PERDAGANGAN

Dean Novel: Jangan Buat Kesimpulan Soal Stok Jagung Demi Impor

MONITOR, Jakarta – Pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Luthfi yang mengatakan bahwa stok jagung nasional saat ini dalam kondisi tidak tersedia mendapat beragam respon penolakan dari petani maupun pedagang jagung.

Dean Novel Direktur PT Datu Nusra Agrobisnis (DNA), salah satu koorperasi jagung di Nusa Tenggara Barat, saat diwawancara terkait hal ini pada hari Rabu (22/9) mengatakan Kemendag sebaiknya jangan membuat kesimpulan tentang stok jagung di dalam negeri untuk tujuan impor jagung.

“Tahun 2020 yang lalu, harga jagung anjlok tajam. Kemendag kemana saja? Mengapa saat harga jagung lebih baik dari tahun lalu, kebijakannya impor?” tanya Dean

Menurut Dean pada musim panen raya bulan Maret yang lalu harga panen raya cukup baik diatas harga Maret 2020 yang sangat murah. Kenaikan harga yang dimulai bulan Maret itu ditengarai Dean dikarenakan banyak aksi beli dari Peternak dan Feedmill secara langsung ke daerah-daerah sentra.

“April hingga Juli, harga terus mengalami rally naik karena iklim pada saat itu anomali,kemarau basah. Saat itu, hampir rata-rata petani tidak mau lagi jual Jagung Tongkol / Glondongan atau Pipilan Basah. Petani hanya mau jual pipilan kering karena alasan harga. Jadi, stok jagung cukup banyak di tangan petani,” ujarnya.

Dean meyakini Bulan September dan Oktober besok, areal panen masih ada tersebar meski tidak dalam luasan yang seperti bulan Maret dan April, tapi ada saja panen. Dan petani masih tahan stok panennya.

“Bulan Oktober dan November, di tempat kami di Lombok akan panen seluas sekitar 4.000 Ha di dua Kecamatan yaitu Gerung dan Lembar di Lombok Barat. Di lokasi ini, pola tanam dan panennya sejak dahulu begitu karena lahan irigasi, mereka tanam jagung di musim kemarau dan panen di musim hujan,” ujarnya.

Dean berharap pemerintah juga menambah alokasi dryer dengan kapasitas yang cukup. Ada 400 ton jagung yang ready dan sedang berjalan proses panen dan pengeringan sekitar 500 ton. Selama ini segmen pasarnya untuk peternak di Lombok dan Bali disamping segmen jagung untuk food grade.

Terkait harga telur yang anjlok menurutnya di Jawa mungkin sedang tidak banyak yang makan ayam dan telur.

“Jadi ya jangan salahkan harga jagung, Peternak Lombok dan Bali, biasa saja tuh. Meski katanya mahal tapi mereka masih beli kok. Dan ada satu yang menjadi pertanyaan besar saya selama ini. Sesungguhnya populasi Ayam yang saat ini dipelihara atau dimiliki Peternak dan Perusahaan lain. Apakah populasi tersebut dilaporkan atau tidak?”

Recent Posts

Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Pelindungan Pekerja Hadapi Perubahan Dunia Kerja

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus memperkuat kompetensi dan pelindungan pekerja sebagai respons terhadap…

1 hari yang lalu

Kemenag Salurkan 1.000 School Kit dan 16 Ruang Belajar Sementara untuk Madrasah di NTT

MONITOR, NTT - Kementerian Agama menyalurkan bantuan berupa 1.000 school kit dan 16 Temporary Learning Space…

1 hari yang lalu

Universitas Islam Depok dan Hartford International University USA Jalin Kemitraan Perkuat Dialog Antarumat dan Akademik

MONITOR, Jakarta - Dalam upaya memperkuat kerja sama akademik internasional dan pemahaman lintas budaya, Universitas…

2 hari yang lalu

Jasa Marga Salurkan Bantuan untuk Masyarakat Terdampak Gempa NTT

MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi…

3 hari yang lalu

Kemenhaj Mediasi Pengaduan Penundaan Keberangkatan dan Pengembalian Dana Jemaah

MONITOR, Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memfasilitasi mediasi antara mitra pemasaran selaku…

3 hari yang lalu

Bursa Wirausaha Unggulan Buka Akses UMKM Naik Kelas

MONITOR, Medan — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Kementerian UMKM) memperkuat ekosistem kewirausahaan melalui…

3 hari yang lalu