Kementan Dukung Inovasi Pakan Sebagai Alternatif Sumber Energi

Diskusi panel Mengulas Inovasi Palm Kernel Meal Terolah (Palmofeed) sebagai Pakan Alternatif Sumber Energi dan Protein di Hotel Santika Bogor.

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direkorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyambut baik terjalinnya kolaborasi triple helix antara peneliti, pemerintah dan dunia usaha. Hal ini demi menghasilkan inovasi yang aplikatif dan solutif sesuai dengan kebutuhan industri, termasuk industri pakan yang merupakan tulang punggung penyediaan protein hewani bagi masyarakat Indonesia.

Sekretaris Direktur Jenderal PKH, Makmun, mengatakan pihaknya mengapresiasi atas inisiasi PT. Buana Karya Noveltindo yang melakukan penelitian berkelanjutan untuk mendapatkan Palm Kernel Meal (PKM) kualitas yang baik dan layak menjadi bahan pakan fungsional sumber energi dan protein.

“Ditjen PKH berharap sinergi antara pemerintah dan lembaga penelitian dengan kalangan pelaku usaha dapat terus terbangun dan makin erat untuk saling mendukung proses penyediaan bahan pakan lokal yang bermutu secara khusus dan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan secara umum,” kata Makmun dalam diskusi panel Mengulas Inovasi Palm Kernel Meal Terolah (Palmofeed) sebagai Pakan Alternatif Sumber Energi dan Protein di Hotel Santika Bogor.

Ia mejelaskan, dalam memproduksi pakan, utamanya pakan unggas, bahan pakan menjadi komponen biaya terbesar mencapai 85% dari total biaya produksi. Salah satu permasalahan dalam penyediaan pakan unggas yang berdaya saing adalah masih tingginya tingkat impor Indonesia yang mencapai 35%.

Terutama sumber protein impor seperti bungkil kedelai (soybean meal), corn gluten meal, meat bone meal dan premiks. Ketergantungan akan bahan pakan impor ini akan menimbulkan aspek ketidakpastian.

“Oleh karena itu kita harus memiliki strategi dan kebijakan untuk meminimalkan dampak dari ketidakpastian tersebut” tambah Makmun.

Data impor Bahan Pakan Asal Tumbuhan (BPAT) dari tahun 2015-2020, menunjukkan bahwa volume impor bahan pakan sumber protein semakin meningkat di tahun 2020. Peningkatan terjadi sebesar 84% dari yang semula di tahun 2015 sebesar 57,30%.

Sedangkan untuk sumber energi, pengembangan jagung lokal berhasil mengurangi ketergantungan bahan pakan sumber energi dari impor. Karena, di Indonesia, jagung merupakan komoditas pangan utama kedua setelah beras.

“Industri pakan merupakan salah satu pengguna jagung terbesar di Indonesia, seiring dengan pertumbuhan produksi pakan,” ucap Makmun.

Dinamika di sektor perunggasan yang terjadi akhir-akhir ini menyorot pada melambungnya harga beberapa bahan pakan unggas utama. Misalnya, jagung dan bungkil kedelai (soybean meal) yang merupakan bahan pakan sumber energi serta protein utama dalam formulasi pakan unggas.

Bahkan sekitar 75% komposisi bahan pakan unggas terdiri dari kedua bahan tersebut. Peningkatan harga domestik jagung pada triwulan I tahun 2021 yang dibarengi dengan kenaikan harga bungkil kedelai sejak Agustus 2020 telah mendorong peningkatan harga pakan domestik.

Mengandalkan bahan pakan impor untuk mensubstitusi jagung juga mengalami kendala karena harga jagung dan gandum internasional pada akhir-akhir ini meningkat dengan sangat tajam. Maka, optimalisasi pemanfaatan bahan pakan berbasis lokal menjadi suatu keniscayaan.

Diketahui, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan luas pertanaman diperkirakan mencapai 14,99 juta hektar. Dari luasan tersebut, diperkirakan akan menghasilkan produksi Minyak Sawit Kasar atau Crude Palm Oil (CPO) sebesar 49,12 juta ton serta inti sawit atau palm kernel sebesar 9,82 juta ton.

“Potensi dari luasnya kelapa sawit ini sebenarnya bisa dioptimalkan untuk pengembangan sub sektor peternakan di Indonesia,” tuturnya.

Misalkan untuk ruminansia, pengembangan sistem integrasi sapi-sawit dapat menjadi model dalam penyediaan daging sapi bagi Indonesia, yang saat ini belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan impor daging dan sapi bakalan.

Untuk penyediaan pakan bagi ruminansia dan unggas, kelapa sawit memiliki potensi besar dalam menghasilkan palm kernel meal (PKM). Dengan produksi inti sawit sebesar 9,8 juta ton, Indonesia berpotensi menghasilkan PKM sebesar 4,42 juta ton/tahun.

PKM adalah bahan pakan berserat tinggi sebesar 14-27,7% dengan kualitas protein yang sedang sebesar 13,5-19,4%. Oleh karena itu PKM cocok untuk pakan ternak ruminansia.

Selain pakan ternak ruminansia, PKM juga dapat digunakan di industri pakan unggas walaupun memiliki faktor pembatas yakni tingginya kontaminan cangkang dan serat kasar. Namun dengan sentuhan teknologi dan inovasi, peningkatan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi/lembaga penelitian dan pelaku usaha, diharapkan persoalan tersebut dapat diatasi.

“Ditjen PKH berharap kedepan inovasi PKM menjadikan bahan pakan fungsional sumber energi dan protein unggulan Indonesia sehingga mampu menyubstitusi sumber energi dan protein dari impor,” tandas Makmun.

Sementara itu, Rektor IPB Arif Satria, juga mengapresiasi peran Fakultas Peternakan IPB beserta tim yang melakukan penelitian PKM. Ia menyampaikan, saat ini harga pakan masih sangat tergantung kepada pihak produsen, namun jika pakan sudah mengalami kemandirian maka industrinya akan membaik.

“Saat ini pemerintah memberikan matching funds dan bantuan kepada inovator dan industri. Industri-industri yang melakukan terobosan dan inovasi akan mendapat keringanan pajak. Pengembangan pakan bukan hanya untuk unggas dan ruminansia, tetapi juga untuk perikanan,” papar Arif.

Senada, peneliti Fakultas Peternakan IPB University, Nahrowi, menyatakan bahwa saat ini industri pakan di Indonesia dihadapkan pada dinamika ketersediaan bahan baku pakan yang musiman dan tidak berkelanjutan. Solusi atas dinamika tersebut di antaranya adalah pemanfaatan bungkil inti sawit atau Palm Kernel meal (PKM) sebagai bahan pakan fungsional sumber energi dan protein.

“Tidak seperti jagung, bungkil kedelai dan lainnya, bungkil sawit tidak musiman, sumbernya banyak dan sudah established,” tutup Nahrowi.