PEMERINTAHAN

Kementan Tingkatkan Kesadaran Bahaya Resistensi Antibiotik Pada Ternak

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya resistensi antibiotik pada ternak melalui penguatan strategi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) program penatagunaan antimikroba. Hal ini penting dilakukan untuk pengendalikan resistensi antimikroba, serta dampak yang mungkin ditimbulkan.

Direktur Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin mengatakan untuk mengoptimalisasi dan mengurangi resistensi antimikroba di bidang peternakan dan kesehatan hewan, maka penatagunaan antimikroba harus diterapkan untuk meningkatkan penggunaan antimikroba yang bijak dan bertanggung jawab dengan meningkatkan pemahaman, kepedulian dan kesadaran terkait resistensi antimikroba.

Isu Resistensi Antimikroba juga dipandang sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor peternakan dan pertanian. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) menyelenggarakan Workshop Strategi Komunikasi Penatagunaan Antimikroba (Antimicrobial Stewardship/Ams).

“Harus menjadi perhatian semua pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait dampak resitensi antimikroba,”ungkap Nuryani yang mewakili Dirjen PKH pada Acara Lokakarya Strategi Komunikasi Penatagunaan Antimikroba (Antimicrobial Stewardship/Ams) secara virtual, Kamis (15/7).

Pengendalian AMR harus menggunakan pendekatan one health yang bersifat multisektor dan melibatkan semua stakeholder peternakan sehingga penggunaan antimikroba yang tepat tentunya harus dipahami oleh semua orang yang terlibat dalam sektor peternakan sehingga peningkatan kesadaran sangat diperlukan agar ada keterlibatan yang lebih baik untuk mengatasi masalah AMR.

Kebijakan Nasional dalam Pengendalian AMR sebagaimana Inpres nomor 4 tahun 2019 yang mengamanatkan kepada Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian dan Menteri Kelautan dan Perikanan untuk melaksanakan pencegahan, respon dan pengendalian resistansi antimikroba. Kementan ikut terlibat dalam penyusunan Rencana Aksi Nasional (RAN) Indonesia untuk Resistansi Antimikroba dengan pendekatan “One Health‘’periode 2020 – 2024

Lanjut Nuryani mengatakan perlunya segera disusun strategi komunikasi penatagunaan antimikroba ini sehingga dapat diimplementasikan oleh semua pemangku kepentingan peternakan dan kesehatan hewan. “Kita rumuskan bersama langkah-langkah komunikasi yang tepat dalam menyampaikan bahaya resistensi antibiotik dan peran serta masyarakat dalam mencegahnya”ujarnya

Sementara itu, Koordinator Subtansi Pengawasan Obat Hewan Ni Made Ria Isriyanthi, mengatakan Kementan telah melakukan kegiatan peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang AMR, dan perubahan perilaku masyarakat di sektor Kesehatan Hewan sudah dilaksanakan sejak 2017.”Bentuk Komunikasi, informasi dan edukasi yang sudah kita lakukan dalam bentuk kegiatan seperti Talk show, Seminar, kampanye lewat kegiatan CFD, Media Briefing, penyebaran informasi melalui media sosial (FB, Instagram, Twitter dan YouTube),”ungkap Ria.

Sementara itu, Team Leader FAO-ECTAD Lucas Schoonman mengatakan FAO sepenuhnya berkomitmen pada pendekatan One Health dalam pengendalian AMR dan mengajak seluruh pihak terkait untuk segera bertindak dan membangun komunikasi dalam mengendalikan AMR. Telah banyak studi yang telah dilakukan baik di tingkat global maupun nasional, dan saatnya kita harus fokus. Praktisi sektor peternakan dan kesehatan hewan sebagai garda terdepan dalam mempraktekkan penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab.

Pada kesempatan itu, perwakilan dari Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) yang juga praktisi dibidang komunikasi Vida Parady menjelaskan dalam melakukan pendekatan komunikasi publik pemerintah selain fokus mengarah ke peningkatan awareness sekaligus pada perubahan prilaku. Strategi komunikasi perubahan prilaku dinilai sangat penting untuk mendukung program penatagunaan antimikroba.

“Pentingnya pemilihan kata kunci dalam penyampaian pesan, pemilihan media dan metode yang tepat sesuai sasaran tentunya diharapkan meningkatkan kesadaran dan perubahan prilaku masyarakat” tuturnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah mengajak semua pihak harus berupaya untuk melakukan komunikasi, kolaborasi dan koordinasi agar dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak negatif resistensi antibiotik pada ternak “Kita harus kampanyekan bentuk strategi KIE yang terstruktur, terprogram dan terintegrasi dengan melibatkan semua lintas sektor,” ujarnya.

Recent Posts

Menaker: Kunci Wirausaha Bukan Sekadar Dapat Pelanggan, tapi Menjaga Hubungan

MONITOR, Bandung Barat – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, mengatakan salah satu kunci keberhasilan dalam berwirausaha…

11 jam yang lalu

Kemenperin Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Insiden Kebakaran Pabrik di KEK Sei Mangkei

MONITOR, Jakarta - Kementerian Perindustrian menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah kebakaran yang…

12 jam yang lalu

Majelis ASTACITA Gelar ‘Maulid Nabi dan Dzikir Kemerdekaan’ di Karawang, Gaungkan Jaga Rawat Jabar

MONITOR, Karawang — Dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus merawat semangat kemerdekaan…

13 jam yang lalu

Capai 75 Ribu Pendaftar PPIH 2027 Non Nakes, Kemenhaj Gelar CAT Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Lebih dari 75 ribu orang mendaftar Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

14 jam yang lalu

Partai Gelora Soroti Perubahan Data Desil DTSEN

MONITOR, Jakarta — Penerapan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis tunggal penyaluran bantuan…

14 jam yang lalu

Verifikasi Seleksi PPIH 2027 Tetap Berjalan, CAT Dilaksanakan Dua Gelombang

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah memastikan proses Seleksi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH)…

16 jam yang lalu