Rabu, 27 Oktober, 2021

Kepincut Cuan Berlipat, Pedangdut Jenita Janet Sukses Menjadi Peternak

MONITOR, Jakarta—Tidak hanya terbukti menjadi sektor yang mampu bertahan di masa pandemi Covid 19, sektor pertanian ternyata telah menarik berbagai kalangan. Salah satunya penyanyi dangdut Jenita Janet. Ia mengaku tertarik dengan dunia pertanian karena membuatnya betah, dan tentu saja menguntungkan.

Hal tersebut ia ungkapkan dalam acara Tani Inspiratif Kekinian Talkshow (Tiktalk) dengan tema Pertanian itu Keren. Kegiatan ini digelar di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kementerian Pertanian, Jum’at (1/10). Selain Jenita Janet, hadir pula pengusaha Kopi Malabar, Tiara Dwi Rahayu, dan petani sayuran hidroponik Aziz Abdul Rahman.

Menurut Jenita yang kini memiliki petenakan sapi dengan label ternaq.indonesia ini, banyak yang bisa dimanfaatkan dari ternak yang dimilikinya mulai dari daging, kulit, bahkan kotorannya. Bahkan setiap sapi memiliki karakter masing-masing. Itulah yang membuat ia betah berlama-lama di peternakannya.

“Di peternakan, aku banyak belajar. Ada sapi limosin, sapi bali, sapi brahman, sapi ongole. Tapi aku paling suka karakter sapi ongole, sapinya pekerja keras, sabar, tahan lapar dan bisa dimanfaatkan daging atau susunya,” ucapnya.

- Advertisement -

Hal tersebut, tambahnya, tidak mengganggu kesibukannya sebagai artis. “Yang diperlukan adalah membagi waktu, berkoordinasi dengan tim dan berkomitmen. Shooting jalan, bertani juga jalan. Di peternakan aku, aku ciptakan agar nggak bau, ya ditanam pandan, dikasih emulator agar kandang nggak bau,” jelas pelantun lagu Di Reject ini.

Hal lain yang menarik, menurut Jenita, kebutuhan ternak itu sebenarnya ada tiap saat, tidak hanya pas hari raya saja. Sehingga saat ini ia mengembangkan e-commerce untuk memasarkan ternaknya. Itu dilakukan untuk memudahkan custumer memilih dan mendapatkan hewan ternak terbaik tanpa harus datang ke kandang.

“Banyak customer yang butuh hewan ternak tapi tidak mau ke kandang, karena jauh dan lain sebagainya. Tapi nanti gampang tinggal klik-klik, pilih hewan yang sesuai, lalu dikirim, dan ada garansi kesehatannya, karena ada dokternya,” tambahnya.

Sementara itu, pengusaha Kopi Malabar, Tiara Dwi Rahayu mengaku makin bersemangat menekuni bisnis kopi, setelah kopi yang ditanamnya saat kelas 3 SD hasilnya mampu membiayainya masuk SMP. Setelah itu ia banyak mendalami pertanian kopi dari budidaya hingga pengolahannya.

Awalnya ia hanya menjual cerry coffee seharga Rp 7.000 per kg. Namun setelah belajar pengolahan kopi kepada seorang turis, ia berhasil mengolah kopi dalam bentuk green bean dan dijual dengan harga Rp. 170.000 per kg. “Sejak itulah pertama kali kita ekspor, tahun 2009, ke Kuwait, walaupun hanya enam ton,” papar Tiara.

Setelah itu, lanjutnya, ia mencoba merambah bisnisnya dengan membuka kedai kopi. Didukung dengan lokasi dengan panorama Lembang yang indah, bisnis kedai kopinya berkembang pesat hingga saat ini.

Meski demikian, ternyata Tiara mengambil pendidikan di jalur hukum, bukan di bidang pertanian atau bisni, S1-nya hukum, dan saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S2 notariat. Menurutnya, karena sejak kecil telah berinteraksi dengan dunia pertanian, kemampuan teknis pertanian bisa dia peroleh melalui komunitas yang ada.

“Untuk pertanian, saya bisa learning by doing, saya banyak link komunitas yang saya bisa belajar di situ. Tapi ada hal yang penting, yaitu sesuatu yang bisa melindungi usaha saya dan petani lainnya. Di hukum kan tidak hanya belajar perdata dan pidana saja, tapi ada aspek agrarianya. Terlebih sekarang saya belajar notariat,” ucapnya.

Sedangkan Azis Abdul Rahman, seorang generasi milenial bertahan menjadi petani karena merasakan bahwa usaha hidroponik sayuran omzetnya menjanjikan dan tidak mengenal musim. Pada saat pandemi, Azis bisa memasarkan secara online dan menyediakan jasa antar langsung sehingga bisa lebih dekat dengan konsumen.
Meski demikian, ia juga mengalami efek dari pandemi. Produksi sayurannya over supply. Akhirnya ia membagikan produknya secara gratis kepada masyarakat. Ternyata hal ini menjadi ajang promosi sehingga masyarakat sekitar menjadi kenal dan akhirnya menjadi pembeli.

Bagi Azis yang alumnus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, bantuan Kementerian Pertanian dalam bentuk program Pengembangan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) dirasakan betul manfaanya. Ia mendapatkan modal awal untuk berusaha hidroponik dan dalam satu tahun modal tersebut sudah bisa menjadi aset untuk pengembangan usaha lebih lanjut

“Menjadi petani hebat, perlu proses dan tekad yang kuat dan segera mulai, sehingga lebih cepat menuai“ ucap Azis.

Di tempat yang sama, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri mengungkapkan bahwa telah terbukti capaian sektor pertanian pada masa pandemi covid 19 merupakan sektor yang ampuh untuk dijadikan sandaran gaya hidup serta memberikan andil besar dalam menopang perekonomian nasional.

“Di masa pandemi ini, di masa kita perlu memperkuat ketahanan pangan, di masa kita perlu menjadikan ekonomi bangsa kita mandiri dan berkeadilaan sosial, pertanian ada untuk menjadi tulang punggung negara kita,” ungkapnya.

Sektor pertanian merupakan satu diantara sedikit sektor yang tumbuh positif di tengah pandemi covid-19. Pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,07%, sedangakan sektor pertanian justru tumbuh di kisaran 1,75%, ditambah lagi jika dilihat dari subsektor yang khusus terkait pertanian mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi di angka 2,11%. Bahkan di tahun 2021, sektor pertanian masih mencatatkan pertumbuhan di quartal 1 dan quartal 2. Terakhir tercatat di quartal 2 sektor pertanian tumbuh sebesar 12,93% secara q-to-q dan 0,38% secara y-on-y.

“Dan para petani muda ini telah membuktikan bahwa pertanian itu sangat menarik, sangat menguntungkan, memberi prospek bisnis dan life-style,” pungkasnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER