Senin, 20 September, 2021

AMAN Berharap Indonesia Tentukan Sikap Perlindungan Perempuan dan Anak Afghanistan

MONITOR, Jakarta – The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bersama dengan jaringan kembali membuat agenda Open Mic. Open Mic menjadi salah satu alternatif AMAN Indonesia untuk mendengarkan aspirasi pada sejumlah penting penting yang terjadi.

Direktur AMAN Indonesia, Ruby Kholifah mengatakan dari agenda Open Mic ini diharapkan bisa berkontribusi kepada pemerintah Indonesia untuk menentukan sikap dalam menentukan diplomasi dengan Afghanistan.

 ”Gerakan perempuan perlu merespon isu serius yang terjadi dengan melepaskan sekat-sekat identitas apapun. Saat ini, Taliban berkomitmen akan membuat kondisi perempuan Afghanistan lebih baik, tetapi dalam perkembangannya meragukan, karena justru tindakan represif dilakukan untuk merespon perempuan protes, bahkan penembakan sudah terjadi di beberapa tempat,” ungkap dalam agenda konfrensi press melalui zoom, Jumat (10 September 2021)

Kondisi buruk ini tidak bisa dibiarkan. Indonesia sebagai muslim majority, harus bersikap mengenai Afghanistan. Pemerintah Indonesia perlu membawa situasi Afghanistan kepada situasi yang lebih baik dan damai, akan tetapi tidak bisa dipenuhi dalam waktu dekat.

- Advertisement -

Saat ini, sejumlah perempuan di Afghanistan sudah mulai gelisah sejumlah penembakan yang terjadi di beberapa tempat. Serta Taliban telah melakukan mobilisasi tentara ke beberapa tempat. Hal ini menimbulkan kekhawatiran kepada perempuan dan anak. Begitu juga tentang keterlibatan perempuan di ruang publik.

Dengan diadakannya Open Mic ini, pemerintah Indonesia pelu melakukan tindakan humanitarian di tengah bertransisi pemerintahan Afghanistan menjadi negara Islamic Emirate of Afghanistan.

Bantuan kemanusiaan harus beriring dengan membawa misi Islam yang moderat. Melalui upaya memanfaatkan modalitas banyaknya ulama progresif Indonesia untuk menjadi sumber pengetahuan tentang moderasi beragama.

”Hasil Open Mic akan jadi surat terbuka yang akan disampaikan ke Kementerian Luar Negeri Indonesia, sebagai bentuk dari suara civil society, khususnya gerakan  perempuan untuk memperkuat diplomasi Indonesia yang bermakna. Selain itu, Open Mic ini menjadi ruang yang keragaman dari berbagai elemen. Dengan suara yang berpijak pada berkeadilan gender, juga akan dihadiri, jaringan global, musawah, akademisi dan lainnya,” tekannya.

Di saat yang bersamaan, Direktur Mulya Raya Foundation, Musdah Mulya menjelaskan, terdapat sejumlah hal yang penting untuk diperhatikan pemerintah Indonesia dan dunia. Hal yang pertama,  Islam jangan dicederai oleh wajah Islam Taliban. Melihat track record  Taliban lebih dari 30 tahun, memperlihatkan Islam menakutkan.

”Taliban pernah berkuasa dan meninggalkan beban dunia, mencederai wajah umat seakan Islam biadab.  Islamic Emirate yang menggunakan bendera Islam, pemerintahan Indonesia bisa menyampaikan pesan kuat, bahwa Indonesia sebagai negara Islam harus mengingatkan Islam yang moderat, ramah, compatible dengan nilai kemanusiaan pada Taliban,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya, pemerintah Indonesia perlu menyuarakan perlindungan  terhadap perempuan, anak dan minoritas kepada pemerintahan Afghanistan. Serta menegaskan bahwa Thaliban sudah  menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan untuk perlindungan dan penghormatan perempuan. 

Beberapa isu yang dihadapi perempuan di Afghanistan antara lain, larangan olahbraga, pengetatan makna muhrim, hingga berdampak pada  pemaksaan  menikah untuk bisa kabur dan mendapatkan evakuasi.

Bahkan ada kasus keluarga membayar laki-laki atas nama muhrim. Hal terakhir,  Badan dunia harus member perhatian pada para pengungsi. Tercatat di Indonesia, terdapat 7490 orang  pengungsi yang terjadi pada tahun 1996.

”Para pengungsi terbengkalai dan tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah Indonesia. Namun, di saat yang bersamaan, para penguuungsiii ini   melakukan kekerasan seksual, harassment dan lainnya kepada masyarakat lokal. Jangan sampe Indonesia melakukan uoaya keluara, sementara perlindungan dislaam bermasalah,” tegasnya.

Terakhir, perwakilan dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Bu Nyai Masruchah menyampaikan, jaringan KUPI menyampaikan keprihatinan dan mendorong untuk mendialogkan dan memastikan jaminan keamanan berbasis semangat kemanusiaan di Afhganistan.

Serta Mendorong syariah yang rahmatan lil alamin, yang menjamin kesetaraan sebagai sesama hamba allah dan sesama manusia, partisipasi laki dan perempuan di segala ranah.

”Di saat yang bersamaan, pemerintah Taliban perlu memberi perhatian kepada kelompok mustadafiin, dengan mengacu pada spirit keberadaban Madani. KUPI siap kerjasama mengawal kesejahteraan, kemaslahaan hakiki, peradaban berbasis rahmah, negara yang senausa yang berkesetaran, termasuk di pengambilan keputusan dan lainnya . Karena pemerintah sebelumnya sudah berkomitmen membuat pemajuan perempuan dan akan menjalin kerjasama yang strategis,” pungkasnya.  

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER