POLITIK

Ketua KPK: Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim adalah Solusi Pemberantasan Korupsi

MONITOR – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri mengatakan bahwa hikmah dan esensi Idul Adha adalah ketauladan Keluarga Nabi Ibrahim AS dan Kebijakan Nabi Muhammad SAS adalah Solusi Pemberantasan Korupsi di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, pada Selasa, 20 Juli 2021, segenap Umat Muslim dunia khususnya Indonesia, kembali merayakan Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriyah.

“Hari Raya Kurban yang tidak dapat kita rayakan seperti biasanya karena masih mewabahnya pandemi Covid-19 di tanah air,” kata Firli melalui keterangan tertulisnya, Senin (19/7/2021).

“Meskipun demikian, kami yakin Umat Muslim tidak kehilangan semangat Idul Adha, Hari Raya Kurban, meski rangkaian ibadah hingga perayaan hari nan suci ini, hanya dapat dilakukan dari dalam rumah dengan cara sederhana ditengah masa pandemi Covid-19,” tambahnya.

Firli mengatakan tidak sedikit hikmah serta nilai-nilai kehidupan yang dapat kita petik dari makna dan esensi Idul Adha, Hari Raya Kurban. “Salah satunya dari sejarah kisah Nabi Ibrahim AS dan Istrinya Siti Hajar dan buah hati mereka, Ismail AS, satu diantara kisah 25 Nabi yang biasa kami dengar sebagai dongeng penghantar tidur semasa kecil, oleh almarhum ayah dan ibu,” katanya.

Kisah keluarga Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail yang menjadi asal muasal ibadah Haji, Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban lanjut Firli banyak memberikan tauladan baik bagi kehidupan umat manusia tentang arti dan makna sebuah pengorbanan, kepatuhan, ke-ikhlasan serta keberanian luar biasa dan tekad kuat untuk menjalankan semua kewajiban dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagai wujud kecintaan utuh kepada Allah SWT.

“Tidak berlebihan jika kami menilai esensi, makna serta nilai-nilai kehidupan dari tauladan yang diberikan keluarga Nabi Ibrahim, adalah solusi dari permasalahan besar bangsa kita, yaitu laten korupsi serta perilaku koruptif yang masih berurat akar di republik ini,” terangnya.

“Negeri ini butuh anak-anak bangsa yang memiliki keberanian luar biasa layaknya seorang Ismail, kerelaan dan keikhlasan sejatinya Siti Hajar, keteguhan segenap hati serta jiwa ayah bernama Ibrahim, dalam perang badar melawan korupsi yang telah menggurita di negeri ini,” tegasnya.

Perlu di ingat, bukannya menyerah atau larut dalam bisik dan bujuk rayu setan yang terkutuk, Nabi Ibrahim se-keluarga melempari penghuni kekal neraka (setan) ini dengan batu, yang kita ketahui sebagai kegiatan jumrah dalam salah satu adab pelaksanaan ibadah haji di tanah suci Makkah Al Mukaramah.

Bercermin dari keluarga Nabi Ibrahim dan Idul Adha, Hari Kurban, hal ini ungkap Ketua KPK seyogianya kita jadikan momentum untuk melempar jauh perilaku koruptif, menyembelih sifat serta tabiat tamak layaknya seekor binatang yang sejatinya ada namun terpendam dalam diri setiap manusia.

“Tabiat tamak manusia pada hakikatnya adalah wujud nyata ketidakmampuan kita mengontrol dan mengendalikan hasrat serta hawa nafsu sehingga menjadi rakus layaknya se-ekor tikus, tidak pernah puas, selalu merasa kurang dengan apa yang telah dimiliki,” katanya.

Dalam perspektif sejarah Islam, Firli Bahuri menyebut sebuah riwayat hadis bahkan menyebut bahwa Baginda Rasulullah Muhammad SAW enggan menyalati jenazah seseorang yang melakukan penggelapan harta.

“Alasan Nabi Muhammad SAW enggan menshalati jenazah tentara tersebut adalah almarhum telah menggelapkan harta yang bukan menjadi haknya. Meskipun demikian, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menshalati jenazah almarhum sebelum dikebumikan,” ujarnya.

Ibnu Abdil Barr dalam al-Tamhid menyatakan bahwa terdapat tujuan dalam kebijakan yang diambil oleh Rasulullah, yaitu memberi hukum jera bagi orang-orang yang masih hidup agar tidak melakukan perbuatan serupa dan bagi mereka yang masih melakukan untuk segera menyudahinya.

Setelah ditelusuri, ternyata sahabat yang gugur tersebut masih menyimpan manik-manik hasil rampasan perang yang belum dibagikan, yang nilainya sekitar dua dirham. Hanya karena menggelapkan ghanimah senilai dua dirham, Nabi SAW menunjukkan ekspresi kebencian yang terang. Bagaima dengan yang korupsi lebih besar dari itu?

“Dengan meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, khususnya Baginda Rasulullah Muhammad SAW, esensi dan makna Idul Adha serta menjaga Akhlakqul Karimah ANTIKORUPSI, mari kita rayakan Idul Adha, Hari Raya Kurban dengan sederhana, beribadah bersama keluarga dirumah saja dan tetap meriahkan lebaran dengan bersilaturahmi ke sanak famili, keluarga, teman, sahabat melalui tatap muka langsung via online, dan senantiasa berdoa memohon kehadirat Allah SWT dalam perang badar bangsa ini melawan korupsi di NKRI,” pungkasnya.

Recent Posts

Hujan Deras Picu Genangan 30 Cm di Tol Jagorawi Arah Jakarta, Sejumlah Lajur Sempat Tak Bisa Dilalui

MONITOR, Jakarta — Curah hujan tinggi menyebabkan genangan air setinggi sekitar 30 cm di Ruas Tol…

1 jam yang lalu

Dominasi Arah Trans Jawa, Pergerakan Kendaraan Mudik Tembus 1,8 Juta

MONITOR, Jakarta — Arus mudik Lebaran 2026 menunjukkan lonjakan signifikan. PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat…

13 jam yang lalu

Kemnaker Perluas Akses Pelatihan Vokasi Nasional 2026

MONITOR, Jakarta — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperluas akses Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Batch 1…

13 jam yang lalu

Arus Mudik Lebaran 2026 Meningkat, Lebih dari 2,1 Juta Kendaraan Melintas di Tol Jabodetabek dan Jawa Barat

MONITOR, Jakarta — Arus lalu lintas kendaraan selama periode mudik Lebaran 1447 Hijriah/2026 M di wilayah…

16 jam yang lalu

Benyamin Ajak Warga Tangsel Perkuat Ukhuwah di Momen Idulfitri 1447 H

MONITOR, Tangsel - Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Bambang…

16 jam yang lalu

Arus Lalu Lintas Meningkat, Jasa Marga Buka Akses Contraflow hingga KM 47 Tol Jakarta-Cikampek

MONITOR, Cikampek — Peningkatan volume kendaraan di ruas Tol Jakarta-Cikampek mendorong PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT)…

19 jam yang lalu