Masih di Bawah Ambang Kendali, Kementan Tetap Imbau Waspada Wereng Coklat Cirebon

MONITOR, Cirebon – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan dan Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), bersama petugas lapangan Pengendali Organisme Penganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Cirebon melaksanakan pengamatan/surveilans keadaan OPT khususnya Wereng Batang Coklat (WBC).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan efek dari fenomena LA Nina diprakirakan masih akan aktif sampai bulan Juni 2021. Namun yang perlu dicatat La Nina efeknya akan lebih terasa pada saat kondisi atmosfer juga mendukung, seperti pada saat puncak musim penghujan.

H. Tatung, Kepala Instalasi Pengamatan Hama dan Penyakit Indramayu yang juga membawahi wilayah Cirebon pun turut menjelaskan pentingnya pengamatan rutin.

“Kegiatan pengamatan OPT selalu dilaksanakan secara rutin untuk mengetahui perkembangan OPT dan musuh alami di lapangan. Hasil dari pengamatan ini akan kita gunakan untuk mengambil keputusan pengendalian OPT,” ujar H. Tatung.

Hasil pengamatan populasi WBC di lapangan menunjukkan bahwa keadaan populasi WBC di Kabupaten Cirebon masih di bawah ambang pengendalian, namun demikian dihimbau agar tetap waspada terjadinya kecenderungan peningkatan populasi di lapangan. Potret kondisi OPT di lapangan saai ini akan dibutuhkan dalam hal pengambilan keputusan dan pengendalian OPT. Laporan insidentil keadaan populasi hama wereng coklat dari lapangan untuk selanjutnya diinfokan segera melalui komunikasi cepat.

Koordinator petugas POPT Kabupaten Cirebon, Duki, menyatakan bahwa tindakan preemtif dan responsif sudah berjalan sesuai SOP sehingga keadaan OPT saat ini dapat terkendali dan aman.

“Mengingat keberadaan populasi WBC sudah ditemukan di tiga kecamatan, yaitu: Depok, Plumbon, dan Dukupuntang maka kewaspadaan melalui pengamatan intensif harus tetap dilakukan, agar strategi dan tindakan pengendalian dapat diputuskan dengan tepat,” ungkap Duki.

Menanggapi hal ini, Kepala dinas pertanian Cirebon, H. Wasman, turut memberikan dukungan untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan petugas lapangan Cirebon untuk melakukan kontrol agar populasi WBC tidak meningkat.

“Meskipun populasi hama wereng belum menjadi ancaman besar, Kami tetap meminta segenap jajaran untuk tetap waspada dan sigap bergerak menangani permasalahan WBC di Cirebon,” tegas H. Wasman

Di tempat terpisah Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Mohammad Takdir Mulyadi mengatakan fasilitasi sarana pengendalian berupa pestisida kimia maupun pestisida biologi sudah didistribusikan.

“Distribusi dilakukan khususnya diprioritaskan pestisida untuk pengendalian WBC dengan mendahulukan pengiriman ke daerah-daerah sentra produksi yang stoknya sudah mulai menipis,” jelas Takdir.

Abriani Fensionita Koordinator Pengendalian OPT Serealia, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan menambahkan,

”Selain pengadaan pestisida untuk menangani serangan OPT secara jangka pendek, untuk penanganan secara jangka panjang diarahkan pada Kegiatan Penguatan Agroekosistem melalui pengembangan pengendalian dengan Agens Pengendali Hayati (APH), musuh alami dan pengembangan tanaman refugia secara masif di persawahan,” Jelas Abriani.

Ditempat yang berbeda Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi juga turut mengingatkan agar seluruh jajaran terus menjaga produksi pangan.

“Sesuai harapan Bapak Menteri Pertanian, seluruh jajaran Kementerian Pertanian dari pusat sampai daerah untuk terus bersama-sama dengan petani berupaya maksimal mengamankan produksi pangan dari serangan OPT dengan menggunakan cara-cara yang aman, cerdas, efektif, dan efisien,” tegas Suwandi.

Hal tersebut sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yaitu semua jajaran Kementan dari pusat sampai daerah harus terus mengawal dan mengamankan produksi tanaman pangan nasional dari serangan OPT.