Tantangan Seni Pertunjukan Janger Banyuwangi Era Pandemi

Oleh: Hendra Afiyanto, MA

Pandemi Covid-19 yang saat ini melanda dunia tak hanya merusak perekonomian dan berbagai aspek penting lain dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk juga imbas yang terjadi pada sektor kesenian. 

Hal ini pula yang dirasakan dalam seni budaya Banyuwangi yang sangat terkenal yakni seni pertunjukan Janger Banyuwangi.Seni Janger Banyuwangi merupakan seni teatrikal yang unik, karena mengandung paduan unsur seni budaya Jawa dan Bali. Seni teatrikal Janger Banyuwangi ini menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa krama dan menampilkan cerita tradisional dari daerah Jawa.

Seni Janger sering disebut sebagai Damarwulan atau Jinggoan. Istilah ini diambil karena cerita yang dipertunjukkan oleh seni Janger ini biasanya adalah cerita tentang lakon Minakjinggo dari kerajaan Blambangan yang melawan Damarwulan dari kerajaan Majapahit.

Istilah Jinggoan diambil dari lakon utama dari cerita tersebut, yaitu Prabu Minakjinggo. Sedangkan nama Janger sendiri diambil karena kesenian ini sangat kental dengan budaya Bali pada pemilihan kostum, musik, dan tariannya.

Sementara cerita yang Damarwulan dan Minakjinggo yang ditampilkan secara teatrikal pada seni Janger ini bersumber dari kesenian Langendriya dari lingkungan keraton Yogyakarta.

 Seni Janger Banyuwangi yang diciptakan sekitar abad ke-19 oleh seorang pedagang yang berasal dari Banyuwangi selama masa pandemi Covid-19 banyak mengalami tekanan masa pandemi.

Banyak para pemain Janger Banyuwangi yang harus kehilangan pekerjaan seni pertunjukkannya sebagai konsekuensi dari pembatasan sosial.

Akibatnya banyak pekerja seni yang mengalami masalah keuangan. Hal ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi industri seni pertunjukkan yang selama ini menjadi penyumbang pemasukan negara dalam sektor pariwisata.

Transformasi  Budaya

Tak bisa dipungkiri jika pandemi Covid -19 ini menjadi pukulan keras bagi sektor kesenian. Banyak para pelaku aktivitas kesenian di Indonesia yang selama ini bergantung pekerjaan seni merasakan dampak seriusnya.

Banyak seniman dan budayawan tradisonal yang lebih memilih untuk menunda dan membatalkan seni pertunjukkannya karena aturan pembatasan sosial demi kedisiplinan dalam menaati protokol kesehatan  pencegahan Covid-19. 

Meski ada yang menunda pertunjukkan tapi tak sedikit pula yang memilih untuk menyiasatinya dengan menggelar pertunjukkan atau pameran dalam bentuk virtual.  

Siasat baru yang terlihat  cukup menjanjikan bagi para para penggiat seni yang sangat haus dengan seni pertunjukkan.

Tapi pertunjukkan virtual ini seperti tidak dapat menggantikan secara penuh pementasan seni pertunjukkan yang dilakukan secara langsung.

Esensi datang ke sebuah festival tidak dapat digantikan dengan cara login ke sebuah sosial media lalu menggerakkan kursor dan kemudian menyaksikan gelaran sebuah seni pertunjukkan. Tidak ada yang dapat menggantikan physical experience saat datang berkunjung ke sebuah pameran, lokakarya, ataupun sebuah pertunjukan seni. Secanggih dan mutakhirnya apapuin teknologi yang digunakan akan lebih menyenangkan jika pertunjukan acara seni budaya tersebut dilakukan secara langsung. 

 Namun, pemerintah juga tak bisa lepas tangan dalam mensikapi dampak Covid-19 yang faktanya telah menghilangkan kerja para pelaku aktivitas seni pertunjukkan dalam mendapatkan uang.

Banyak orang–orang yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor seni harus terdesak secara ekonomi karena tidak masuknya uang pementasan secara normal.

Meski ada rasa pesimisme yang begitu tinggi,para pelaku seni Indonesia tampaknya mulai beradaptasi dengan situasi pelik semacam ini, para seniman mau tak mau dituntut untuk kreatif mencari peluang baru. Salahsatunya dengan pengembangan segmentasi pasar wisata digital. Keberadaan platform digital seperti Youtube dan Instagram menjadi kunci mendorong lahirnya sumber pemasukan baru industri pariwisata Bali.

Konten Youtube yang memuat pariwisata lokal dengan eksplorasi mendalam menjadi hal baik bagi kita optimalisasikan saat ini. Apalagi peningkatan subscriber yang besar akan mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar pula.

Konsekuensi pandemi faktanya telah benar – benar mengubah pandangan konsep wisata seni pertunjukkan yang selama ini termasuk seni pertunjukkan tradisional Janger Banyuwangi yang selama ini nyaman dengan semarak acara festival pertunjukkan secara langsung.Menyaksikan tontonan seni pertunjukkan berbayar dapat menjadi bagian penting dalam upaya penyelamatan kehidupan seni Janger Banyuwangi.

Ekosistem Pelaku Seni

 Eksplorasi foto dan tontonan platform digital resmi berbayar akan menjadi langkah efektif sebelum industri  seni pertunjukkan dapat berjalan secara normal.

Dengan menonton platform digital wisata berbayar, secara langsung setiap orang dapat berkontribusi besar bagi kelangsungan seni Indonesia.

Pada sisi lain sektor pendukung  seperti layanan aplikasi online jasa sewa kostum juga dapat dioptimalisasikan.Karena melalui jasa seni lainnya dapat turut mendorong pemulihan ekonomi para pelaku seni pertunjukkan.

Baru–baru ini pemerintahmelalui Kementeriaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf)telah memastikan jika aktivitas seni pertunjukan dipastikan akan bisa kembali digelar pada masa pandemi Covid-19.

Namun penyelenggaraan akan disesuaikan berdasarkan status kawasan, yakni zona hijau, kuning, dan merah. Hal itu telas secara resmi disampaikan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. (3 Maret 2021).

Dalam implementasinya, seni pertunjukan akan dilakukan secara bertahap siring dengan menurunnya kasus Covid-19 nasional. Gagasan ini sebelumnya juga disampaikan Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda terkait pembukaan kembali seni pertunjukan pasca-pandemi Covid-19.     

Pembukaan kembali seni pertunjukan diyakini Sandiaga telah lama ditunggu para pelaku ekonomi kreatif, termasuk dalamnya pelaku industri kreatif, pelaku seni pertunjukan, musisi, aktor, hingga kru pertunjukan.

Namun, ia menegaskan penangangan Covid-19 merupakan hal utama diatas semua kepentingan. Maka dari itu, pemerintah akan mensiasati pelaksanaan seni pertunjukan berdasarkan status kawasan.

Nantinya, kawasan zona merah akan terlarang untuk menggelar seni pertunjukan. Sedangkan kawasan yang berstatus zona kuning akan diterapkan kegiatan berkonsep hybrid, yakni pertunjukan langsung yang dikombinasikan dengan virtual. Sementara zona hijau akan diperkenankan untuk digelar seni pertunjukan dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan ketat dan disiplin. Usulan ini pun telah disampaikan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam beberapa waktu lalu. 

Dalam rapat koordinasi sebelumnya, Kemenparekraf dan Polri tengah menyusun panduan pelaksanaan seni pertunjukan merujuk pada protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.

Selain itu, dalam pelaksanaannya nanti juga seni pertunjukan harus sejalan dengan panduan CHSE meliputi, kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan pelestarian lingkungan.Dengan adanya pembukaan serta penyelenggaraan kembali acara-acara tersebut akan bisa menggairahkan ekonomi rakyat tanpa menimbulkan risiko baru peningkatan kasus Covid-19.

Upaya sadar membangkitkan kembali ekonomi, terutama untuk memulihkan pariwisata dan merestorasi ekonomi kreatif nasional jelas akan memberi energi baru bagi semua pelaku seni pertunjukkan di Indonesia, terutama sekali bagi para pelaku seni Janger Banyuwangi.

Penulis adalah Dosen IAIN Tulungagung dan Budayawan Banyuwangi