau yang lain ada beasiswa, bagi santri juga ada beasiswa khusus santri. Lalu bisa tidak kita mengisinya?

Demikian pula dari sisi kebersihan dan kesehatan pesantren, kita tidak boleh memiliki standar yang buruk. Justru kita harus memantaskan diri bahwa kita layak diberi Hari Santri dan UU Pesantren.

Kedua, santri harus berani, alias memiliki mentalitas pemenang, tidak minderan. Dengan cara demikian, santri bisa meningkat kualitas diri sehingga dapat mengisi ruang-ruang sesuai minat.

Dilanjutkan oleh pembicara kedua, yaitu Hj. Safira Machrusah, ia mengawali dengan memperjelas kembali arti santri dan sejarah pendirian NU. Presentasinya ini menjadi titik untuk melihat peran NU di masa lalu dan kemudian dapat direfleksikan untuk santri saat ini.

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Aljazair tersebut, di masa lalu NU telah berperan bagi perdamaian dunia. Salah satunya ditunjukkan dengan dukungan kepada kemerdekaan Aljazair pada 1962. Selain itu, NU juga terlibat dalam perdamaian Kaum Pattani Thailand dengan negaranya. Peran-peran perdamaian NU lainnya terlalu banyak untuk disebutkan, seperti di Palestina.

“Mengapa demikian, karena NU dari dulu menunjukkan sikap toleransi, perdamaian, bersikap tengah, dan adil. Jadi, santri itu salah satu dari pilar perdamaian,” ujar Safira.

Pembicara terakhir adalah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UNU Yogyakarta Dr. Drs. Senawi, M.P. Ia menyampaikan strategi santri dalam menghadapi tantangan global. Menurutnya, pokok dari globalisasi adalah perubahan. Hal ini karena terjadi keterbukaan antarnegara sehingga budaya dari berbagai negara akan masuk ke negara kita.

“Setiap perubahan harus disikapi sebagai tantangan, bukan ancaman. Tantangan akan mendorongkan untuk menampilkan potensi kita sehingga kita bisa menempatkan diri dan negara kita. Pada akhirnya kita akan dapat survive,” kata Senawi.

Dengan demikian, globalisasi memaksa kita untuk lebih berkualitas sehingga kita dituntut untuk meningkatkan SDM yang mampu berdaya saing.

Recent Posts

Harga Plastik Meroket 100%, DPR Desak Pemerintah Selamatkan UMKM dari Krisis Global

MONITOR, Jakarta - Lonjakan harga plastik yang kian tak terkendali memicu kekhawatiran serius bagi keberlangsungan…

5 jam yang lalu

Bedah 400 Ribu Rumah Harus Mampu Perbaiki Kualitas Hidup Rakyat

MONITOR, Jakarta - Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melakukan gebrakan besar dalam…

5 jam yang lalu

Tafsir Konstitusi soal Pengakhiran Jabatan Presiden Jadi Sorotan, Pernyataan Saiful Mujani dan Islah Bahrawi Picu Perdebatan

MONITOR, Jakarta – Pernyataan Saiful Mujani dan Islah Bahrawi terkait wacana pengakhiran masa jabatan Presiden Prabowo…

10 jam yang lalu

Perundingan AS-Iran Gagal, Ketum PBNU dan Paus Leo XIV Serukan Solidaritas Global untuk Perdamaian

MONITOR, Jakarta — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, menyayangkan kegagalan…

11 jam yang lalu

UIN Malang dan Tulungagung Tembus Asosiasi Perpustakaan Dunia IATUL

MONITOR, Jakarta - Tiga perguruan tinggi di Indonesia kini tercatat sebagai anggota International Association of…

12 jam yang lalu

Arab Saudi Perketat Akses ke Makkah Mulai Hari Ini, Masuk Wajib Pakai Izin Resmi

MONITOR, Jakarta — Pemerintah Arab Saudi resmi memberlakukan pembatasan akses masuk ke Kota Suci Makkah mulai…

12 jam yang lalu